Ironi Turunnya Tingkat Pengangguran Terbuka

M. Hasanudin
Oleh M. Hasanudin
27 Oktober 2025, 07:58
M. Hasanudin
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Senin, 20 Oktober lalu, Presiden Prabowo menyampaikan turunnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) beserta catatan bahwa tantangannya tidak berkurang. Beliau benar. Karena di sebuah acara bursa kerja di UI, seorang ibu berkeliling dari satu booth ke booth yang lain. Ia sedang mencarikan pekerjaan untuk putrinya, yang tidak mendapat izin cuti untuk datang ke acara tersebut. Benar, putrinya sudah bekerja, tapi masih belum memadai untuk kehidupan yang layak. Sementara di Yogyakarta, notifikasi di gawai Miftah Rizaq dan Nasi Darurat Jogja tak henti berdenting, oleh pesan-pesan dari mereka yang hidupnya sedang genting. Tak jauh berbeda, marbot Masjid Pemuda di Kota Surabaya, dibantu relawan, sibuk memasak untuk menyediakan makan gratis bagi mereka para perantau pencari kerja yang belum beruntung.

Pemerintah memang pantas mengklaim keberhasilan menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam satu tahun terakhir. Tetapi sebagaimana bayangan di kaca spion, angka itu harus dibaca dengan hati-hati. Laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update (Oktober 2025) mencatat bahwa satu dari tujuh anak muda di Indonesia masih menganggur. Sementara mereka yang sedang bekerja, ada di sektor informal berupah rendah tanpa perlindungan sosial.

Bank Dunia menyiratkan kondisi ini sebagai incomplete job recovery, pemulihan pasar kerja setelah pandemi yang belum usai. Sedangkan ILO menyebutnya decent-work deficit, defisit pekerjaan yang layak. Definisi “bekerja” dalam survei nasional, yang mencakup siapa pun yang bekerja satu jam seminggu, membuat data penurunan TPT tampak mengagumkan, padahal di baliknya ada jutaan pekerja yang bahkan upahnya sebulan tak cukup membeli beras seminggu. 

Indonesia sedang menikmati pertumbuhan ekonomi sekitar 5%, tetapi pertumbuhan itu tidak cukup mengangkat kesejahteraan pekerja. Proporsi sektor informal justru naik menjadi 59,40%. Kondisi ini paling terasa di kalangan muda. Laporan World Bank 2025 mengungkap bahwa penyerapan tenaga kerja muda kini banyak bergantung pada perusahaan baru berumur di bawah sepuluh tahun, sementara korporasi mapan justru melemah daya serapnya. Dari sini terlihat bahwa pasar kerja Indonesia belum cukup kuat untuk menampung angkatan kerja muda dalam jumlah besar. 

Demografi Angka TPT 

Namun, di luar isu struktural pasar kerja tadi, angka-angka TPT sendiri menyimpan cerita demografis yang layak dicermati. Terlihat dari grafik yang dibuat oleh Kompas berjudul Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia berdasarkan Kelompok Umum Per Februari Tahun 2022-2025. Kompas mengklasifikasikan dalam 6 kelompok umur, yakni 15-24, 25-34, 35-44, 45-54, 55-64 dan 65+. 

Jika enam kelompok ini disajikan dalam tiga kelompok berikut 15-34, 35-54 dan 55-65+, menguak sebuah temuan yang menarik. Pada kelompok pertama, 15-34, ternyata tidak terlihat adanya pergerakan signifikan pengangguran terbuka ini. Dari 5.736.481 pengangguran terbuka kelompok ini di tahun 2022 menjadi 5.489.027 dalam di 2025. Hanya bergerak sekitar 4% saja. Namun kalau melihat kelompok berikutnya, 35-54, nampak penurunan yang signifikan. Dari 2.344.421 pada 2022 turun menjadi 1.212.824, turun 48% lebih. Dan pada kelompok umur 55-65+ yang nampak justru peningkatan pengangguran terbuka. Dari 411.161 di tahun 2022, naik menjadi 576.456 di tahun 2025. Hampir dua kali lipat.

Secara statistik, mungkin tampak hanya sebagai pergeseran alami antar kelompok umur. Tapi mungkin ada cerita lain yang lebih sublim di baliknya.

