Purbaya soal Dolar AS Tembus Rp 17.000: Fundamental Ekonomi RI Kuat
Nilai tukar rupiah menembus 17.000 per dolar AS di tengah perang Iran dan Amerika Serikat yang semakin memanas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah melemahnya nilai tukar rupiah.
Kurs rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah 39 poin atau 0,23% di level 16.997 per dolar AS, setelah sempat menembus 17.000 per dolar AS.
“Kalau ekonomi lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin.
Namun, ia menyerahkan strategi intervensi kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dia menyatakan tak akan berkomentar lebih jauh untuk menghindari spekulasi intervensi pemerintah terhadap kebijakan moneter.
“Saya nggak tahu kenapa (rupiah) melemah. Anda harus tanyakan ke bank sentral. Karena tanggung jawab bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar,” tuturnya.
Adapun tekanan terhadap rupiah disebut terdampak oleh peningkatan permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.990 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.934 per dolar AS.
“Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari penguatan dolar AS di pasar global, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah,” kata Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi AS yang relatif stabil pada kisaran 2,4 persen secara tahunan. Kondisi tersebut dinilai cenderung menopang penguatan dolar AS dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, rupiah masih didukung fundamental ekonomi yang relatif solid, seperti inflasi yang terkendali, stabilitas makroekonomi yang terjaga, serta kinerja neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus.
Untuk meredam tekanan terhadap rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut dapat terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga stabilitas pasar keuangan, termasuk melalui intervensi yang terukur di pasar valuta asing serta memastikan kecukupan likuiditas dolar di pasar domestik.
