IMF Peringatkan Perang AS-Israel Lawan Iran Bisa Guncang Ekonomi Global
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global yang luas. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk prospek ekonomi dunia yang sebelumnya mulai pulih dari berbagai krisis.
Dalam pernyataan terbarunya, IMF menyoroti bahwa negara-negara di Afrika dan Asia yang sangat bergantung pada impor minyak kini menghadapi kesulitan besar dalam memperoleh pasokan energi, bahkan dengan harga yang terus meningkat.
Situasi tersebut dinilai akan semakin menekan stabilitas ekonomi di kawasan berkembang. “Semua jalan mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” kata IMF dikutip dari Bloomberg, Selasa (31/3).
IMF mengatakan, dampak konflik terhadap rantai pasok global dan infrastruktur akan sangat bergantung pada durasi perang. Namun, IMF memperkirakan dunia kemungkinan akan berada dalam kondisi ketidakpastian berkepanjangan, dengan harga energi tinggi dan inflasi yang sulit dikendalikan.
“Dunia mungkin akan berada di tengah-tengah ketegangan tetap ada, energi tetap mahal, dan inflasi sulit dikendalikan dengan ketidakpastian dan risiko geopolitik yang terus berlanjut,” tambahnya.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent melonjak hingga mendekati US$115 per barel pada perdagangan awal pekan, kenaikan tajam secara bulanan. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk pengerahan pasukan Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump juga kembali mengancam akan menghancurkan aset energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, memicu kekhawatiran eskalasi konflik lebih lanjut.
Tidak hanya sektor energi, IMF juga menyoroti dampak lanjutan terhadap harga pangan dan pupuk. Kenaikan harga kedua komoditas tersebut mulai dirasakan di berbagai negara, dari Timur Tengah hingga Amerika Latin.
Negara berpendapatan rendah menjadi pihak yang paling rentan, terutama karena sebagian besar pengeluaran masyarakatnya dialokasikan untuk kebutuhan pangan.
Gangguan pasokan nutrisi tanaman dari kawasan Teluk terjadi di saat krusial, yakni menjelang musim tanam di belahan bumi utara. Kondisi ini berpotensi menekan produksi pertanian global sepanjang tahun dan memperburuk risiko krisis pangan.
“Orang-orang di negara berpendapatan rendah paling berisiko ketika harga pangan naik karena rata-rata sekitar 36% pengeluaran mereka digunakan untuk makanan, dibandingkan dengan 20% di negara berkembang dan 9% di negara maju,” kata IMF dalam tulisannya yang disusun oleh para ekonom termasuk Tobias Adrian dan Jihad Azour.
IMF akan merilis laporan lengkap terkait prospek ekonomi global pada bulan depan, bertepatan dengan pertemuan musim semi, IMF dan Bank Dunia di Washington, yang akan dihadiri para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari berbagai negara.
