Kebutuhan Gas Diprediksi Naik, Arcandra Tahar: Saatnya PGN Ekspansi

Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar memprediksi kebutuhan gas akan meningkat 550 juta ton per tahun pada 2030.
Image title
29 April 2021, 20:37
arcandra tahar, pgn, kebutuhan gas
Katadata
Ilustrasi pipa gas.

Perusahaan Gas Negara atau PGN tengah melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan perannya sebagai subholding gas. Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar mengatakan tahun ini menjadi momen bagi PGN untuk bangkit guna melakukan ekspansi bisnis gas bumi termasuk LNG Retail.

PGN harus bisa menangkap peluang meningkatnya permintaan gas pascapandemi Covid-19 dan di era transisi menuju energi terbarukan. Hal ini setelah pandemi membuat permintaan energi termasuk gas bumi anjlok.

"Menurut Wood Mackenzie, benar bahwa kebutuhan gas di tahun 2020 turun. Tapi pada 2030, akan ada peningkatan sekitar 550 juta ton per tahun seiring dengan perkembangan proyek gas yang ada," ujar Arcandra dalam keterangan tertulis, Kamis (29/4).

Dia memprediksi permintaan gas kemungkinan besar akan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 terjadi, diiringi dengan mulai menggeliatnya perekonomian pada 2021. Meskipun hal tersebut tergantung pada keberhasilan penanganan Covid-19.

Advertisement

"Namun demikian PGN berharap perkembangan proyek, vaksin, dan sebagainya akan membuat kebutuhan LNG naik, seiring dengan menggeliatnya ekonomi," kata dia.

Kebutuhan LNG dunia dalam 10 tahun ke depan pun diprediksi masih akan meningkat meskipun dengan perkembangan energi terbarukan yang akan menggantikan sebagian permintaan energi. Oleh karena itu dia berharap industri gas dapat terus tumbuh.

Pasalnya Arcandra menilai peran gas sangat dibutuhkan di masa transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. “Kita tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan secara serta merta. Harus ada perantaranya salah satunya adalah gas,” kata dia.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Syahrial Mukhtar mengatakan bahwa pandemi Covid-19 membuat kebutuhan gas termasuk LNG di Asia Pasifik turun. Namun mulai pulih pada awal tahun ini meski belum kembali ke level sebelum pandemi.

Salah satu skenario yang dikembangkan Bloomberg memperkirakan pertumbuhan permintaan LNG global sekitar 4,2% yang didorong oleh negara-negara seperti Tiongkok dan India. Keduanya merupakan negara yang sangat fokus pada sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

"LNG akan berperan semakin besar untuk menjaga keandalan pasokan gas untuk konsumen di seluruh sektor,” ujar Syahrial.

PGN menerapkan konsep multisource dan multidestination untuk menjaga pasokan. Konsep tersebut memudahkan perusahaan gas pelat merah ini menjaga pasokan gas untuk konsumen tanpa bergantung pada satu sumber hulu tertentu.

Bagi PGN, LNG retail termasuk ke dalam bisnis baru yang membutuhkan pengembangan infrastruktur dan aset-aset untuk distribusi. Hal ini karena banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau infrastruktur gas, sehingga pengembangan bisnis LNG akan mampu mencapai pelanggan-pelanggan potensial menggunakan virtual pipeline.

“Infrastruktur LNG di masa depan akan masif terutama dengan proyek penugasan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No.13/2020 di wilayah Indonesia Timur, serta mendukung program strategis perusahaan untuk dapat merambah di pasar LNG internasional,” ujar Syahrial.

Adapun Kepmen ESDM No.13/2020 mengatur tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur Liquified Natural Gas (LNG), Serta Konversi Penggunaan Bahan Bakar Minyak dengan Liquefied Natural Gas (LNG) Dalam Penyediaan Tenaga Listrik.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait