Purbaya: Restrukturisasi Whoosh Rampung, Pemerintah Segera Umumkan Skemanya

Ade Rosman
22 April 2026, 11:54
purbaya, whoosh
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/agr
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan skema restrukturisasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh telah rampung. Pemerintah akan segera mengumumkan detailnya secara resmi. 

“Sudah, sudah kelar tinggal diumumkan,” ujar Purbaya usai memberikan sambutan  dalam acara Simposium PT SMI di Ayana Midplaza, Jakarta Pusat, Rabu (22/4). 

Ia menjelaskan, keputusan terkait restrukturisasi tersebut sudah final, termasuk kesepakatan dengan pihak Cina sebagai mitra dalam proyek ini. Ia juga telah menyampaikan perkembangan tersebut saat bertemu Menteri Keuangan Cina. 

"Kemarin saya ketemu Menteri Keuangan Cina, saya sudah diputuskan tinggal diumumkan. Jadi pihak Cina nggak usah khawati," ujarnya.

Ia menegaskan kepada mitra Cina bahwa  Indonesia berkomitmen menjaga kredibilitas dalam kerja sama internasional dan tidak akan menyimpang dari kesepakatan yang telah dibuat. Meski demikian, ia masih enggan menjabarkan detail dari skema restrukturisai tersebut. 

Pengumuman resmi, menurut Purbaya, akan disampaikan oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dalam waktu dekat.

Sebelumnya, proyek yang dikelola oleh KCIC ini sempat mengalami pembengkakan biaya dan persoalan koordinasi antarinstansi. Restrukturisasi dilakukan untuk memastikan keberlanjutan proyek serta pembagian beban antara Indonesia dan Cina tetap terjaga.

Purbaya juga menyebut skema baru akan mencerminkan prinsip berbagi risiko antara kedua pihak, mengingat investasi dilakukan secara bersama.

“Kalau ada loss, ya sama-sama. Kita berapa persen, mereka berapa persen,” ujarnya.

Purbaya saat memberikan sambutan sempat menyinggung penyebab pembengkakan anggaran sejumlah proyek infrastruktur seperti Whoosh dan LRT. Pembengkakan anggaran, menurut dia, terjadi karena tidak adanya pengawasan yang baik dalam proses pembangunan kedua proyek tersebut.

"Itu sebetulnya programnya bagus, proyeknya bagus. Cuma tidak diawasi sehingga ketika ada masalah, tidak ada yang menangani. Akhirnya terjadi cost overrun berpuluh triliun rupiah,” ujarnya. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...