Rupiah Loyo ke 17.858 per US$ Jelang Pengumuman Suku Bunga Acuan BI
Nilai tukar rupiah melemah 0,54% ke level 17.858 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (18/7), jelang pengumuman keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia. Tekanan terhadap rupiah, antara lain datang dari sinyal kenaikan suku bunga yang diberikan Bank Sentral AS, The Federal Reserve dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) tadi malam.
Melansir dari Bloomberg, rupiah dibuka melemah 96 poin ke level 17.845 per dolar AS. Namun, kurs rupiah kian melemah ke level 17.958 per dolar AS hingga pukul 09.40 WIB.
Analis Doo Financial, Lukman Leong memperkirakan, rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya sentimen risk off di pasar global. Menurutnya, sikap The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini menjadi faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat setelah dalam rapat FOMC mensinyalkan bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini, memicu sentimen risk off di pasar," ujar Lukman kepada Katadata.co.id
Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran 17.750-17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana melihat masih terdapat ruang bagi rupiah untuk mengalami depresiasi ke level 17.780 per dolar AS.
Fikri mengatakan, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari hasil rapat FOMC yang menunjukkan arah kebijakan The Fed lebih ketat dari perkiraan pasar.
"Faktornya adalah hasil FOMC yang memperlihatkan lebih hawkish-nya The Fed, baik dari ekspektasi inflasi maupun Fed dot plot," kata Fikri.
Selain faktor global, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan domestik, khususnya hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) serta evaluasi indeks MSCI terhadap Indonesia yang berlangsung hari ini.
Menurut Fikri, sikap investor cenderung menunggu kepastian dari kedua agenda tersebut sebelum menentukan arah pergerakan aset domestik.
"Pasar masih wait and see terhadap RDG BI dan hasil evaluasi MSCI terhadap Indonesia hari ini," ujarnya.
