Algoritma yang Membentuk Perilaku Konsumsi Masyarakat

Mohammad Nur Rianto Al Arif
Oleh Mohammad Nur Rianto Al Arif
24 Agustus 2026, 07:05
Mohammad Nur Rianto Al Arif
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saat ini kita hidup pada zaman ketika perilaku konsumsi tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh preferensi manusia, melainkan oleh sistem komputasi yang terus belajar tentang manusia itu sendiri. Algoritma bukan sekadar alat bantu pencarian informasi, tetapi telah menjelma menjadi “arsitek” baru yang membentuk selera, preferensi, bahkan keputusan ekonomi masyarakat. Fenomena tersebut semakin relevan bagi Indonesia yang tengah mengalami akselerasi transformasi digital. Saat ini, sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat berlangsung di ruang digital yang dikendalikan oleh algoritma.

Algoritma bekerja melalui pengumpulan data yang nyaris tanpa henti. Setiap klik, durasi menonton video, produk yang disimpan dalam keranjang belanja, lokasi yang dikunjungi, hingga waktu seseorang membuka aplikasi menjadi bahan baku untuk membangun profil digital pengguna. Dari jutaan potongan data tersebut, sistem kecerdasan buatan memprediksi kemungkinan besar apa yang akan dibeli seseorang berikutnya.

Fakta yang menarik, algoritma tidak hanya memprediksi perilaku, tetapi juga menciptakannya. Peran algoritma mulai bergeser dari fungsi informatif menjadi fungsi persuasif. Platform digital memahami bahwa emosi manusia jauh lebih efektif dibandingkan logika dalam mendorong konsumsi. Oleh karena itu, algoritma dirancang untuk memunculkan konten yang mampu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang berada di dalam aplikasi, semakin besar peluang terjadinya transaksi.

Akibatnya, masyarakat semakin sering melakukan pembelian impulsif. Diskon yang muncul secara personal, hitung mundur promosi, notifikasi “stok hampir habis”, atau informasi bahwa ribuan orang sedang membeli produk yang sama merupakan bentuk digital nudging, yakni dorongan perilaku yang dirancang secara sistematis melalui algoritma. Perubahan ini menghasilkan paradoks. 

Di satu sisi, algoritma meningkatkan efisiensi ekonomi. Namun, di sisi lain, efisiensi tersebut dibayar dengan berkurangnya otonomi konsumen. Pilihan yang dianggap bebas sesungguhnya telah melalui proses penyaringan oleh algoritma. Produk yang terlihat paling populer belum tentu merupakan produk terbaik, melainkan produk yang paling berhasil dioptimalkan untuk memenangkan sistem rekomendasi.

Dalam perspektif ekonomi perilaku, kondisi ini menunjukkan terjadinya pergeseran dari kedaulatan konsumen menuju pengaruh algoritma. Pada era kecerdasan buatan, informasi yang diterima konsumen justru telah dipilih terlebih dahulu oleh algoritma. Konsumen tidak lagi melihat seluruh pilihan yang tersedia, melainkan hanya pilihan yang dianggap paling relevan oleh sistem. 

Fenomena tersebut juga menciptakan apa yang dikenal sebagai “filter bubble”. Algoritma cenderung terus menampilkan produk, konten, atau pandangan yang sejalan dengan perilaku sebelumnya. Akibatnya, preferensi konsumen menjadi semakin sempit. Sistem lebih memilih untuk memberikan apa pun yang paling mungkin menghasilkan transaksi.

Secara ekonomi, kondisi ini berpotensi mengurangi persaingan di pasar. Produk dari perusahaan besar yang memiliki sumber daya lebih besar untuk mengoptimalkan algoritma akan lebih mudah muncul dibandingkan dengan produk pelaku usaha kecil yang sebenarnya memiliki kualitas lebih baik. Lebih jauh lagi, algoritma juga berkontribusi terhadap berkembangnya budaya konsumsi instan. Jika dahulu keputusan membeli membutuhkan pertimbangan, kini keputusan tersebut cukup dilakukan dengan sentuhan jari.

Tidak mengherankan apabila berbagai survei menunjukkan meningkatnya penggunaan layanan kredit digital dan pembayaran yang fleksibel, terutama di kalangan generasi muda. Kemudahan teknologi memang memperluas inklusi keuangan, tetapi pada saat yang sama juga meningkatkan risiko konsumsi berlebihan apabila tidak disertai literasi keuangan yang memadai. 

Dalam konteks yang lebih luas, algoritma sesungguhnya membentuk budaya ekonomi baru. Nilai sebuah barang tidak lagi hanya ditentukan oleh fungsi ekonominya, tetapi juga oleh visibilitas digitalnya. Produk yang viral sering kali lebih cepat laku dibandingkan produk yang secara objektif lebih berkualitas.

Persoalan semakin kompleks ketika algoritma tidak sepenuhnya transparan. Publik tidak pernah benar-benar mengetahui mengapa suatu produk muncul di layar mereka sementara produk lain tidak. Mekanisme tersebut merupakan “kotak hitam” yang hanya dipahami oleh perusahaan teknologi. Padahal, keputusan algoritma berdampak ekonomi yang sangat besar, baik terhadap perilaku konsumen maupun keberlanjutan pelaku usaha.

Oleh karena itu, tantangan ke depan bukanlah menolak algoritma, melainkan memastikan algoritma bekerja secara etis dan akuntabel. Regulasi mengenai transparansi sistem rekomendasi, perlindungan data pribadi, serta tata kelola kecerdasan buatan perlu terus diperkuat agar inovasi digital tidak berkembang tanpa arah. 

Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital dan literasi keuangan. Konsumen harus menyadari bahwa tidak semua rekomendasi yang muncul merupakan kebutuhan yang sebenarnya. Kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin penting ketika algoritma terus berupaya mengaburkan batas keduanya.

Pada akhirnya, algoritma hanyalah alat, karena yang menentukan arah pemanfaatannya tetaplah manusia. Teknologi memang mampu membaca perilaku kita, tetapi jangan sampai ia mengambil alih kemampuan kita untuk berpikir kritis. Kemajuan ekonomi digital semestinya menghasilkan masyarakat yang semakin cerdas dalam mengambil keputusan, bukan masyarakat yang sekadar mengikuti apa yang diperintahkan oleh mesin. 

Jika algoritma terus membentuk perilaku konsumsi tanpa diimbangi oleh kesadaran kritis, maka yang hilang bukan hanya kebebasan memilih, melainkan juga kedaulatan konsumen itu sendiri. Di era ekonomi digital, menjaga kedaulatan tersebut sama pentingnya dengan membangun inovasi teknologi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Mohammad Nur Rianto Al Arif
Mohammad Nur Rianto Al Arif
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...