Dolar Makin Perkasa di Tengah Ekspektasi Bunga Tinggi The Fed

Agustiyanti
30 September 2026, 12:05
dolar AS, penguatan dolar AS, dolar AS melemah
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dolar Amerika Serikat pada bulan ini mencatatkan kinerja terbaik sejak Juni 2026. Penguatan dolar didukung oleh langkah The Federal Reserve yang kini fokus untuk meredam inflasi dengan mendorong suku bunga dan imbal hasil obligasi AS ke tingkat yang lebih tinggi.

Bloomberg Dollar Spot Index naik 1,9% pada September, menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kinerja ini didorong oleh data ekonomi AS yang solid dan risiko inflasi yang meningkat.

Konflik di Timur Tengah, terkait Iran telah menyebabkan harga energi tetap tinggi dan mendorong imbal hasil obligasi Treasury ke puncak historis. Obligasi AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002.

Pelaku pasar kini memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sebesar hampir satu poin persentase dalam 12 bulan ke depan, yang kian memperkuat posisi dolar AS.

"Dolar terus bergerak mengikuti sinyal dari data AS," ujar Jayati Bharadwaj, kepala strategi valuta asing di TD Securities.

Ia menilai, kejutan data AS menjadi sinyal arah bagi dolar dalam jangka pendek, serta menentukan apakah The Fed mampu menaikkan suku bunga mendekati tingkat yang telah diperhitungkan oleh pasar.

Tren penguatan yang terjadi setelah kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam tiga tahun terakhir terus didorong oleh pernyataan bernada hawkish atau longgar dari para pembuat kebijakan. Gubernur The Fed Michael Barr pada Selasa (29/9) menegaskan kembali peringatannya bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan besar diperlukan untuk memperlambat laju inflasi.

Senada dengan itu, Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan bahwa satu kali kenaikan suku bunga lagi mungkin tepat dilakukan pada akhir tahun ini guna mendukung kembalinya inflasi ke target secara lebih cepat.

Melebarnya selisih suku bunga dan pertumbuhan ekonomi AS yang kuat membuat para pelaku pasar yang sebelumnya memperkirakan dolar akan melemah, kini meninjau kembali posisi mereka. Morgan Stanley baru-baru ini mengubah prediksi mereka bahwa dolar AS akan melemah pada paruh kedua 2026.

Para pelaku pasar kini mencermati laporan ketenagakerjaan September yang dijadwalkan rilis hari Jumat ini. Laporan tersebut akan menguji taruhan pasar terkait pengetatan moneter yang agresif.

AS juga dijadwalkan merilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures atau PCE) untuk Agustus pada Rabu (30/9), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed.

Risiko inflasi meningkat di seluruh dunia, tetapi tidak semua negara memiliki ketahanan untuk menghadapi kenaikan suku bunga yang lebih agresif. Ekspektasi mengenai perbedaan arah kebijakan suku bunga menjadi faktor penentu prospek dolar terhadap mata uang lainnya.

Seluruh mata uang negara-negara Kelompok 10 (G-10), kecuali yen Jepang, telah melemah terhadap dolar AS sepanjang September. Meningkatnya risiko intervensi otoritas Jepang di pasar valuta asing serta ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank of Japan turut menopang nilai tukar yen.

Namun, sejumlah indikator mengisyaratkan bahwa laju penguatan dolar mungkin mulai kehilangan tenaga. Indikator momentum mata uang AS tersebut naik melampaui angka 70 pada hari Selasa, yang menandakan kondisi overbought atau jenuh beli. Pada 24 September, relative strength index (RSI) dolar versi Bloomberg juga telah mencapai zona overvalued atau dinilai terlalu tinggi. 

"Menurut kami, posisi dolar mulai terlihat sudah terlalu tinggi," ujar Noah Buffam, seorang ahli strategi di CIBC Capital Markets.

Kepala Global untuk Prakiraan Valuta Asing dan Suku Bunga di Goldman Sachs Group Inc. Kamakshya Trivedi memperkirakan dolar akan terus diperdagangkan dalam kisaran saat ini. Perkiraan  The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada bulan Oktober.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...