Bagaimana Kebijakan Tarif Impor Trump Bisa Memicu Gejolak Rupiah?

Agustiyanti
4 April 2025, 17:29
rupiah, rupiah melemah, rupiah menguat, tarif trump
Katadata/Fauza Syahputra
Kurs rupiah pada perdagangan hari ini telah berbalik menguat 0,56%, ditutup di level 16.652 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga ke level 16.756 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada kemarin, Kamis (3/4). Rupiah jeblok di tengah libur panjang Lebaran usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor, termasuk ke Indonesia mencapai 32%.

Kurs rupiah pada perdagangan hari ini telah berbalik menguat 0,56%, ditutup di level 16.652 per dolar AS. Namun, ada potensi kembali bergejolak jika kebijakan tarif trump yang mencapai 32% atas barang-barang Indonesia benar-benar dieksekusi. 

Mengapa kebijakan tarif impor AS dapat memicu gejolak rupiah?

Ketua Kamar Dagang Indonesia Anindya Bakrie menilai, rencana AS mengenakan tarif impor sebesar 32% atas barang-barang Indonesia akan berdampak signifikan pada neraca pembayaran Indonesia jika benar-benar dieksekusi.  Kondisi ini terutama berdampak pada neraca perdagangan dan arus investasi yang menjadi komponen dalam neraca pembayaran. 

"AS merupakan pemasok valuta asing terbesar, yang menyumbang surplus perdagangan sebesar US$ 16,8 miliar pada 2024," ujar Anindya dalam keterangan resmi dikutip Jumat (4/4).

Surplus perdagangan dengan AS merupakan yang terbesar dan mencapai lebih dari separuh dari total surplus neraca perdagangan pada 2024 yang mencapai US$ 31,04 miliar.  Adapun surplus neraca perdagangan memberikan andil besar pada neraca pembayaran 

Kebijakan tarif Trump juga berdampak pada pergerakan dana investasi, baik portofilio maupun foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung. 

Mengutip laman Bank Indonesia, neraca pembayaran adalah laporan statistik yang mencatat secara sistematis transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dengan bukan penduduk dalam periode tertentu. Transaksi ini mencakup perdagangan barang dan jasa, pendapatan, transfer, serta transaksi keuangan seperti investasi langsung dan portofolio.

Perubahan dalam neraca pembayaran dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah melalui mekanisme penawaran dan permintaan valuta asing. Kondisi neraca pembayaran yang surplus berarti permintaan terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya lebih sedikit dibandingkan penawaran, sedangkan kondisi defisit pada neraca pembayaran dapat diartikan sebaliknya.

Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani memproyeksikan, kebijakan Trmp tersebut akan semakin menekan nilai tukar rupiah dari proyeksi dalam APBN sebesar 16.000 per dolar AS menjadi di atas 17.000 per dolar AS.

“Selain memberikan sentimen negatif terhadap sektor swasta, keuangan negara dan kebijakan fiskal juga akan mengalami tekanan karena sebagian utang dalam bentuk dolar,” kata Ajib ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (3/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...