Spirit Hatta dan Krisis Hutan Sumatra
Memangku berarti menjaga dengan tanggung jawab dan mengelola dengan kebijaksanaan. Prinsip ini menegaskan adanya batas yang tidak boleh dilampaui. Pembangunan tidak diukur dari seberapa cepat sumber daya dihabiskan, tetapi dari seberapa lama kehidupan dapat dipertahankan tanpa merusak fondasinya. Di sinilah terlihat perbedaan antara kemajuan yang beradab dan yang merusak.
Hutan Sumatra menjadi ruang uji dari prinsip tersebut. Ia bukan sekadar bentang alam yang luas. Ia adalah sistem penyangga kehidupan yang bekerja secara utuh. Hutan mengatur tata air, menyimpan karbon, menjaga kesuburan tanah, dan menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati. Semua fungsi ini saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain akan ikut terdampak (Margono et al., \2014).
Namun dalam beberapa dekade terakhir, tekanan terhadap hutan terus meningkat. Konversi lahan berlangsung dalam skala besar. Eksploitasi sumber daya dilakukan tanpa jeda pemulihan yang memadai. Laju kehilangan hutan menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Perubahan ini bukan hanya soal berkurangnya tutupan hutan, tetapi juga melemahnya sistem kehidupan yang bergantung padanya (Gaveau et al., 2014).
Kerusakan hutan membawa dampak yang nyata. Siklus air terganggu. Daya serap tanah menurun. Erosi meningkat. Risiko banjir dan kekeringan menjadi lebih tinggi. Bencana tidak lagi bisa dianggap sebagai peristiwa alam semata. Ia merupakan konsekuensi dari keputusan manusia yang melampaui batas ekologis (Page et al., 2002).
Krisis ini juga tercermin pada spesies kunci yang hidup di dalamnya. harimau sumatra membutuhkan wilayah jelajah yang luas dan utuh untuk bertahan hidup (Linkie et al., 2008). Gajah sumatra berperan penting dalam penyebaran biji dan pembentukan struktur hutan (Blake et al., 2009). Orangutan menjaga regenerasi hutan melalui pola makan dan pergerakannya (Wich et al., 2008). Badak sumatra menjadi indikator paling jelas dari tekanan ekstrem terhadap habitat (IUCN, 2023). Ketika spesies ini terancam, yang runtuh bukan hanya populasinya, tetapi juga keseimbangan ekosistem.
Tekanan utama berasal dari aktivitas manusia. Pembukaan hutan untuk perkebunan menjadi pendorong utama deforestasi. Pembalakan mempercepat degradasi hutan. Pembangunan infrastruktur memecah lanskap menjadi fragmen kecil. Kebakaran lahan memperparah kondisi yang sudah rentan (Austin et al., 2019). Semua ini terjadi dalam pola yang berulang dan menunjukkan pilihan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Fragmentasi hutan menciptakan dampak lanjutan. Habitat yang terpecah tidak lagi mampu menopang kehidupan jangka panjang. Satwa kehilangan ruang gerak. Sumber pakan berkurang. Interaksi ekologis terganggu. Dalam kondisi seperti ini, konflik antara manusia dan satwa menjadi semakin sering terjadi (Sitompul et al., 2013).
Gajah memasuki lahan pertanian. Harimau mendekati permukiman. Orangutan kehilangan tempat berlindung. Namun konflik ini bukan akar masalah. Ia hanya gejala dari penyempitan habitat yang terus berlangsung. Selama tekanan terhadap hutan tidak dihentikan, konflik akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Sayangnya, respons terhadap situasi ini sering tidak menyentuh akar persoalan. Penanganan lebih banyak berfokus pada konflik di permukaan. Satwa dipindahkan dari lokasi konflik. Area tertentu diamankan sementara. Namun habitat tidak dipulihkan. Masalah tampak selesai, tetapi krisis tetap berjalan.
Pendekatan ini menunjukkan kelemahan dalam cara pandang pembangunan. Alam masih diposisikan sebagai objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Padahal setiap tindakan memiliki konsekuensi ekologis. Ketika batas dilanggar, sistem akan merespons dalam bentuk krisis yang semakin kompleks.
Pembangunan yang mengabaikan realitas ekologis adalah pembangunan yang rapuh. Ia mungkin memberikan keuntungan dalam jangka pendek. Namun ia menciptakan beban dalam jangka panjang berupa bencana, konflik, dan penurunan kualitas hidup. Dalam kerangka pemikiran Mohammad Hatta, pendekatan ini tidak hanya keliru secara ekologis, tetapi juga gagal secara moral.
Hatta menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan bersama. Memangku alam berarti menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan. Alam tidak boleh dieksploitasi tanpa kendali. Ia harus dikelola dengan bijaksana agar tetap mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang.
Menjaga hutan Sumatra adalah bagian dari menjaga kedaulatan. Hutan menentukan ketersediaan air, mempengaruhi stabilitas iklim lokal, dan menopang keberlanjutan pangan. Tanpa hutan yang sehat, fondasi kehidupan akan melemah dan ketergantungan akan meningkat.
Karena itu, konservasi tidak boleh diposisikan sebagai pelengkap. Ia harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan. Setiap keputusan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menghasilkan ilusi kemajuan yang rapuh.
Perubahan cara pandang menjadi kebutuhan mendesak. Alam memiliki batas yang tidak bisa dinegosiasikan. Melampaui batas berarti menciptakan ketidakadilan bagi generasi mendatang. Mereka akan menanggung dampak dari kerusakan yang terjadi hari ini.
Memangku hutan menuntut keberanian. Keberanian untuk menahan eksploitasi yang berlebihan. Keberanian untuk menolak praktik yang merusak. Keberanian untuk memilih jalan yang lebih berkelanjutan. Pilihan ini tidak mudah, tetapi sangat diperlukan.
Masa depan Sumatra ditentukan oleh pilihan hari ini. Jika tekanan terhadap hutan terus berlanjut, krisis akan semakin dalam. Jika hutan dijaga, peluang pemulihan tetap ada.
Memangku hutan berarti menjaga keseimbangan kehidupan. Satwa tetap memiliki ruang hidup. Ekosistem tetap berfungsi. Manusia tetap memiliki lingkungan yang layak untuk hidup. Sebagaimana semangat pemikiran Mohammad Hatta, siapa yang menjaga alam dengan jujur akan hidup dari kebaikan alam itu sendiri.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
