Sri Mulyani dan Kembalinya Indonesia ke Panggung Kebijakan Dunia

Waode Nurmuhaemin
Oleh Waode Nurmuhaemin
13 Agustus 2026, 08:05
Waode Nurmuhaemin
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di tengah hiruk-pikuk politik domestik, publik mungkin menganggap kabar mengenai Sri Mulyani yang kembali mendapat kepercayaan dalam agenda pembiayaan negara-negara termiskin melalui Bank Dunia hanyalah berita biasa. Sebagian melihatnya sebagai kelanjutan karier seorang ekonom yang telah lama dikenal dunia internasional. Namun, sesungguhnya peristiwa ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar promosi jabatan atau pengakuan terhadap kapasitas individu.

Ini adalah sinyal bahwa Indonesia kembali memiliki tempat di ruang tempat arah pembangunan dunia dirumuskan. Kepercayaan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Dunia mengenal Sri Mulyani bukan hanya sebagai Menteri Keuangan Indonesia yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi dalam berbagai krisis, tetapi juga sebagai Managing Director sekaligus Chief Operating Officer (COO) Bank Dunia pada periode 2010–2016. 

Dalam posisi itu, beliau berada di lingkaran kepemimpinan tertinggi Bank Dunia yang mengawasi operasional lembaga di berbagai kawasan dunia, mulai dari Afrika, Asia, Amerika Latin hingga Eropa Timur. Jabatan tersebut bukan posisi seremonial, melainkan salah satu jabatan paling strategis dalam tata kelola pembangunan internasional.

Kini, ketika Sri Mulyani kembali dipercaya dalam agenda pembiayaan negara-negara termiskin melalui Bank Dunia, sesungguhnya yang sedang terjadi adalah keberlanjutan dari rekam jejak panjang yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade. Dunia tidak sedang memberikan hadiah kepada Indonesia, melainkan mempercayakan tanggung jawab kepada seseorang yang telah teruji mengelola kebijakan publik, memahami pembangunan, serta memiliki kredibilitas internasional.

Sayangnya, kita sering gagal membaca makna strategis di balik peristiwa seperti ini. Selama bertahun-tahun Indonesia mengeluhkan dominasi negara-negara maju dalam berbagai organisasi internasional. Kita berbicara mengenai ketimpangan global, ketidakadilan distribusi pembiayaan pembangunan, hingga minimnya representasi negara berkembang dalam lembaga-lembaga dunia. Namun ketika seorang Indonesia kembali dipercaya mengemban tanggung jawab strategis, perhatian publik justru lebih banyak tersita oleh dinamika politik jangka pendek.

Padahal, dalam geopolitik abad ke-21, pengaruh suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau besarnya produk domestik bruto. Pengaruh juga dibangun melalui manusia-manusia yang dipercaya menduduki posisi strategis dalam organisasi internasional. Mereka menjadi wajah intelektual, sekaligus representasi kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman hingga Korea Selatan telah lama memahami strategi tersebut. Mereka menempatkan ekonom, ilmuwan, akademisi, dan diplomat terbaiknya di IMF, Bank Dunia, OECD, UNESCO, WHO maupun berbagai organisasi multilateral lainnya. Mereka sadar bahwa kebijakan global tidak hanya ditentukan oleh kepala negara, tetapi juga oleh para profesional yang duduk di ruang-ruang teknokratis.

Indonesia semestinya mulai berpikir dengan perspektif yang sama. Bank Dunia bukan sekadar lembaga pemberi pinjaman. Institusi ini ikut menentukan arah pembiayaan pembangunan, strategi pengentasan kemiskinan, investasi pendidikan, kesehatan, transformasi energi, pembangunan infrastruktur hingga adaptasi perubahan iklim. 

Salah satu instrumen terpentingnya adalah International Development Association (IDA) yang menyediakan pembiayaan lunak bagi negara-negara termiskin di dunia. Ketika seorang Indonesia dipercaya mengemban peran dalam agenda tersebut, sesungguhnya Indonesia sedang memperoleh posisi yang sangat strategis dalam percakapan mengenai masa depan pembangunan global.

Yang menarik, perjalanan Sri Mulyani menunjukkan bahwa pengakuan internasional dibangun melalui konsistensi, bukan popularitas. Setelah memimpin Kementerian Keuangan Indonesia, ia dipercaya menjadi Managing Director Bank Dunia. Setelah kembali memimpin reformasi fiskal Indonesia, ia kemudian aktif dalam berbagai forum internasional dan kini juga berkiprah di lingkungan akademik global melalui Oxford. Rangkaian perjalanan ini memperlihatkan bahwa kompetensi yang terus diasah akan selalu menemukan ruang pengabdian yang lebih luas.

Ironisnya, ketika dunia mulai mengakui kualitas SDM Indonesia, kita justru masih menghadapi pekerjaan rumah besar di dalam negeri. Anggaran riset masih relatif kecil dibandingkan banyak negara, budaya membaca belum menjadi kekuatan nasional, publikasi ilmiah belum menjadi arus utama, sementara sistem merit sering kali masih berbenturan dengan kepentingan nonprofesional. Dalam situasi seperti itu, keberhasilan individu sering dipandang sebagai pengecualian, bukan sebagai hasil dari ekosistem yang memang dirancang melahirkan pemimpin kelas dunia.

Di sinilah pelajaran terbesar dari perjalanan Sri Mulyani. Indonesia tidak cukup hanya bangga karena memiliki seorang tokoh yang dipercaya Bank Dunia. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem agar lahir seratus, bahkan seribu Sri Mulyani baru di masa depan. Negara ini membutuhkan lebih banyak ekonom yang memimpin lembaga internasional, ilmuwan yang menjadi rujukan dunia, akademisi yang mengajar di universitas-universitas terbaik, serta birokrat yang dihormati karena kompetensinya.

Kepercayaan dunia kepada Sri Mulyani seharusnya menjadi refleksi nasional. Bahwa investasi terbaik sebuah bangsa bukan hanya jalan tol, bendungan, atau gedung pencakar langit, melainkan manusia yang mampu memengaruhi arah kebijakan global.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh negara yang kaya sumber daya alam, tetapi juga oleh negara yang berhasil menempatkan putra-putri terbaiknya di meja tempat keputusan-keputusan dunia dibuat. Dan ketika seorang Indonesia kembali dipercaya mengelola agenda pembiayaan bagi negara-negara termiskin, sesungguhnya yang sedang dipercaya bukan hanya nama Sri Mulyani, melainkan nama Indonesia di panggung kebijakan global.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Waode Nurmuhaemin
Waode Nurmuhaemin
Research Fellow INTI International University & Colleges, Malaysia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...