Langkah perluasan operasi moneter menggunakan valuta asing dalam mata uang yuan Cina dan Yen Jepang dilakukan BI untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
China memperluas penggunaan yuan melalui CIPS, strategi mengurangi ketergantungan pada dolar AS, meningkatkan transaksi global yuan yang mencapai 175 triliun yuan pada 2024.
Rupiah mengalami penguatan menjelang akhir 2024, dengan ditutup pada level Rp 16.132 per dolar AS, dipengaruhi oleh faktor global dan prediksi pergerakan di 2025.
Pelemahan rupiah terjadi karena faktor global seperti penguatan dolar AS akibat penurunan ekspetasi suku bunga Federal Fund Rate dan sentimen pelemahan mata uang yuan Cina.
Sejumlah perusahaan penyulingan minyak India mulai menggunakan yuan Cina untuk membayar pembelian minyak dari Rusia lantaran penggunaan dolar ditolak bank karena sanksi negara barat.
Setelah dolar AS kehilangan status sebagai mata uang cadangan utama dunia, beberapa mata uang muncul sebagai kandidat pengganti dalam dedolarisasi, termasuk Yuan China (Renminbi).
Yuan untuk pertama kalinya berhasil menyalip dolar Amerika Serikat sebagai mata uang yang paling banyak digunakan untuk transaksi lintas batas di Cina pada Maret 2023.
Cina juga akan memanfaatkan sepenuhnya Shanghai Petroleum and National Gas Exchange sebagai platform untuk melakukan penyelesaian perdagangan minyak dan gas dengan yuan.