Tensi Perang Dagang AS-Cina Reda, Rupiah Berpeluang Menguat

Rahayu Subekti
14 Oktober 2025, 09:51
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen m
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sg
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan hal ini dipicu dengan meredanya tensi perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS).

Presiden AS Donald Trump berencana menemui Presiden Cina Xi Jinping di Korea Selatan untuk meredakan sengketa perdagangan keduanya.

“Rupiah diperkirakan menguat dan berada di level 16.500 per dolar AS hingga 16,600 per dolar AS,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Selasa (14/10).

Lukman menambahkan, rupiah juga didukung oleh naiknya prospek pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS alias The Fed. Hal ini setelah komentar dovish dari Kepala The Fed Philadelphia Anna Paulson yang mengantisipasi pemangkasan suku bunga lebih besar kedepannya.

“The Fed juga melihat ancaman inflasi dari tarif tidak sebesar yang dikhawatirkan,” ujarnya.

Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka menguat pada level Rp 16.565 per dolar AS. Level ini menguat delapan poin atau 0,05% dari penutupan sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.5 per dolar AS hingga Rp 16.625 per dolar AS.

Josua mengungkapkan sebelumnya kekhawatiran perang dagang masih menekan pergerakan rupiah. Hal ini muncul setelah ancaman Trump untuk memberlakukan tarif tambahan dan pembatasan ekspor terhadap Cina.

Trump dan pemerintahannya memberikan sinyal kemungkinan melanjutkan negosiasi perdagangan dengan China. “Ini meredakan kekhawatiran akan eskalasi sengketa perdagangan,” kata Josua. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...