Cadangan Devisa RI Naik jadi US$ 149,9 Miliar, Ditopang Penerbitan Global Bond

Rahayu Subekti
7 November 2025, 10:53
cadangan devisa
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tertuang dalam asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bisa dicapai dengan sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2025 mencapai US$ 149,9 miliar atau setara Rp 2.504,3 triliun (kurs Rp 16.707 per dolar AS). Angka ini meningkat dibandingkan posisi pada akhir September 2025 yang sebesar US$ 148,7 miliar atau Rp 2.483,1 triliun.

“Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerbitan global bond pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Denny Prakoso, dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (7/11).

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan telah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang asing dolar Australia (AUD) pada 7 Agustus 2025. Instrumen yang juga dikenal sebagai Kangaroo Bond itu diterbitkan dalam format Australia’s Medium Term Notes senilai AUD 800 juta.

Terbaru, pemerintah juga menerbitkan SUN dalam mata uang Chinese Renminbi (CNH) atau Dim Sum Bonds. Ini menjadi penerbitan global bond pertama Indonesia dengan format SEC Shelf Registered senilai CNH 6 miliar.

Denny menjelaskan, peningkatan cadangan devisa juga didukung oleh penerimaan pajak dan jasa. Kondisi ini terjadi di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang ditempuh Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Setara Pembiayaan 6,2 Bulan Impor

Menurut Denny, posisi cadangan devisa per akhir Oktober 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Denny.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat, ditopang oleh prospek ekspor yang terjaga dan arus masuk penanaman modal asing yang diperkirakan terus berlanjut. Hal ini sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik dan imbal hasil investasi yang menarik.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Denny.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...