Jika Targetnya Kemiskinan, Mengapa Desil Dibutuhkan?

Amy Wardian Pratama
Oleh Amy Wardian Pratama
26 September 2026, 05:45
Amy Wardian Pratama
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Data kemiskinan menjawab pertanyaan “siapa yang berada di bawah standar minimum?” Sedangkan desil menjawab pertanyaan “di mana posisi relatif kesejahteraan seseorang dibandingkan yang lain?”  

Data kemiskinan dan desil bukan dua ukuran yang saling menggantikan. Keduanya menjelaskan hal yang berbeda. Ketika kemiskinan turun dari 10% menjadi 9%, berarti proporsi penduduk miskin berkurang 1% poin. Berita baik? Tentu saja. 

Tetapi apakah hanya 1% penduduk yang keluar dari kemiskinan? Belum tentu. Bisa jadi 3% orang keluar dari kemiskinan, tetapi 2% lainnya jatuh miskin. Bisa juga 8% keluar, sementara 7% lainnya masuk. Angka akhirnya tetap sama: kemiskinan turun 1% poin.

Angka kemiskinan BPS menggambarkan kondisi kemiskinan pada periode pengamatan. Angka tersebut tidak dapat dengan sendirinya menunjukkan arus masuk dan keluar kemiskinan.

Sementara kesejahteraan keluarga bersifat dinamis. Hari ini tidak miskin, besok bisa miskin. Hari ini miskin, bulan depan bisa keluar dari kemiskinan. Karena itu, angka kemiskinan tidak menunjukkan seluruh spektrum kesejahteraan penduduk. 

Di antara mereka yang miskin dan tidak miskin terdapat kelompok dengan tingkat kesejahteraan yang berbeda-beda. Ada yang sangat dekat dengan garis kemiskinan, ada pula yang berada jauh di atasnya. Di sinilah informasi desil yang memetakan posisi relatif kesejahteraan menjadi penting.

Tidak Miskin Bukan Berarti Tidak Rentan 

Tidak semua keluarga yang tidak miskin harus menerima bantuan sosial (bansos). Namun, bukan berarti mereka tidak membutuhkan perlindungan sosial. Sebagian dari mereka tetap menghadapi risiko yang dapat membuat kesejahteraannya jatuh secara tiba-tiba. 

Ambil contoh pedagang kaki lima. Hari Senin dagangannya laris. Hari Selasa dia sakit dan tidak bisa berjualan. Pendapatan berhenti. Pengeluaran tetap berjalan. Hari ini tidak miskin bukan berarti besok aman dari kemiskinan.

Karena itu, kebijakan perlindungan sosial tidak cukup hanya melihat siapa yang berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga perlu informasi mengenai kelompok yang berada di sekitar atau di atas garis kemiskinan tetapi memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif rendah.

Lantas, sampai desil berapa cakupan program perlindungan sosial sebaiknya diperluas? 

Memilih Cakupan Bukan Perkara Gampang

Cakupan yang terlalu luas dapat membuat nilai manfaat per penerima menjadi terlalu kecil. Sebaliknya, cakupan yang terlalu sempit dapat meningkatkan risiko exclusion error dan membuat kelompok prioritas kurang terlindungi.

Klasen dan Lange (2016)—melalui simulasi penargetan di Indonesia—menunjukkan bahwa cakupan bantuan yang mendekati proporsi penduduk miskin dapat menghasilkan dampak pengurangan kemiskinan yang mendekati maksimum.   

Masih dari Indonesia, Nugroho dkk. (2021) menunjukkan bahwa integrasi berbagai program perlindungan sosial dapat meningkatkan dampaknya terhadap pengurangan kemiskinan.

Jika bantuan langsung harus memiliki sasaran yang lebih terarah, bagaimana dengan kelompok rentan yang belum tentu miskin?

Di sinilah pentingnya membedakan fungsi bansos dan jaminan sosial (jamsos). Salah satu pendekatannya adalah memperluas perlindungan melalui jamsos.  

Bansos diberikan secara langsung kepada keluarga yang diprioritaskan berdasarkan kesejahteraannya. Sementara itu, jamsos memberikan perlindungan ketika seseorang menghadapi risiko yang dapat menurunkan kesejahteraannya. Misalnya, usia tua, sakit, disabilitas, atau bencana, meskipun seseorang tidak sedang menerima bansos. Jamsos juga dapat berfungsi untuk meminimalkan potensi gesekan sosial.

Salah satu risiko penetapan cutoff muncul ketika keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang hampir sama berada di sisi yang berbeda dari batas cakupan. Ketika perbedaan kesejahteraan di sekitar cutoff sangat tipis, potensi munculnya persepsi ketidakadilan dapat semakin besar. Terutama, ketika risiko terjadi, lalu satu keluarga menerima bantuan sementara yang lain tidak.

Desil Juga Bisa Menjadi Cermin Program

Selain memetakan prioritas sasaran, desil juga dapat digunakan untuk melihat siapa sebenarnya yang menerima manfaat program. Misalnya ada dua program bantuan.

Program A ternyata sebagian besar penerimanya berada pada desil 1 dan 2. Program B justru tersebar hampir merata sampai desil 7.

Mana yang penyalurannya lebih progresif? Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan melihat jumlah penerima. Jumlah penerima bisa sama. Anggarannya bisa sama. Tetapi distribusinya bisa sangat berbeda.

Dengan melihat distribusi penerima menurut desil, pemerintah dapat menilai apakah penerima program terkonsentrasi pada kelompok yang menjadi sasaran prioritas.

Karena itu, pertanyaan “Jika targetnya kemiskinan, mengapa desil dibutuhkan?” perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Kemiskinan dan desil tidak memiliki pekerjaan yang sama.

Data kemiskinan membantu mengukur seberapa besar masalah kemiskinan, sementara desil membantu memetakan posisi relatif kesejahteraan dan menentukan prioritas intervensi. Karena perlindungan sosial bukan hanya tentang siapa yang miskin hari ini, tetapi juga siapa yang rentan jatuh miskin besok.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Amy Wardian Pratama
Amy Wardian Pratama
Staf di BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...