Bappenas: Indonesia Harus Tinggalkan Model Pertumbuhan Berbasis Upah Murah
Indonesia dinilai perlu mengubah model pertumbuhan ekonominya untuk dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan. Indonesia antara lain perlu meninggalkan ketergantungan pada tenaga kerja murah dan sumber daya alam.
Rachmat mengatakan, Indonesia telah berada dalam middle-income trap selama lebih dari tiga dekade. Karena itu, Indonesia perlu benar-benar bertransformasi menuju perekonomian dengan produktivitas yang lebih tinggi.
"Kalau kami ingin keluar, itu membutuhkan transisi dari pertumbuhan yang didorong tenaga kerja murah dan sumber daya menuju produktivitas yang lebih tinggi," ujar Rachmat dalam acara Bappenas – ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions Rabu (9/9).
Rachmat menilai, peningkatan kualitas modal manusia menjadi salah satu kunci dalam proses transformasi ekonomi tersebut. Pemerintah perlu memperkuat pendidikan, kesehatan, serta perlindungan sosial untuk menciptakan tenaga kerja yang lebih produktif.
"Modal manusia bukan hanya menjadi semakin penting. Modal manusia adalah salah satu yang paling penting," katanya.
Menurut Rachmat, peningkatan kualitas SDM dibutuhkan agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan struktur ekonomi dan kebutuhan industri yang semakin kompleks.
Ia juga mengatakan, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, bencana yang disebabkan aktivitas manusia, hingga bencana alam yang sulit dihindari.
“Dan sekarang, kami harus menghadapi semua tantangan tersebut,” katanya.
Rachmat melihat saat ini lingkungan global berubah dengan sangat cepat, untuk itu perencanaan pembangunan nasional menjadi semakin kompleks dan menuntut. Dalam kondisi tersebut, visi pembangunan jangka panjang negara-negara Asia menurutnya perlu mempertimbangkan bagaimana setiap negara dapat mengubah ambisi untuk menjadi negara berpendapatan tinggi dan tangguh
“Itulah tugas bersama kita, baik untuk Asia maupun untuk berbagai wilayah lain di dunia. Bagi Indonesia sendiri, hal ini mengharuskan kita memperkuat bukan hanya apa yang kita rencanakan, tetapi juga bagaimana negara berpikir, mengantisipasi, belajar, dan mengambil pilihan kebijakan,” katanya.
Dia mengatakan, negara-negara dan perekonomian di Asia terus mempertahankan pertumbuhan yang solid. Namun ia menekankan mempertahankan pertumbuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Menurutnya, satu-satunya cara adalah mempercepat pertumbuhan dengan mempertimbangkan seluruh kondisi yang ada.
“Hal itu membutuhkan arah pembangunan yang jelas. Visi jangka panjang bukan tentang memprediksi masa depan, melainkan tentang membentuk masa depan yang ingin dicapai oleh suatu negara,” katanya.