Pada kelompok 15-34 tahun, terlihat stagnan, terlebih di tiga tahun terakhir. Hal ini bisa dibaca bahwa tidak ada penyerapan tenaga kerja yang cukup berarti. Masuknya sekitar 2 juta lebih angkatan kerja setiap tahun ke dalam kelompok ini seolah berbanding lurus dengan keluarnya tenaga kerja dari kelompok ini ke kelompok di atasnya. 

Angka yang stagnan ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi maupun pasar kerja tidak berpengaruh apapun pada penyerapan tenaga kerja baru. Hal ini sejalan dengan temuan Bank Dunia dalam laporannya yang menyoroti perjuangan kaum muda memasuki pasar kerja. 

Kenyataan bahwa penyerapan tenaga kerja belakangan didorong oleh perusahaan yang baru berdiri (kurang dari 10 tahun) adalah catatan mengenai keberlanjutan perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dalam menyerap tenaga kerja. Fenomena ini menantang asumsi pertumbuhan ekonomi yang menyediakan lapangan pekerjaan. 

Pada kelompok paruh baya diatasnya, 35-54 tahun, terjadi penurunan pengangguran terbuka yang cukup signifikan. Tetapi ini perlu diwaspadai. Pertama, bisa jadi ini dipengaruhi perpindahan demografi dari kelompok di bawahnya sekaligus yang keluar ke kelompok di atasnya. Di samping itu, melihat proporsi sektor informal yang melonjak membuka hipotesis bahwa sebagian dari kelompok ini, ditekan kebutuhan hidup dan keluarga, tidak punya pilihan selain mencoba peruntungan di sektor ini. Hal lain yang mungkin terjadi adalah bias keahlian, di mana tenaga kerja pada rentang umur ini dianggap punya pengalaman sehingga lebih disukai pemberi kerja. Laporan Bank Dunia juga menunjukkan kemungkinan kecenderungan serupa.

Perpindahan demografi pengangguran terbuka dari kelompok 35-54 ke dalam kelompok diatasnya, 55-65+, secara otomatis menaikkan jumlah pengangguran terbuka di kelompok teratas ini. Usia harapan hidup yang bertambah, disertai membaiknya layanan kesehatan, juga turut memberi andil naiknya angka pengangguran terbuka di kelompok ini. Fenomena ini menjadi bagian tak terpisahkan dari fenomena global, penuaan (aging). Kecenderungannya yang terus naik, layak menjadi perhatian serius ke depan sebelum terlambat.

Pasar Kerja sebagai Macro-Stabilizer 

Semua pemerintahan, apalagi yang digerakkan oleh populisme, sangat menyukai pergerakan angka statistik, termasuk menurunnya angka pengangguran di negaranya. Namun ketelitian dan kritis dalam membaca pergerakan angka tersebut jauh lebih penting. Hal tersebut bermanfaat untuk menemukan pemetaan masalah laten yang tersembunyi (underlying causes) di baliknya. Sebab angka pengangguran tak hanya cermin dari pertumbuhan ekonomi, tapi juga sekaligus infrastrukturnya. Turunnya TPT seharusnya dibaca bukan sebagai hasil pertumbuhan ekonomi, melainkan sebagai bagian dari mesin pertumbuhan itu sendiri — sebagai macro-stabilizer.

Turunnya angka pengangguran memang pantas dirayakan, tapi belum cukup untuk disebut keberhasilan. Angka itu hanyalah tampilan di permukaan saja. Di bawahnya ada riak ketimpangan, upah tak layak, dan kerja tanpa jaminan. 

Keringat lelah di bursa kerja, dapur-dapur Nasi Darurat, dan di sela doa marbot Masjid Pemuda adalah wajah nyata dari pasar kerja yang belum sepenuhnya pulih. Manusia yang bekerja keras hanya untuk bertahan hidup, apatah lagi untuk hidup lebih baik. Pekerjaan yang layak seharusnya tidak hanya memberi penghasilan, tapi juga menegakkan martabat. Jika kebijakan ketenagakerjaan berhenti pada angka statistik, maka kita hanya merayakan penurunan pengangguran sambil melihat martabat kemanusiaan yang memudar perlahan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
M. Hasanudin
M. Hasanudin
Analis Paruh Waktu di LPPM Stikosa-AWS

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...