Rupiah Loyo ke Level 15.000 Menanti Data Cina dan Neraca Dagang RI
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 15.000 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Senin (17/7). Kurs rupiah melemah di tengah penantian pasar terhadap arah suku bunga The Federal Reserve dan data terbaru pertumbuhan ekonomi Cina pada kuartal II yang akan segera dirilis.
Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 46 poin ke level Rp 15.005 per dolar AS. Mayoritas mata uang Asia juga memguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,51%, yuan Cina 0,3%, rupee India 0,12%, peso Filipina 0,03%, dolar Taiwan 0,42%, dan baht Thailand 0,04%. Sementara yen Jepang menguat 0,12%, dolar Hong Kong 0,06%, dan won Korea Selatan 0,07%.
Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra menjelaskan, penguatan rupiah yang berlangsung pekan lalu tertahan pada hari ini karena fokus pasar yang menunggu pengumuman suku bunga AS pekan depan. Menurut survei CME FedWatch Tool, terdapat probabilitas lebih dari 96% bahwa suku bunga acuan AS akan dinaikan 25 basis poin, menurut survei CME FedWatch Tool.
Selain itu, menurut dia, data ekonomi AS pada Jumat malam pekan lalu juga menunjukkan bahwa tingkat keyakinan konsumen AS masih tinggi terhadap perekonomian dan ini bisa mendorong kenaikan inflasi.
"Data ekonomi Cina pagi ini yaitu data produksi industri dan pertumbuhan PDB kuartal kedua bisa menjadi penggerak pasar. Rupiah bisa terbantu menguat bila data-data ekonomi Cina tersebut lebih bagus dari ekspektasi, di tengah perkiraan pelambatan ekonomi Cina," kata Ariston dihubungi Katadata.co.id.
Sementara dari dalam negeri, menurut dia, pasar akan memperhatikan data neraca perdagangan bulan Juni yang akan dirilis Badan Pusat Statistik hari ini. Jika surplus perdagangan lebih tinggi dari perkiraan, menurut dia, hal tersebut dapat mendorong rupiah menguat.
"Potensi pelemahan ke arah resistance Rp 14.980- Rp15.000 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp 14.930 per dolar AS," ujarnya.
Sementara itu, analis pasar uang Lukman Leong juga memperkirakan rupiah akan melemah tertekan oleh penguatan dolar AS. Mata uang Negara Adidaya tersebut menguat terhadap mata uang utama lainnya didorong oleh data sentimen konsumen yang lebih kuat pada hari Jumat.
Ia melihat, investor akan mengalihkan fokus pada ekonomi di Asia terutama dari Cina dengan rilis data PDB kuartal II. "Sementara dari domestik, data perdagangan yang diperkirakan akan menunjukkan surplus namun penurunnan pada ekspor dan impor. Rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp 14.900 - Rp 15.000 per dolar AS," kata dia.
