Rupiah Lebih Keok Lawan Yuan Cina daripada Dolar, Melemah Hampir 10% Tahun Ini

Agustiyanti
26 Mei 2026, 10:47
yuan, rupiah, dolar, rupiah melemah
Katadata
Yuan Cina menguat hampir 3% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah kian melemah hingga mendekati 17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini, level terburuk sepanjang sejarah. Namun tekanan terhadap rupiah ternyata lebih besar datang dari yuan Cina, dengan pelemahan hampir 10% sejak awal tahun. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,26% ke level 17.791 per dolar AS pada pukul 10.01 WIB. Sepanjang tahun ini, kurs rupiah telah melemah 6,66% terhadap dolar AS. 

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap sejumlah mata uang regional, terutama terhadap yuan Cina. Pada waktu yang sama, kurs rupiah juga melemah 0,2% ke level 2.620 per yuan. Adapun sejak awal tahun, rupiah telah melemah 9,77% terhadap yuan. 

Selain terhadap dolar AS dan yuan, rupiah juga melemah terhadap ringgit Malaysia, yen Jepang, dan baht Thailand. Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah lebih dari 9% terhadap ringgit, 5% terhadap yen, dan 3% terhadap baht. 

Mengapa Rupiah Lebih Keok Terhadap Yuan dan Ringgit?

Yuan dan ringgit menjadi dua mata uang yang justru menguat terhadap dolar AS di tengah perang Iran. Tak heran, kurs rupiah yang keok terhadap dolar AS, melemah lebih dalam terhadap kedua mata uang ini. 

Mengutip The Edge Malaysia, penguatan ringgit terjadi karena masuknya modal asing di pasar saham maupun investasi langsung di Negeri Jiran ini. Sektor jasa keuangan, industri, dan perkebunan menjadi primadona.

Sejak awal tahun hingga pertengahan bulan ini, investor asing telah melakukan pembelian bersih lebih dari 3 miliar ringgit Malaysia atau sekitar Rp 13 triliun di pasar saham Malaysia. 

Sementara itu, yuan Cina menguat ke level tertingginya terhadap dolar AS dalam tiga tahun terakhir pada (25/5). Penguatan yuan kemarin terjadi seiring meningkatnya harapan damai terhadap perang Iran dan AS.

Namun, penguatan yuan yang mencapai hampir 3% terhadap dolar AS pada tahun ini, terutama didorong oleh meluasnya penggunaan mata uang ini sebagai pengganti dolar AS dalam perdagangan internasional. 

Beberapa lembaga investasi global juga telah merevisi perkiraan yuan mereka ke atas, didorong oleh daya saing ekspor Cina dan hubungan perdagangan yang stabil dengan AS, ekonomi terbesar di dunia.

HSBC telah menaikkan perkiraannya menjadi 6,65 yuan per dolar pada akhir tahun dari 6,75 yuan per dolar AS sebelumnya. Selain ekspor yang sangat kompetitif, HSBC melihat internasionalisasi yuan, diversifikasi jangka panjang dari USD, dan penyeimbangan kembali ekonomi sebagai alasan struktural domestik utama yang mendukung yuan.

"Secara eksternal, hubungan ekonomi AS-Tiongkok telah menjadi stabil dan lebih konstruktif sejak Mei 2025," kata analis HSBC dalam sebuah catatan.

Deutsche Bank juga melihat pertumbuhan impor Tiongkok yang kuat tahun ini akan membuka jalan bagi penguatan yuan lebih lanjut. "Lonjakan impor produk hulu Tiongkok kemungkinan akan diikuti oleh peningkatan lebih lanjut dalam pesanan ekspor, atau pemulihan permintaan domestik, atau keduanya," kata ekonom Deutsche Bank Yi Xiong dan Deyun Ou dalam sebuah catatan.

Perkiraan dasar Deutsche Bank adalah mata uang tersebut akan menguat menjadi 6,55 yuan per dolar pada akhir tahun 2026 dari sebelumnya 6,7.

Goldman Sachs juga melihat ruang lingkup untuk penguatan yuan lebih lanjut dan lebih lama. Proyeksi ini didukung oleh surplus eksternal Cina yang belum pernah terjadi sebelumnya dan daya saing ekspor yang kuat.

Terlepas dari hambatan dari perang Iran dan biaya energi yang lebih tinggi, Goldman mengatakan prospek jangka menengah tetap positif, didukung oleh investasi global yang diharapkan dalam keamanan energi dan energi terbarukan, yang akan menguntungkan ekspor China.

Bank AS tersebut memperkirakan yuan akan mencapai 6,80, 6,70, dan 6,50 per dolar dalam tiga, enam, dan 12 bulan, dibandingkan dengan 6,85, 6,80, dan 6,70 sebelumnya.

Mengutip Global Market Investor,  Perang Iran dinilai berhasil mempercepat kebangkitan yuan Tiongkok dalam perdagangan global. 

Nilai rata-rata transaksi harian yang diselesaikan melalu Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas atau CIPS telah melonjak dari sekitar 300 miliar yuan per hari pada tahun 2021 menjadi rekor 920 miliar yuan pada Maret 2026.

CIPS adalah sistem pembayaran lintas batas Tiongkok, yang diluncurkan pada tahun 2015 sebagai alternatif infrastruktur keuangan Barat.

Apa Arti Pelemahan Rupiah Terhadap Yuan ke RI?

Saat rupiah melemah terhadap yuan, biaya impor dari Cina otomatis menjadi lebih mahal.  Hal ini kemungkinan akan berdampak pada harga barang di Indonesia, karena Cina merupakan negara asal impor terbesar Indonesia. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,  impor Indonesia pada Januari–Maret 2026 mencapai US$ 61,30 miliar, naik 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor barang nonmigas dari Cina pada periode tersebut naik lebih tinggi mencapai 17,7% menjadi  US$ 22,02 miliar. Berdasarkan kontribusinya, impor Cina menyumbang 41,56% dari total impor nonmigas Indonesia.

Kenaikan impor dari Cina terutama terjadi pada golongan barang berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya yang mencapai 23,53% menjadi US$ 4,89 miliar, serta mesin/peralatan mekanis dan bagiannya sebesar 21,04% menjadi US$ 5,1 miliar. Selain itu, kenaikan impor juga terjadi pada golongan barang berupa kendaraan dan bagiannya mencapai 17,65% menjadi US$ 1,21 miliar.

 

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...