BI Ungkap Penyebab Rupiah Loyo Dekati 18.000/US$, Masih Sejalan Mata Uang Asia

Ade Rosman
15 Oktober 2026, 10:26
rupiah, rupiah melemah, BI
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah kembali melemah mendekati 18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Bank Indonesia menyebut, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan dan akan memastikan stabilitasnya. 

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 48 poin ke level 17.951 per dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea menuturkan, pelemahan rupah terjadi seiring indeks dolar AS yang meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025 dan kenaikan yield US Treasury tenor 2 tahun level 4,90%. 

"Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan USD serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin dalam keterangannya, Kamis (15/10).

Meski demikian, menurut dia, pergerakan rupiah masih sejalan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya. 

Salah satu penyebabnya, rilis data inflasi AS yang meningkat dari periode sebelumnya dan lebih tinggi dari perkiraan sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.

Selain itu, menurut dia, masih terdapat ketidakpastian penyelesaian konflik AS dengan Iran yang menyebabkan tingginya harga minyak, yakni di atas US$ 105 per barel. Ia menyebut situasi ini juga meningkatkan risiko fiskal ke depan.

“Dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17%. Cadangan devisa tercatat terjaga di level USD146,3 miliar pada akhir September 2026,” ujarnya.

Erwin memastikan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan denan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Bank sentral terus melakukan intervensi secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. 

“Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” kata Erwin. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...