Rupiah Dibuka Menguat Tipis Jelang Pengumuman Suku Bunga BI

Ade Rosman
21 Oktober 2026, 11:11
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 perse
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan Rabu (21/10) pagi. Melansir data spot Bloomberg, rupiah dibuka di angka 17.990 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Angka ini menguat 2 poin atau sekitar 0,01% dari penutupan sebelumnya yakni 17.992 per dolar AS. 

Analisa Doo Financial, Lukman Leong mengatakan, nilai tukar rupiah ini terpengaruh menjelang pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). 

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS dengan potensi menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga dalam RDG BI sore ini,” kata Lukman saat dihubungi, Rabu (21/10). 

Di sisi lain, ia menyebut sentimen pasar ekuitas domestik juga turut mempengaruhi nilai tukar rupiah. 

“Sentimen di pasar ekuitas domestik juga masih akan mendikte rupiah, yang apabila kembali membaik akan kembali mendukung,” katanya. 

Sebelumnya, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memperingatkan adanya risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila Bank Indonesia (BI) terlambat merespons tren kenaikan suku bunga global.  

Tenaga Ahli Utama DEN Luthfi Ridho mengatakan lonjakan inflasi di berbagai negara telah memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed dari Amerika Serikat (AS), untuk menempuh kebijakan pengetatan moneter.  The Fed juga diperkirakan oleh konsensus pasar masih akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi dalam waktu dekat. 

Bila ini terjadi, akan berdampak langsung pada menyempitnya interest rate differential antara Indonesia dengan negara lain. Alhasil, otoritas moneter dinilai perlu segera merespons tren kenaikan suku bunga global. 

Luthfi mengatakan The Fed, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) yang kompak menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Posisi suku bunga acuan The Fed kini berada di level 4%, European Central Bank 2,50%, dan Bank of Japan 1,25%.

Pergerakan ini membuat selisih imbal hasil antara US Treasury tenor sepuluh tahun dengan Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun semakin menyempit.

Luthfi memperingatkan, jika suku bunga acuan (BI rate) tidak segera disesuaikan, maka akan berimbas pada nilai tukar rupiah. 

“Kalau misalkan suku bunganya enggak menyesuaikan, yang paling umum kita pahami yang menyesuaikan adalah nilai tukar rupiah,” kata dia.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...