Mendagri Minta BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Tiap Bulan, Ini Alasannya
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengubah skala pelaporan pertumbuhan ekonomi dari kuartalan menjadi bulanan. Selama ini, BPS selalu mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi setiap tiga bulan sekali.
“Tadinya (pertumbuhan ekonomi) per tiga bulanan, saya minta kepada BPS, sama seperti inflasi per sebulanan,” ujar Tito dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia and Indonesia Fintech Summit and Expo 2025 Day 2, Jumat (31/10).
Tito mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti untuk menyusun rumusan agar pengumuman pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan tiap bulan. Ia menilai, data bulanan akan membantu pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi ekonomi secara lebih cepat.
“Sekarang sudah keluar rumusnya, per sebulan sekali. Kita akan bisa petakan, dan saya bisa nyampaikan ke daerah,” kata Tito.
Menurut Tito, penting bagi pemerintah daerah untuk memahami bahwa data nasional dari BPS merupakan agregat dari seluruh daerah. Dengan adanya data bulanan, pemerintah bisa memantau lebih detail daerah mana yang mengalami pertumbuhan tinggi maupun yang justru mengalami kontraksi.
“Daerah mana saja yang pertumbuhannya tinggi, mana yang minus. Yang kita genjot dan cari penyebabnya,” tegasnya.
BPS terakhir kali mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12% secara tahunan (year on year). Meski data itu bersifat kuartalan, hasilnya baru dirilis pada 5 Agustus 2025. Sementara, pengumuman untuk pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 dijadwalkan pada 5 November 2025.
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2025 kemungkinan akan sedikit melambat.
“(Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025) mungkin lebih rendah sedikit, mungkin karena ada ribut-ribut,” ujar Purbaya di Gedung Kementerian Keuangan, Selasa (29/10).
Ia merujuk pada aksi demonstrasi dan kerusuhan yang meluas pada akhir Agustus 2025, yang disebut turut menekan aktivitas ekonomi di sejumlah daerah. Kendati demikian, Purbaya tetap optimistis kondisi ekonomi nasional akan membaik pada kuartal IV 2025.
“Yang paling penting kuartal keempat, produksi ekonomi di atas 5,5%. Itu yang paling penting, bahwa ekonominya sudah berubah,” katanya.
