Rupiah Melemah Pagi Ini Meski Data Inflasi AS Mereda
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 10 poin ke level 14.873 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Namun, analis memperkirakan kurs garuda bisa menguat hari ini setelah data inflasi AS mengindikasikan tekanan harga mereda dan The Fed berpeluang menahan suku bunga acuannya tadi malam.
Mengutip Bloomberg, rupiah terus melemah ke arah 14.876 pada pukul 09.25 WIB, atau terkoreksi 0,09% dari posisi penutupan kemarin.
Beberapa mata uang Asia lainnya yang terkoreksi pagi ini. Won Korea Selatan melemah 0,28%, ringgit Malaysia 0,13%, dolar Taiwan 0,07% dan peso Filipina 0,06%. Sebaliknya, mata uang lainnya seperti baht Thailand, dolar Singapura dan Hong Kong, rupee India, yuan Cina dan yen Jepang menguat.
Rupiah diramal menguat hari ini setelah inflasi konsumen AS melanjutkan penurunan. Analis PT Sinarmas Futures memperkirakan, rupiah akan menguat ke arah 14.830, dengan potensi resisten di kisaran 14.880 per dolar AS.
Inflasi konsumen AS pada Mei yang dirilis semalam tercatat 4% dibandingkan tahun lalu. Ini merupakan inflasi tahunan terendah selama dua tahun terakhir dan melanjutkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya 4,9%.
Data ini mengindikasikan tekanan harga di AS semakin mereda dan makin memperkuat ekspektasi bank sentral AS, The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuannya hari ini. Ekspektasi pasar yang tercermin dari data CME Group menunjukkan probabilitas The Fed menahan suku bunga telah naik ke 94%, dari pekan lalu masih di 78%.
"Namun demikian, menjelang event besar seperti The Fed, pergerakan rupiah mungkin tidak besar, pasar juga wait and see menunggu hasil dini hari nanti," kata Ariston dalam catatannya pagi ini, Rabu (14/6).
Analis pasar uang Lukman Leong juga melihat peluang penguatan rupiah setelah pasar mulai masuk ke aset berisiko usai rilis data inflasi AS. Namun rupiah akan menguat terbatas di rentang 14.800-14.900 per dolar AS.
"Investor mata uang masih cenderung wait and see menjelang pertemuan pembuat kebijakan The Fed malam ini," kata Lukman.
