BI Waspadai Tekanan Inflasi dari Harga Minyak hingga Ancaman El Nino

Image title
18 Juni 2026, 19:28
inflasi, el nino, Bank Indonesia
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU
Konsumen membeli cabai pada pelaksanaan program Warung Tekan Inflasi di Pasar Sawojajar, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (5/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi menekan inflasi domestik ke depan, mulai dari kenaikan harga minyak dan komoditas global hingga potensi gangguan cuaca akibat El Nino yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan risiko inflasi yang saat ini menjadi perhatian utama BI adalah rambatan kenaikan harga global atau imported inflation, terutama dari sektor energi dan komoditas.

“Faktor risiko inflasi yang mungkin sekarang ini mencuat dan menjadi perhatian adalah tentunya tentang rambatan global yaitu harga-harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau kita sebut dengan imported inflation,” ujar Aida dalam konferensi pers, Kamis (18/6).

Menurut dia dampak kenaikan harga global langsung tercermin pada administered prices atau harga-harga yang diatur pemerintah. Salah satunya terlihat dari penyesuaian harga BBM non-subsidi beberapa waktu terakhir.

Aida menyebut kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Turbo ikut memberi tekanan inflasi, meski di sisi lain terdapat penurunan harga Dex Lite dan Pertamina Dex. Secara keseluruhan, perubahan harga BBM tersebut diperkirakan memberi kontribusi sekitar 0,25% terhadap inflasi nasional.

BI Waspadai Dampak El Nino ke Inflasi Pangan

Selain energi, BI juga mencermati potensi tekanan pada kelompok volatile food, terutama dari komoditas hortikultura. Risiko ini dinilai dapat meningkat apabila fenomena El Nino mulai berdampak pada produksi pangan domestik.

“Ini belum terjadi tapi kita perlu alert untuk menghadapinya yaitu gangguan cuaca,” kata Aida.

BI memperkirakan dampak El Nino mulai terasa pada akhir Juni hingga Oktober atau November 2026. Meski demikian, Aida menegaskan inflasi masih diproyeksikan berada dalam target BI sebesar 2,5% plus minus 1%.

“Jadi paling tinggi kita 3,5%, ini masih dalam target tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali mengatakan inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (year on year/yoy), masih dalam rentang sasaran yang ditetapkan BI. Namun, tekanan cukup besar mulai terlihat pada kelompok volatile food yang naik hingga 6,24% yoy.

“Nah, inflasi volatile food ini yang sangat terasa terutama di daerah-daerah,” kata Ricky.

Dari hasil pemantauan BI, terdapat 25 provinsi yang inflasinya masih berada dalam rentang sasaran. Akan tetapi, ada 13 provinsi yang mulai menunjukkan kenaikan inflasi cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian khusus.

Beberapa daerah dengan inflasi tinggi antara lain Papua Barat sebesar 5,94%, Aceh 5,12%, dan Kalimantan Tengah 4,55%.

Ricky mengatakan tekanan inflasi di sejumlah daerah dipicu kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. 

Kementan jaga pasokan bawang merah jelang Idul Adha
Penjual menuangkan bawang merah yang akan dijual di pasar. (ANTARA FOTO/ Andri Saputra/YU)

 

Ia juga menyoroti risiko El Nino yang diperkirakan dapat menurunkan produktivitas hortikultura, terutama di kawasan Indonesia Timur.

“Intensitas El Nino ini diperkirakan berisiko untuk menurunkan produktivitas terutama dari hortikultura di beberapa wilayah, khususnya di kawasan Indonesia Timur,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BI bersama 46 kantor perwakilan daerah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Selain itu, BI juga menjalankan program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga pangan di berbagai wilayah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...