Krisis Energi dan Kerapuhan Imaji Modernitas

Faiz Kasyfilham
Oleh Faiz Kasyfilham
25 Maret 2026, 06:05
Faiz Kasyfilham
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bayangkan sebuah struktur masyarakat modern di kota modern tiba-tiba harus kehilangan akses terhadap listrik, bensin, dan gas. Dapur yang selama ini menjadi pusat aktivitas rumah tangga berhenti mengepul, kendaraan yang menggerakkan mobilitas masyarakat terhenti, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada energi mendadak lumpuh total. Skenario yang dulu hanya terdengar sebagai distopia kini kian nyaring dan perlahan menjadi kenyataan yang mengancam, terutama di tengah krisis energi yang diperparah oleh konflik geopolitik di daratan Eurasia.

Setiap gangguan pada jalur distribusi energi internasional mengingatkan kita bahwa fondasi kehidupan modern sesungguhnya amat rapuh. Ketika pasokan energi tersendat, dampaknya tidak hanya mengguncang pasar finansial, melainkan juga merusak rutinitas paling mendasar, seperti memasak, bekerja, atau berpindah tempat. 

Inilah paradoks modernitas yang paling mencolok. Semakin maju teknologi dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat, semakin besar pula ketergantungannya pada sistem energi yang kompleks dan sangat terpusat. Ketergantungan ini, yang dalam kondisi normal hampir tidak kita sadari, menjadi titik lemah yang terbuka lebar dalam situasi krisis. Modernitas yang menjanjikan kemudahan dan efisiensi ternyata menyimpan potensi kerentanan yang dalam, tersembunyi di balik kompleksitas infrastrukturnya. 

Ilusi Ketahanan

Dalam beberapa dekade terakhir, kita sadari bahwa diskursus mengenai ketahanan terhadap perubahan iklim seringkali disederhanakan menjadi persoalan inovasi teknologi semata. Energi terbarukan, kendaraan listrik, jaringan listrik pintar, dan digitalisasi sistem produksi dipandang sebagai solusi utama yang akan menyelamatkan dunia dari krisis ekologis. 

Optimisme ini membentuk narasi bahwa masa depan yang tangguh adalah masa depan yang sarat dengan kecanggihan infrastruktur dan teknologi mutakhir. Semakin modern dan terdigitalisasi suatu masyarakat, semakin dianggap siap menghadapi berbagai bentuk krisis. 

Namun, ironisnya, krisis energi yang tengah berlangsung justru membuka wajah lain dari realitas ini. Ketika sistem energi modern terganggu, mereka yang paling bergantung pada sistem tersebut justru menjadi yang paling rentan. Kompleksitas yang selama ini dianggap sebagai kekuatan berubah menjadi sumber kerapuhan yang fatal. 

Kondisi paradoks ini mengingatkan kita pada konsep metabolic rift yang diperkenalkan oleh Karl Marx. Gagasan ini menjelaskan bagaimana kapitalisme industri menciptakan keterputusan mendalam antara manusia dan siklus ekologis yang menopang kehidupannya. Sayangnya, kita, manusia, di balik kompleksitas modernitas justru sering lupa dan kian terasing dengan alam. Kita kian modern, tapi keterasingan ini membuat kita semakin rentan dan rapuh.

Jika kita ingat, pada masyarakat pra-industri, produksi dan konsumsi masih terikat erat pada ekosistem lokal. Namun, adanya industrialisasi mengubah relasi ini secara radikal. Produksi dipindahkan ke skala besar yang terpisah dari proses ekologisnya. Sumber daya diambil dari satu lokasi, diolah di tempat lain, dan limbahnya dibuang di lokasi yang berbeda. Akibatnya, hubungan manusia dengan alam menjadi abstrak dan jauh, di mana alam tidak lagi dipandang sebagai sistem kehidupan yang saling terkait, melainkan sekadar objek eksploitasi. Keterputusan inilah yang menciptakan kerentanan ekologis sekaligus sosial yang mendalam. 

Masyarakat modern yang hidup di kota-kota modern menjadi manifestasi paling nyata dari kondisi ini. Masyarakat modern berfungsi layaknya organisme raksasa yang menyedot energi, pangan, dan air dari wilayah yang jauh. Hal ini menimbulkan ketergantungan yang tampak efisien tetapi sangat rapuh. Ketika jaringan global yang menopang kota ini terganggu, seluruh struktur sosial dan ekonomi berpotensi runtuh. 

