MBG Jadi Sorotan Moody's saat Pangkas Outlook RI, Ini Kata Purbaya

Ade Rosman
6 Februari 2026, 15:27
purbaya, moodys, peringkat utang
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal terkait keputusan Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Moody’s, antara lain menyoroti program Makan Bergisi Gratis atau MBG hingga Danantara.

“Ya, biar saja seperti itu. Yang jelas kan ekonomi kita sudah berbalik arah. Lebih cepat dari sebelumnya. Kedepan akan membaik juga,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (6/2).

Purbaya yakin, Moody's nantinya akan membuat keputusan yang lebih adil setelah melihat program yang dijalankan pemerintah berhasil membuat ekonomi Indonesia tumbuh lebih cepat. 

“Pelan-pelan keraguan mereka akan hilang,” kata dia. 

Purbaya juga meyakinkan bahwa pemerintah selalu patuh dalam membayar utang, yang sebenarnya merupakan risiko yang dinilai oleh lembaga tersebut. Karena itu, ia mengaku tak khawatir dengan dampak dari pengumuman Moody's. Dampaknya terhadap aliran modal asing hanya bersifat jangka pendek.

“Ini saya pikir hanya jangka pendek saja, ya. Kalau orang yang penakut ya akan takut,” kata dia. 

Ia juga memastikan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni MBG akan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

“Itu yang akan saya lihat nanti. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin juga khawatir di situ,” katanya.

Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings Kamis (5/2) kemarin menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Pemangkasan outlook itu salah satunya dipicu kekhawatiran terhadap pembentukan badan pengelola dana kekayaan negara, Danantara. 

Moody’s menilai struktur tata kelola, skema pembiayaan, serta prioritas investasi Danantara belum jelas. Dalam pengumumannya, Moody’s juga menjelaskan perubahan outlook Indonesia menjadi negatif di tengah upaya pemerintah mempercepat pertumbuhan ekonomi.  

Menurut Moody’s, dalam setahun terakhir terjadi penurunan prediktabilitas dan kohesi dalam proses pengambilan kebijakan, disertai komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor, tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar saham dan valuta asing.  

Perkembangan tersebut juga sejalan dengan penurunan skor Indonesia dalam indikator tata kelola global, khususnya terkait efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Menurut Moody’s, apabila kondisi ini terus berlanjut, melemahnya kekompakan dan kredibilitas kebijakan bisa menunjukkan turunnya kekuatan institusi pemerintah. Dampaknya, ekonomi dan keuangan negara bisa terganggu karena minat investor menurun dan biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Selain itu, Moody’s juga menyoroti ekspansi program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sampai sejauh ini, program-program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu dibiayai melalui realokasi dan pemangkasan belanja kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Ekspansi lanjutan program-program tersebut dinilai dapat menekan fleksibilitas anggaran negara.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...