Indonesia Perlu Siapkan Rp 578 Triliun untuk Penuhi Kesepakatan dengan Trump
Indonesia perlu mempersiapkan Rp 578 triliun untuk memenuhi kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang diajukan Presiden Donald Trump. Kesepakatan itu di antaranya mencakup impor produk migas dari AS senilai US$15 miliar, 50 unit pesawat Boeing, dan produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar.
"Jika dirupiahkan maka jumlahnya senilai Rp 578 triliun," kata Ekonom Universitas Paramadina, Didin Damanhuri, saat mejadi pembicara dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk Deal Tarif Dagang Trump - Prabowo: Siapa Untung dan Apa Dampaknya?" di kantor Katadata, Jakarta, Kamis (24/7).
Seperti diketahui sebelumnya, pembelian produk-produk AS tersebut merupakan salah satu kesepakatan dagang Indonesia dan AS. Tujuannya untuk mengatasi defisit perdagangan yang dialami AS dengan Indonesia. Kesepakatan itu juga membuat tarif impor produk Indonesia ke AS diturunkan dari 32% menjadi 19%.
Menurut Didin, pemerintah perlu mewaspadai agar syarat tarif 19% tersebut tidak membebani APBN. Selain itu, perlu juga dikaji kesiapan Garuda Indonesia dalam membeli 50 pesawat Boeing.
"Apakah Garuda reasonable membeli 50 Boeing?" ujarnya.
Didin juga menyoroti kesepakatan impor energi yang semuanya tergolong energi kotor. Hal itu bertentangan dengan rencana Prabowo dan pemerintah yang ingin menyiapkan transisi ke energi hijau.
Menurut Didin, kesepakatan impor tersebut perlu mempertimbangkan dampak terhadap masyarakat secara umum. "Yang paling diuntungkan ya importir, tapi apakah (kesepakatan itu) bisa related dengan NTP, daya beli masyarakat, dan juga
Menanggapi hal itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Mochamad Firman Hidayat, mengatakan kesepakatan impor tersebut tidak akan membebani APBN. Pasalnya, impor produk AS tersebut akan dilakukan oleh swasta.
Firman mengatakan, pemerintah sudah melakukan kajian terhadap kesepakatan dengan AS. Meskipun impor dari negeri Paman Sam dikenakan tarif 0%, namun hal itu tidak akan minim dampaknya pada industri dalam negeri. Pasalnya, saat ini sebanyak 40% komoditas yang diimpor dari AS memang sduah berlaku tarif 0%.
Selain itu, Firman mengatakan, pembelian pesawat Boeing juga sebenarnya sudah dilakukan diinisiasi oleh Garuda Indonesia sebelum negosiasi dengan AS berlangsung.
"Begitu juga dengan energi, itu tidak menambah impor, tapi shifting impor dari negara lain ke AS," ujarnya.
