Kebijakan Tarif Impor Trump Berisiko Besar Memicu Resesi Ekonomi AS
Resesi global kemungkinan besar akan terjadi pada tahun ini akibat kebijakan tarif impor yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (3/4). JP Morgan menaikkan proyeksi mereka terkait potensi resesi ekonomi AS pada tahun ini dari sebelumnya 40% menjadi 60%.
Mengutip Wall Street Journal, tarif pembalasan oleh negara lain, melemahnya sentimen bisnis di AS, dan gangguan rantai pasokan akan memperburuk keadaan. Skenario di mana AS memasuki resesi tetapi negara-negara lain di dunia tidak mengalaminya juga mungkin terjadi, meski kecil kemungkinannya.
JP Morgan menghitung, rata-rata tarif impor AS akan naik 20%. Ekonom Bruce Kasman mencatat, kenaikan tarif ini adalah yang tertinggi sejak 1968. Pembuat Jeep Stellantis telah menghentikan produksi di pabrik perakitan mobilnya di Meksiko dan Kanada.
Lebih dari 100 negara akan dikenakan tarif, termasuk Indonesia sebesar hingga negara-negara kecil seperti Fiji sebesar 32% dan negara-negara ekonomi miskin seperti Haiti 10%. Negara-negara kecil dan miskin kemungkinan akan menjadi pihak yang paling sulit masuk antrian untuk menegosiasikan tarif yang lebih rendah dalam waktu dekat.
Mengutip CBS, para ekonom telah memberikan peringatan terkait dampak tarif yang luas, yang akan mempercepat inflasi dan melemahkan pertumbuhan ekonomi AS. Itu karena tarif yang ditetapkan oleh Trump akan dibayarkan oleh para pelaku bisnis di Amerika yang mengimpor barang dan bahan dari negara lain, dan mereka kemungkinan akan membebankan sebagian atau semua biaya tersebut kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi.
Mereka pun memperkirakan, inflasi kemungkinan akan kembali terjadi, yang dapat menyebabkan beberapa rumah tangga AS menahan pengeluarannya. Belanja konsumen menyumbang sekitar 70 sen dari setiap US$1 PDB sehingga pertumbuhan ekonomi AS berpotensi melambat.
Kondisi-kondisi tersebut dapat menciptakan "stagflasi," gabungan dari "stagnasi" dan "inflasi" yang menggambarkan periode ketika pertumbuhan ekonomi tersendat bahkan ketika harga-harga tetap sangat tinggi.
Apa itu resesi ekonomi?
Resesi ekonomi adalah penurunan yang mencakup sedikitnya dua kuartal berturut-turut pertumbuhan negatif produk domestik bruto sebuah negara. Kebijakan tarif Trump dinilai memicu resesi ekonomi AS.
Kepala Ekonom Moody's Analytic Mark Zandi menilai, resesi ekonomi AS maupun global berpotensi terjadi jika tarif baru AS memicu tindakan pembalasan dari negara lain. Ia memperkirakan, resesi AS kemungkinan akan mengurangi PDB sebesar 2% dan meningkatkan pengangguran tahun depan menjadi 7,5%, naik dari tingkat saat ini sebesar 4,1%.
Namun, Zandi melihat kemungkinan skenaro itu terjadi hanya 15%. Jika pemerintahan Trump menurunkan beberapa tarif dan menawarkan pengecualian untuk beberapa produk atau negara, risiko resesi akan lebih ringan, dengan pengangguran mencapai puncaknya pada 5,5%,.
Meski banyak ekonom mengemukakan kemungkinan terjadinya resesi, mereka juga mengatakan perekonomian tetap relatif kuat, dengan pengangguran rendah dan pertumbuhan stabil. Banyak hal bergantung pada apakah pemerintahan Trump akan tetap mempertahankan tarifnya atau melonggarkan beberapa kebijakan.
Mengutip The Conversation, Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan tarif Trump dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,5% hingga tahun depan, yang merupakan hal yang signifikan. Tetapi, ia juga percaya bahwa resesi global tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Meski begitu, dampak ekonomi dari tarif ini sangat tidak pasti dan tidak dapat diprediksi. Dampaknya akan bervariasi dari satu negara ke negara lain, dan banyak hal akan bergantung pada berapa lama tarif dikenakan, bagaimana negara lain menanggapinya, dan bagaimana perusahaan mengelola tarif dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.
