Harga Pangan Makin Mahal, BPS Ingatkan Ancaman El Nino Berlanjut hingga 2027

Ade Rosman
1 Oktober 2026, 14:04
El Nino, harga pangan, BPS
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hm
Petugas Tim Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mencatat penggunaan varietas padi saat melakukan pendampingan terhadap petani di Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (5/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Stastistik (BPS) mengungkapkan, harga pangan menjadi salah satu sumber tekanan inflasi. Data terbaru BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37% secara tahunan pada September 2026. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono juga mengingatkan potensi El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027 berpotensi memengaruhi inflasi. Ateng mengatakan, fenomena El Nino perlu menjadi perhatian karena berpotensi berdampak terhadap perubahan harga, terutama komoditas pangan.

“BMKG telah merilis prediksi El Nino di tahun 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (1/10).

Pada September 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 4,37% dengan andil sebesar 1,28% terhadap inflasi umum.

Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama kenaikan harga tersebut. Komoditas itu meliputi ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi.

Tekanan harga juga terlihat dari komponen harga bergejolak atau volatile food. BPS mencatat komponen tersebut mengalami inflasi sebesar 5,03% secara tahunan dan memberikan andil sebesar 0,83% terhadap inflasi September.

Daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi komponen harga bergejolak.

Tekanan harga pangan juga terjadi secara bulanan. BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30% secara month to month (mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil sebesar 0,26%.

Produksi Pangan di Sejumlah Sentra Menurun

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada September antara lain berkaitan dengan kondisi produksi. Ateng menggambarkan, produksi cabai rawit menurun di sejumlah daerah sentra, seperti Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang.

Produksi cabai merah juga mengalami penurunan terutama di Bandung, Garut, dan Malang. Sebaliknya, produksi bawang merah meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang.

Selain faktor produksi, Ateng menuturkan, kenaikan harga daging ayam ras antara lain didorong kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah serta kenaikan harga pakan ternak.

Secara keseluruhan, inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan. Sementara secara tahun kalender, inflasi tercatat sebesar 2,17%.

BPS menilai potensi El Nino yang dapat berlangsung hingga awal 2027 perlu menjadi perhatian dalam melihat perkembangan harga pangan ke depan, mengingat kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perubahan harga komoditas pangan.

“Potensi luas panen padi pada Januari sampai dengan November 2026 diperkirakan sebesar 10,56 juta hektare atau lebih rendah dibandingkan dengan Januari sampai dengan November tahun 2025,” kata Ateng. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...