Venezuela, Minyak, dan Dampaknya ke Indonesia
Nama Venezuela berarti “Venesia Kecil”. Ia lahir dari kesan para penjelajah Spanyol yang melihat rumah-rumah berdiri di atas air. Namun sejarah jarang setia pada kesan awal. Dari penamaan yang puitik itu, Venezuela kemudian bergerak ke jalur yang lebih kelam: eksploitasi, ketergantungan, dan konflik berkepanjangan yang menjadikan minyak bukan sekadar komoditas, melainkan pusat dari seluruh bangunan ekonomi dan politiknya.
Dalam beberapa waktu terakhir, Venezuela kembali masuk radar global seiring sinyal ketegangan hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Seperti biasa, pasar langsung memusatkan perhatian pada minyak. OPEC mencatat cadangan minyak Venezuela sekitar 303 miliar barel, terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi, Iran, dan Irak. Negara besar lain, misalnya Rusia, hanya memiliki 80 miliar barel di posisi delapan dunia, sementara AS berada di posisi sembilan dengan 45 miliar barel.
Besarnya cadangan tersebut kerap memunculkan satu pertanyaan, apakah Venezuela shock ini akan memicu oil boom baru?
Bukan Oil Boom
Meski menguasai sekitar 20% cadangan minyak global, kontribusi Venezuela terhadap produksi minyak dunia saat ini bahkan tidak mencapai 1%. Produksi minyak Venezuela telah merosot tajam sejak 2015 akibat sanksi internasional, kerusakan infrastruktur, dan minimnya investasi. Saat ini, pergantian politik bukan shortcut ke lonjakan output. Proyeksi yang realistis menunjukkan kenaikan produksi sekitar 300–500 ribu barel per hari dalam beberapa tahun ke depan, bukan jutaan barel dalam hitungan bulan (Bloomberg, 2025). Sekalipun hambatan politik dilonggarkan, pemulihan produksi Venezuela membutuhkan waktu panjang, teknologi, dan investasi besar.
Karena itu, intervensi AS terhadap industri Venezuela tidak dibaca sebagai pemicu oil boom. Tambahan pasokan, jika terjadi, akan terjadi perlahan. Harga minyak memang berpotensi bergerak lebih rendah, tetapi tidak jatuh seketika. Penurunan harga minyak bersifat bertahap dan struktural, bukan shock mendadak (Bloomberg, 2025).
Menariknya, manfaat dari proses ini juga tidak terdistribusi merata. Bloomberg (2025) mencatat bahwa minyak berat Venezuela justru paling menguntungkan sektor hilir, terutama kilang minyak di AS yang secara teknis cocok mengolah jenis minyak heavy crude. Dengan kata lain, margin cenderung bergeser ke AS. Venezuela tidak menciptakan ledakan produksi global, melainkan mengubah distribusi keuntungan dalam industri minyak.
Pertanyaannya kemudian, sejauh mana Venezuela shock ini relevan bagi Indonesia?
Relevansi bagi Indonesia
Dari sisi perdagangan dan pasokan energi, dampak langsungnya relatif terbatas. Indonesia tidak mengimpor minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) dari Venezuela. Impor energi Indonesia utamanya bersumber dari Singapura dan Malaysia untuk bahan bakar minyak (BBM), serta Nigeria, Arab Saudi, AS, dan Rusia untuk minyak mentah.
Hubungan dagang bilateral pun tergolong kecil. Venezuela bukan mitra dagang utama Indonesia, dengan kontribusi sekitar 0,02% terhadap total ekspor dan sekitar 0,01% terhadap total impor nasional. Pada 2024, ekspor Indonesia ke Venezuela tercatat sekitar US$48,8 juta, didominasi produk sabun, kendaraan, dan tekstil. Sebaliknya, impor dari Venezuela bahkan lebih kecil, sekitar US$20,3 juta, dan didominasi komoditas non-migas seperti kacang-kacangan dan kakao. Dengan struktur ini, first round effect krisis Venezuela, yakni gangguan pasokan langsung, nyaris tidak signifikan bagi Indonesia.
Namun, dampak yang lebih relevan justru bekerja melalui second round effect. Kanal utamanya adalah harga minyak dunia dan implikasi makro yang menyertainya. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sensitif terhadap arah harga energi. Ketika harga minyak diprediksikan bergerak lebih rendah, meski secara bertahap, tekanan inflasi ikut mereda. Beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN menjadi lebih ringan, sementara tekanan terhadap defisit transaksi berjalan berkurang. Stabilitas nilai tukar pun relatif lebih terjaga.
Di sisi keuangan, eskalasi geopolitik Venezuela memang berpotensi memicu sentimen risk-off jangka pendek di pasar global. Namun selama ketegangan tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas, dampaknya cenderung temporer dan kalah dominan dibandingkan pengaruh harga energi terhadap fundamental makro Indonesia.
Pada akhirnya, Venezuela shock bukanlah guncangan yang datang dengan dentuman keras bagi Indonesia. Seperti namanya yang lahir dari kesan visual sesaat, Venezuela kembali mengingatkan bahwa dalam ekonomi global, yang tampak besar di permukaan perairan, tidak selalu bergerak cepat di kedalaman. Tantangan ke depan justru terletak pada kemampuan dunia menahan eskalasi: memastikan dinamika politik internasional tidak menjelma menjadi guncangan global.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan atau kebijakan resmi dari institusi penulis.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
