Rupiah Tertekan Kebijakan Menkeu Alirkan Rp 200 Triliun ke Bank
Rupiah diproyeksikan masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Analis pasar keuangan Ariston Tjendra menilai hal ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menambah likuiditas perbankan.
Pemerintah baru saja menempatkan dana negara sekitar Rp 200 triliun di Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara dan Bank Syariah Indonesia atau BSI. Langkah ini membuat imbal hasil obligasi Indonesia menurun, sehingga aset rupiah menjadi kurang menarik.
“Ini membuat aset rupiah tidak lebih menarik sehingga menjadi tekanan untuk nilai tukar rupiah,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (24/9).
Meski begitu, Ariston mengungkapkan Bank Indonesia atau BI tetap berkomitmen menjaga nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi. Menurut dia, hal ini bisa menahan laju pelemahan rupiah.
“Potensi pelemahan ke arah Rp 16.700 per dolar AS dengan batas bawah Rp 16.600 per dolar AS,” ujar Ariston.
Dari sisi global, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kondisi ekonomi Amerika Serikat masih akan memengaruhi pergerakan rupiah. Namun, ia menyebut kondisi ini justru bisa menjadi peluang bagi rupiah untuk kembali menguat.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data menunjukkan sentimen manufaktur di AS yang turun tajam,” kata Lukman.
Lukman menambahkan, pernyataan Gubernur Federal Reserve alias The Fed Michelle Bowman tentang kebijakan longgar membebani dolar AS. Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell secara terpisah mengatakan dukungan pemangkasan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
“Rupiah diperkirakan berada di level Rp 16.550 per dolar AS hingga Rp 16.650 per dolar AS,” ujar Lukman.
