BI Lihat Ekonomi Global Masih Lemah, Bagaimana Nasib Indonesia?

Image title
23 September 2026, 15:31
BI, pertumbuhan ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih akan berada dalam rentang 4,9% hingga 5,7%. Konsumsi rumah tangga dinilai tetap terjaga ditopang besarnya berbagai stimulus fiskal pemerintah. 

" Investasi juga tetap tumbuh baik terutama ditopang oleh investasi Pemerintah di tengah peran investasi swasta yang perlu terus ditingkatkan." ujar Gubernur  BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).

Ia menjelaskan, stimulus fiskal mendorong keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen menguat. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan tetap baik meski ekonomi global diperkirakan masih menghadapi tekanan. 

“Pandangan kami terhadap prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi,” kata Destry.

Destry menjelaskan, tekanan terhadap ekonomi global turut meningkat akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak hingga sempat menyentuh US$ 132 per barel. Namun, harga minyak dunia telah kembali turun d bawah US$100 per barel pada 22 September 2026.

Harga berbagai komoditas dunia juga mengalami kenaikan. Di tengah kondisi tersebut, ekonomi global pada 2026 diperkirakan masih lemah dan diperkirakan hanya tumbuh 3%, sedangkan tekanan inflasi meningkat menjadi sekitar 4%. 

Destry mengatakan, kebijakan moneter global juga diperkirakan menjadi lebih ketat. Salah satunya tercermin dari kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat, Federal Funds Rate (FFR), menjadi 3,75%-4% pada September 2026.

Ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate lebih lanjut turut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury. Tekanan tersebut diperkuat oleh besarnya defisit anggaran pemerintah AS.

Kondisi ini pn kemudian menahan aliran investasi portofolio global ke negara-negara emerging market. Dampaknya, dolar AS masih relatif kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

Menurut Destry, kondisi eksternal tersebut membutuhkan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. BI pun akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...