Medco Energi Siapkan Rp 2 Triliun Kembangkan South Natuna Blok B

Medco Energi menganggarkan lebih Rp 3 triliun untuk belanja modal tahun ini, dengan sekitar Rp 2 triliun dialokasikan untuk kegiatan hulu migas.
Image title
1 September 2021, 17:28
medco energi, belanja modal, south natuna blok b
Medco Energi
Ilustrasi, pengeboran migas lepas pantai.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menyiapkan dana sebesar US$ 215 juta atau lebih Rp 3 triliun untuk belanja modal tahun ini. Dari anggaran tersebut setidaknya US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,14 triliun dialokasikan untuk kegiatan hulu migas.

VP Corporate Planning & Investor Relations Medco Energi Myrta Sri Utami mengatakan belanja modal tahun ini akan didominasi untuk proyek hulu migas. Menurutnya dari sekitar Rp 2,14 triliun tersebut, sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan di Wilayah Kerja South Natuna Sea Block B.

Mengingat pada tahun lalu perusahaan menemukan tambahan cadangan minyak dan gas bumi (migas) di Sumur Eksplorasi Terubuk-5. Dari hasil pengeboran ditemukan 2.287 barel minyak per hari (bopd), 32,89 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd), dan 304,1 barel kondensat per hari (bcpd).

"Kami masih lihat bagaimana pengembangan kedepannya di Natuna. Dari US$ 150 juta untuk migas, akan banyak dialokasi ke South Natuna Sea Block B," katanya dalam company update Medco Energi, IPA Convex 2021, Rabu (1/9).

Selain fokus di dalam negeri, Myrta mengatakan bahwa perusahaan juga fokus melanjutkan operasional lapangan yang ada di beberapa negara lainnya. Seperti di Meksiko, Timur Tengah, Tanzania, dan Asia Tenggara.

Apalagi, pasca akuisisi, aset Ophir semakin melengkapi portofolio Medco. Gabungan bisnis tersebut menjadikan Medco Energi sebagai pelaku usaha migas regional yang terkemuka di Asia Tenggara.

Medco pada 2019 lalu mengumumkan keberhasilan penyelesaian akuisisi Ophir Energy Plc terhadap seluruh penawaran tunai yang direkomendasikan. Medco mengakuisisi saham Ophir dengan harga £ 408,4 juta atau Rp 7,62 triliun (kurs Rp 18,659 per poundsterling).

Myrta mengatakan bahwa mayoritas bisnis Medco memang bersumber dari sektor hulu migas. Meski demikian, perusahaan akan terus berkomitmen pada Faktor environment, social, and governance (ESG) dalam operasinya.

"Apakah Medco akan masuk green investment? Mungkin saat ini masih akan kami kaji dulu akan ke arah sana atau tidak. Tapi kalau dilihat dari portofolio bisnis Medco 60% gas, power-nya juga kami tidak beroperasi di batu bara," katanya.

Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih mengatakan keberhasilan Medco dalam menemukan sumber migas di Natuna merupakan langkah baik untuk meningkatkan produksi migas.

“Dari ketiga hasil interval pengeboran sumur, Sumur deliniasi Terubuk-5 terbukti mengalirkan hidrokarbon berupa minyak dan gas,” katanya beberapa waktu lalu.

Struktur Terubuk merupakan salah satu penemuan yang sudah lama tidak dikembangkan. Potensi blok migas di area tersebut ditemukan oleh ConocoPhillips Indonesia pada 1972. Beberapa kali kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mengebor sumur appraisal hingga 2.000, namun tidak berlanjut ke fase pengembangan karena belum ekonomi.

Keberhasilan Medco EP Natuna menemukan tambahan cadangan menunjukkan potensi hulu migas nasional masih prospektif. SKK Migas pun mengevaluasi hasil penemuan tersebut agar dapat berlanjut ke tahap pengembangan. “Sesuai arahan Kepala SKK Migas, kami harus mempercepat semua cadangan menjadi produksi,” kata Susana.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait