Wealth Management Citibank Tumbuh Dobel Digit Saat Tren Bunga Rendah

Minat investasi masyarakat di masa pandemi tetap tinggi, terutama di masyarakat kelas menengah atas yang merupakan target pasar bisnis wealth management Citibank Indonesia.
Image title
4 Februari 2021, 13:54
suku bunga rendah, wealth management citibank, investasi
Arief Kamaludin | Katadata
Logo Citibank.

Pandemi corona rupanya semakin mendorong minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah atas. Hal ini seiring turunnya konsumsi di kelas masyarakat ini sehingga memiliki dana lebih untuk diinvestasikan.

Citibank Indonesia (Citi Indonesia), termasuk salah satu yang menikmati tumbuhnya minat investasi masyarakat di masa pandemi Covid-19. Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) bisnis wealth management Citibank pun mampu tumbuh hingga dobel digit sepanjang 2020.

“Dana kelolaan kami sepanjang 2020 tumbuh 10%,” kata Head of Wealth Management Citi Indonesia Tandy Cahyadi kepada Katadata.co.id, Rabu (3/2).

Dia mengatakan bahwa ada dua faktor pendorong tumbuhnya dana kelolaan wealth management Citi. Pertama, tren suku bunga rendah baik di dalam negeri dan di luar negeri. Menurut Tandy, tren suku bunga rendah masih akan berlanjut dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Tingkat suku bunga rendah menjadi salah satu faktor utama yang mendefinisikan lanskap investasi atau wealth management tahun ini,” kata dia.

Ini karena rendahnya suku bunga acuan dari otoritas moneter menurunkan minat masyarakat untuk berinvestasi pada deposito dan mencari instrumen lainnya yang lebih menguntungkan seperti reksadana atau obligasi.

Salah satu cara untuk mencari imbal hasil yang optimal dari kedua instrumen tersebut, jasa wealth management seperti yang ditawarkan Citibank menjadi sangat penting.

“Kalau kita mau mengembangkan dana kita di atas dari suku bunga deposito, berarti kita harus bisa lebih paham mengenai investasi. Kami harus lebih baik lagi dalam memberikan literasi keuangan kepada nasabah kami,” tambah Tandy.

Yang menarik, kasus-kasus investasi yang marak terjadi di sepanjang 2020 tidak mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi. Setidaknya di antara nasabah Citibank. Menurut Tandy hal ini lantaran nasabahnya sudah memiliki pengetahuan yang lebih baik.

“Investor sudah lebih berpengalaman, karena mereka telah belajar dari kasus-kasus koreksi pasar yang pernah terjadi. Seperti pada 2008 kasus subprime mortgage di Amerika Serikat (AS),” kata dia.

Citibank
Citibank (Arief Kamaludin | Katadata)

 

Ketika itu, dia melanjutkan, banyak investor yang panik dan takut untuk menambah investasinya ketika terjadi koreksi pasar yang besar. Padahal penyebabnya dari AS. Sedangkan kali ini investor domestik lebih resilient, bahkan menambah investasinya.

“Ini yang menurut kita menarik sekali terjadi di 2020. Jadi setidaknya buat kami di Citibank, kasus-kasus investasi sepanjang 2020 tidak memiliki dampak,” kata dia.

Adapun berdasarkan jenis instrumennya, reksadana saham, baik dalam rupiah maupun dolar AS, memiliki kontribusi paling besar terhadap dana kelolaan wealth management Citibank. Kemudian disusul reksadana pendapatan tetap.

“Ada peningkatan minat yang signifikan terhadap reksadana pendapatan tetap terutama menjelang akhir tahun. Tapi kalau ditotal sepanjang tahun berjalan, masih lebih besar obligasi pemerintah dalam rupiah,” kata Tandy.

Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terjadi peningkatan jumlah investor di pasar modal sepanjang 2020. Berdasarkan Single Investor Identification (SID) hingga 31 Agustus 2020, reksadana merupakan investasi dengan penambahan jumlah investor tertinggi.

Selengkapnya dapat disimak pada databoks berikut ini:

Meski demikian, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa meski suku bunga acuan terus diturunkan, deposito masih menjadi instrumen investasi favorit masyarakat. Menurut hasil survei konsumen BI, hampir separuh atau sekitar 45,3-49,3% responden berinvestasi melalui tabungan/ deposito.

Setelah tabungan/deposito, instrumen investasi favorit masyarakat berikutnya yaitu properti (tanah, rumah, apartemen), emas/perhiasan, dan reksadana. Selengkapnya dapat disimak pada databoks berikut ini:

Selain suku bunga rendah, faktor pendorong berikutnya yaitu digitalisasi. Pasalnya digitalisasi menjadi jalan keluar ketika pertemuan tatap muka antara bankir dan nasabah menjadi terbatas akibat pandemi.

“Kita harus bisa lebih memberdayakan teknologi utnuk menembus batas lockdown supaya nasabah tetap mudah bertransaksi tanpa meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19,” ujar Tandy.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait