Menjemput Peluang Kerja Hijau dari Kampung Halaman

Herlina Oktavianti dan Prama Wiratama
Oleh Herlina Oktavianti - Prama Wiratama
13 Agustus 2026, 08:20
Herlina Oktavianti dan Prama Wiratama
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang membendung sektor formal belakangan ini kembali menegaskan persoalan mendasar pasar kerja kita: mismatch antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan industri. Dalam semester I-2026, puluhan ribu pekerja terpaksa kehilangan mata pencaharian. 

Namun, di tengah kelesuan ekonomi formal, narasi transisi energi dan ekonomi hijau menawarkan secercah harapan. Pertanyaannya, sejauh mana peluang ini benar-benar dapat dijangkau oleh masyarakat arus bawah?

Sering kali, pembicaraan mengenai green jobs atau pekerjaan hijau terjebak dalam romantisme teknokratis: seolah-olah peluang ini hanya milik lulusan perguruan tinggi ternama dengan keahlian teknik tinggi di kota-kota besar. Padahal, jika kita mencermati peta kebijakan iklim global dan domestik, pusat pertumbuhan pekerjaan masa depan justru berada di pelosok desa.

Durabilitas Komitmen Iklim dan Pasar Karbon

Komitmen iklim Indonesia—seperti penyerahan Second Nationally Determined Contribution (SNDC) ke UNFCCC—bukan sekadar dokumen diplomatik. Pembaruan komitmen secara berkala ini memberikan kepastian jangka panjang bagi pasar kerja: permintaan terhadap tenaga kerja dan proyek di sektor hijau akan terus bergulir hingga berdekade-dekade ke depan.

Keseriusan ini makin terlihat dari peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang memfasilitasi berbagai standar Monitoring, Reporting, and Verification (MRV). Dengan membuka pintu bagi standar internasional seperti Verra di samping standar nasional, Indonesia menciptakan ekosistem yang fleksibel. 

Langkah serupa juga diambil oleh negara seperti Kenya melalui Kenya National Carbon Registry (KNCR). Keterbukaan interoperabilitas ini menjadi sinyal kuat masuknya investasi pada proyek-proyek berbasis alam.

Rasionalitas Ilmiah Nature-based Solutions

Minat investor global terhadap Nature-based Solutions (NBS) atau solusi berbasis alam seperti restorasi lahan gambut dan reforestasi memiliki dasar ilmiah yang kuat. Studi menegaskan bahwa solusi berbasis alam merupakan jalur mitigasi iklim paling efektif dari segi biaya (cost-effective), ia bisa memberikan lebih dari sepertiga penurunan emisi yang ditargetkan pada tahun 2030 (Griscom et al., 2017).

Namun, karakteristik utama proyek berbasis alam adalah ketergantungannya pada konteks lokal. Proyek karbon senilai miliaran rupiah tidak akan berjalan di atas kertas belaka. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh pemahaman mendalam atas batas wilayah, dinamika sosial, serta keanekaragaman hayati setempat. 

Pelajaran berharga terlihat dari penangguhan beberapa proyek karbon di Kenya akibat aba-aba konsultasi komunitas yang diabaikan. Ini membuktikan bahwa keterlibatan warga lokal bukanlah formalitas administratif, melainkan benteng utama keberlanjutan proyek.

Keterampilan Lokal dan Keadilan Transisi

Di sinilah letak redefinisi green jobs. Pekerjaan hijau tidak selalu menuntut ijazah formal sarjana lingkungan, melainkan keahlian praktis di lapangan. Pengembang proyek (project developer) saat ini sangat membutuhkan tenaga lokal untuk berbagai posisi strategis:

  • Fasilitator Komunitas: Menjadi jembatan komunikasi antara tim teknis dan masyarakat adat/lokal.

  • Petugas Data Lapangan: Mengumpulkan sampel keanekaragaman hayati dan tanah.

  • Juru Pemetaan Lahan: Memetakan batas wilayah berbasis pengetahuan sejarah lokal.

  • Petugas Pemantauan Lahan: Memastikan kelestarian kawasan secara berkala.

Pemerintah sebenarnya telah merintis Peta Okupasi Nasional Green Jobs dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) melalui Bappenas. Namun, regulasi ini akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran (awareness) publik di tingkat tapak.

Penutup: Merawat Tanah, Membangun Masa Depan

Pada akhirnya, green jobs menawarkan narasi baru dalam pembangunan nasional: mencari penghidupan yang layak tidak harus selalu berujung pada migrasi ke kota-kota besar. Masa depan ekonomi justru tersimpan di kampung halaman.

Dengan memosisikan warga lokal sebagai pemangku kepentingan utama—bukan sekadar penonton—kita tidak hanya membuka lapangan kerja baru. Namun, juga memastikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau berjalan secara adil dan berkelanjutan terutama di negara berkembang. Contohnya Green Belt Movement di Kenya dan Solar Electric Lighting Company di India (Tamasiga et al., 2026). Keterlibatan warga lokal perlu untuk melindungi hak-hak masyarakat adat atas tanah kelahiran mereka.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Herlina Oktavianti dan Prama Wiratama
Herlina Oktavianti
Analis Kebijakan di Direktorat Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Kementerian Keuangan

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...