Rupiah Diproyeksikan Melemah Imbas Ketidakpastian Pasokan Minyak Mentah

Image title
12 Maret 2026, 09:31
Rupiah, dolar as,
ANTARA
Rupiah Menguat Terhadap Dolar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah melemah 0,01% terhadap dolar Amerika Serikat menjadi Rp 16.899 per US$, berdasarkan data Bloomberg pada Kamis pagi (12/3). Analis memperkirakan mata uang Garuda merosot sepanjang hari ini.

Walaupun data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah mulai menguat ke level Rp 16.884 per dolar AS hingga pukul 09.15 WIB. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembalinya kekhawatiran seputar disrupsi pasokan minyak mentah dunia,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3).

Lukman mengatakan, harga minyak mentah dunia kembali melonjak walau ada harapan dukungan dari rencana pelepasan cadangan minyak besar-besaran oleh anggota-anggota Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA). 

IEA menyetujui pelepasan cadangan 400 juta barel minyak untuk mengatasi gangguan pasokan yang dipicu oleh perang di Iran. Ini merupakan langkah terbesar dalam sejarah organisasi itu.

Badan Energi Internasional tidak menetapkan jadwal cadangan minyak tersebut akan dilepaskan ke pasar. IEA hanya menyatakan cadangan akan dilepaskan dalam jangka waktu yang sesuai dengan kondisi masing-masing dari 32 negara anggotanya.

Anggota IEA sebagian besar merupakan negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini bertugas menjaga keamanan energi global. IEA didirikan pada 1974 sebagai respons terhadap embargo minyak yang diberlakukan oleh produsen Arab atas dukungan AS terhadap Israel selama Perang Arab-Israel 1973.

“Konflik di Timur Tengah memiliki dampak signifikan pada pasar minyak dan gas global, dengan implikasi besar bagi keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi global terkait minyak,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam pernyataan yang disiarkan dari markas besar organisasi di Paris, seperti dikutip CNBC, Rabu (11/3).

“Saya dapat mengumumkan negara-negara anggota IEA telah secara bulat memutuskan untuk meluncurkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga kami,” kata Birol.

Negara-negara anggota IEA saat ini menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan tambahan 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.

Kepala IEA mengatakan pelepasan ini dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Namun, Birol mengatakan lalu lintas tanker harus kembali beroperasi melalui Selat Hormuz untuk mengembalikan aliran minyak dan gas yang stabil ke pasar global.

Selat Hormuz adalah koridor maritim sempit di lepas pantai Iran yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas global biasanya melewati selat ini. Lalu lintas tanker melalui selat tersebut telah terhenti total karena pengirim barang khawatir akan serangan dari Iran.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...