Prabowo Panggil Bos BI hingga Purbaya di Tengah Anjloknya Rupiah

Muhamad Fajar Riyandanu
18 Mei 2026, 16:42
purbaya, perry, BI, rupiah
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan), Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto memanggil Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (18/5). Mereka dipanggil di tengah jebloknya kurs rupiah yang mendekati level 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini. 

Berdasarkan pantauan Katadata.co.id., Perry tiba di Istana sekitar pukul 16.00 WIB. Ia masuk ke area dalam Istana melalui gerbang ‘pilar’ yang menghadap ke Jalan Juanda.

Perry enggan memberikan komentar terkait kehadirannya di Istana. Ia juga tidak berkenan memberikan tanggapan terkait situasi nilai tukar rupiah yang melemah saat ini.

“Terima kasih, terima kasih, ya,” kata Perry saat memasuki gerbang Istana.

Purbaya juga bersikap serupa. Ia enggan memberikan keterangan lebih lanjut mengenai tema rapat terbatas sore ini. “Saya belum tahu, saya diundang saja nih. Nanti saja setelah pertemuan baru bicara ya,” ujarnya.

Selain Perry dan Purbaya, Prabowo hari ini juga mengundang sejumlah menteri Kabinet Merah Putih lainnya. Antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto.

Kehadiran Perry ke Istana hari ini merupakan yang kedua kalinya sepanjang bulan ini. Perry saat ini tengah menghadapi tekanan politik akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Salah satunya datang dari Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN Primus Yustisio, yang mendesak Perry mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI dalam rapat kerja bersama Komisi XI dengan Bank Indonesia pada hari ini, Senin (18/5). 

Primus menilai, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan anomali. Kurs rupiah terus melemah meski data kinerja ekonomi menunjukkan pertumbuhan mencapai 5,61% pada kuartal I 2026, tetapi kurs rupiah juspertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tinggi mencapai 5,61%.

“Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust dan menyampingkan kredibilitasnya,” ujar Primus dalam rapat bersama Bank Indonesia di DPR, Senin (18/5).

Perry sebelumnya juga sempat dipanggil menghadap Prabowo ke Istana pada 5 Mei lalu ketika kurs rupiah menembus 17.400 per dolar AS. Saat itu, ia hadir bersama Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yakni Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, dan Menteri Keuangan Purbaya.

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah hari ini ditutup melemah 0,4% ke level 17.666 per dolar AS. Rupiah dibuka di level 17.628 per dolar AS dan sempat bergerak di rentang 17.627 hingga 17.684 per dolar AS.

Pernyataan Prabowo soal Orang Desa Tak Pakai Dolar 

Kurs rupiah kian melemah di tengah tekanan eksternal seiring aksi investor melepas aset-aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang. Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah terjadi hanya berselang sehari setelah penyataan kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pelemahan dolar AS tak berdampak pada warga desa. 

“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, dipantau secara daring melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (16/5).

Dia lantas menuding pihak yang khawatir dan pusing terkait kurs rupiah adalah orang-orang yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia percaya ekonomi Indonesia dan fundamentalnya kuat.

“Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...