Survei KIC: Kelas Menengah Bertahan dari Makan Tabungan dan Kerja Sampingan

Dini Hariyanti
Oleh Dini Hariyanti - Tim Publikasi Katadata
18 Februari 2025, 11:59
Peluncuran survei Kelas menengah di IDE 2025
Katadata

Ringkasan

  • Proporsi kelas menengah Indonesia menurun, dari 57,3 juta pada 2019 menjadi 47,9 juta pada 2024, meskipun perilaku finansial mereka positif.
  • Kelas menengah mengalokasikan 19,3% penghasilan mereka untuk tabungan, terutama untuk dana darurat, dan 76,3% menggunakan tabungan untuk memenuhi pengeluaran yang melebihi pendapatan.
  • Kekhawatiran ekonomi memengaruhi persepsi kelas menengah tentang kebutuhan hidup seperti pendidikan, kesehatan, dan hunian, serta mendorong mereka mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan.
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Proporsi kelas menengah di Indonesia berada di titik terendah sejak 2019. Alih-alih menuding turun kasta disebabkan perilaku keuangan mereka, laporan Katadata Insight Center (KIC) justru menemukan, kelas menengah sebetulnya menunjukkan perilaku keuangan yang positif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penduduk kelas menengah turun dari 57,3 juta orang (2019) menjadi 47,9 juta orang (2024). KIC menyatakan, semestinya proporsi kelas menengah tumbuh beriringan dengan tren laju PDB.

Direktur Riset KIC Gundy Cahyadi menuturkan, pascapandemi Covid-19, meskipun laju PDB menunjukkan pemulihan tetapi pertumbuhan kelas menengah tertahan.

“Diperlukan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat untuk meningkatkan persentase kelas menengah,” katanya di dalam Indonesia Data and Economic Conference (IDE) Katadata 2025, di Jakarta, Selasa (18/2).

Guna memotret lebih komprehensif terkait; bagaimana warga kelas menengah menyiasati kehidupan sehari-hari, KIC merilis kajian khusus. Laporan ini merupakan publikasi perdana dari beberapa seri yang akan dirilis mendatang.

Survei KIC bertajuk Kelas Menengah Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi bukan menjawab pertanyaan, “apa yang menyebabkan penyusutan kelas menengah?”. Riset ini fokus mengeksplorasi kebutuhan dan persepsi kelas menengah yang mungkin berubah dalam menghadapi dinamika yang ada.

KIC mengadakan survei secara daring dengan menargetkan responden di 10 kota besar di Indonesia. Survei ini melibatkan 472 responden, dilaksanakan pada 6-9 Januari 2025.

Gundy menjelaskan, mengutip Susenas yang diolah KIC, pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan keperluan rumah tangga terus meningkat. Tapi pengeluaran untuk barang tahan lama, yang menjadi indikator daya beli, justru turun. 

Kondisi tersebut mengindikasikan kelas menengah harus mendahulukan kebutuhan dibandingkan dengan keinginan. Dan yang pasti, pengeluaran kebutuhan dasar membebani masyarakat di segmen ini.

Survei KIC mencatat, faktor ekonomi dan finansial merupakan aspek yang paling dikhawatirkan kelas menengah. Ini tampak dari temuan berupa tingginya pos pengeluaran untuk kebutuhan dasar sehingga alokasi investasi dan kebutuhan lain terbatas.

“Kondisi ini (besarnya alokasi kebutuhan dasar) menggambarkan kerentanan mereka terhadap guncangan ekonomi, seperti inflasi atau kenaikan biaya hidup, yang dapat semakin mempersempit sisa pendapatan mereka,” ujar Gundy.

Bertahan Hidup dari Makan Tabungan

Survei KIC menemukan fakta bahwa perilaku finansial kelas menengah sebetulnya cukup positif. Sebanyak 70 persen responden melakukan perencanaan keuangan. Lebih detil, satu dari dua responden memisahkan anggaran untuk tagihan dan keperluan harian. Dan, lebih dari 40 persen responden mencatat pengeluarannya. 

Perilaku positif juga tercermin saat kelas menengah mengalami pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Mayoritas responden (76,3 persen) memilih untuk menggunakan tabungan alias “makan tabungan”.

Artinya, hanya sebagian kecil yang memilih opsi-opsi pinjaman berbunga (masing-masing kurang dari 15 persen). Perilaku ini menunjukkan pengelolaan keuangan yang tergolong baik, lantaran mereka cenderung menghindari utang dan lebih mengandalkan cadangan keuangan pribadi untuk bertahan hidup.

“Kelas menengah mengalokasikan 19,3 persen penghasilan untuk tabungan. Sebagian besar berencana menggunakan tabungan ini sebagai dana darurat,” tutur Gundy.

Sementara itu, imbuhnya, alokasi anggaran untuk tujuan jangka panjang atau perencanaan masa depan relatif masih rendah. Pada dasarnya, perencanaan keuangan jangka panjang memang belum menjadi prioritas bagi kelas menengah. 

Di sisi lain, demi memenuhi biaya hidup maka kelas menengah menjalankan pekerjaan sampingan. KIC mencatat, hampir 50 persen masyarakat di segmen ini memiliki pekerjaan sampingan alias side hustle. 

Ada tiga alasan terbanyak yang melatarbelakangi mereka menekuni pekerjaan sampingan, yaitu untuk menambah pendapatan (70,6 persen), meningkatkan tabungan (42,2 persen), dan mencapai tujuan finansial (30,7 persen). Perkara passion justru tak masuk di dalam top 3 ini.

Gundy juga menekankan, kekhawatiran tentang perekonomian berpengaruh besar terhadap cara pandang kelas menengah soal kebutuhan hidup.

“Kekhawatiran ini terkesan menjadi faktor utama yang menentukan perspektif kelas menengah tentang keperluan pendidikan, kesehatan, dan hunian,” kata dia. 

Catatan saja, fenomena turun kasta masyarakat kelas menengah di Indonesia dibarengi dengan stagnasi warga kelas atas. Pada saat bersamaan, kelompok menuju kelas menengah justru mengalami peningkatan. 

Mengutip BPS, kelompok menuju kelas menengah meningkat dari 128,9 juta orang (2019) menjadi 137,5 juta orang (2024). Demikian pula kelompok miskin, meningkat dari 25,1 juta orang (2019) menjadi 25,2 juta orang (2024).

Kelas menengah berperan krusial secara ekonomi maupun nonekonomi. Segmen kelas menengah dan menuju kelas menengah merupakan penggerak utama ekonomi. Mereka menyumbang 82,3 persen dari total konsumsi rumah tangga per 2023.

Pertumbuhan jumlah kelas menengah dapat mencerminkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga berdampak terhadap perekonomian yang semakin kuat.

Diskusi soal kelas menengah Indonesia ini dibahas lebih mendalam melalui survei KIC yang dirilis dalam IDE Katadata 2025.

IDE merupakan forum diskusi yang mengangkat berbagai topik seperti pangan, industri, digital, keuangan dan energi. Masing-masing sesi menghadirkan pembicara ahli dan digawangi oleh moderator berpengalaman

Sejak diadakan pada 2019, forum ini berhasil menghadirkan pembicara berkualitas dari kalangan pejabat publik, pemimpin bisnis serta tokoh dan pembicara internasional.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...