Kondisi hari ini juga menyadarkan kita akan paradoksnya pemahaman dan apa yang kita lakukan atas krisis iklim. Dalam kesadaran global akan krisis iklim, transisi menuju energi terbarukan dipromosikan sebagai solusi yang tak terelakkan. Panel surya, turbin angin, dan teknologi energi bersih menjadi simbol harapan dan kemajuan. 

Namun, pertanyaan kritis yang jarang diajukan adalah apakah transisi ini benar-benar mengubah struktur yang melahirkan krisis tersebut. Dalam banyak kasus, proyek energi “hijau” masih mengikuti logika lama yang bersifat ekstraktif dan eksploitatif. “Daerah” sering dijadikan lokus produksi energi untuk menopang konsumsi kota-kota besar. Dengan demikian, relasi ekstraktif tidak hilang, melainkan hanya berganti bentuk. Metabolic rift terus berlanjut dan menguat.

Padahal perspektif political ecology sudah menegaskan bahwa krisis ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan relasi kuasa yang timpang. Daerah lokal atau wilayah periferi terus diposisikan sebagai penyedia sumber daya, sementara pusat ekonomi menikmati manfaatnya secara tidak proporsional. Akibatnya, beban ekologis dan sosial tidak terbagi secara adil. 

Energi “hijau” justru berisiko menjadi wajah baru dari pola pembangunan lama yang bersifat tidak berkelanjutan secara struktural. Ia lebih bersih secara teknologi, namun tetap timpang secara sosial dan ekologis. Maka dari itu, paradoks ini menuntut refleksi mendalam agar isu energi tidak hanya mengarah pada perubahan teknologi, tetapi juga transformasi struktural yang menyeluruh dan tidak menyisakan ilusi di tengah potensi krisis yang kian menyeruak.

Ketahanan yang Terlupakan 

Syahdan, di tengah kompleksitas dan kerentanan sistem modern, terdapat bentuk ketahanan yang sering terlupakan dan kurang mendapat perhatian. Dari kalangan kita sendiri, banyak komunitas pedesaan justru masih memiliki akses langsung pada sumber pangan lokal, energi biomassa, dan jaringan sosial yang kuat. Ketahanan ini tidak bergantung pada teknologi canggih, melainkan pada kedekatan dan keterhubungan langsung dengan ekosistem sekitar. Ketika sistem formal modern terganggu, modalitas ini menyediakan ruang adaptasi yang nyata dan berkelanjutan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketahanan sejati tidak selalu identik dengan modernitas dan kompleksitas teknologi. Ia juga dapat lahir dari kemampuan menjaga relasi yang seimbang antara manusia, komunitas, dan alam. Refleksi ini sejatinya sejalan dengan wacana degrowth yang mengkritik obsesi terhadap pertumbuhan ekonomi tanpa batas. 

Alih-alih mengejar ekspansi terus-menerus, pendekatan ini mendorong pembangunan ekonomi yang berakar pada skala lokal, keberlanjutan ekologis, dan kesejahteraan sosial. Pendekatan ini menawarkan paradigma alternatif yang mampu mengatasi kerapuhan modernitas dengan memperkuat ketahanan berbasis komunitas dan ekosistem. 

Akhir kata, refleksi atas dinamika akhir-akhir ini menjelaskan bahwa krisis energi global sejatinya lebih dari sekadar persoalan pasokan. Ia merupakan cermin yang memperlihatkan sejauh mana masyarakat modern telah terputus dari basis ekologis yang menopang kehidupannya. 

Ketika relasi manusia dengan alam direduksi menjadi relasi ekstraksi semata, setiap gangguan dalam sistem global berpotensi mengguncang kehidupan sehari-hari secara drastis. Modernitas yang menjanjikan efisiensi dan kemudahan justru menyembunyikan kerentanan yang tersembunyi di balik kompleksitasnya. 

Pelajaran utama dari krisis ini bukanlah penolakan terhadap teknologi, melainkan penataan ulang cara kita memosisikannya dalam kerangka yang lebih etis dan berkelanjutan. Teknologi harus ditempatkan dalam batas ekologis yang jelas, memperkuat kemandirian lokal, dan memulihkan relasi harmonis antara manusia dan alam. Ketahanan sejati tidak lahir dari kompleksitas sistem yang rapuh, melainkan dari kedekatan dan keseimbangan kita dengan sumber kehidupan itu sendiri. Semoga kita bisa melakukannya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Faiz Kasyfilham
Faiz Kasyfilham
Dosen Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Diponegoro

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...