Menempatkan Kesehatan di Jantung Pertumbuhan Ekonomi
Katadata Policy Dialogue pada 20 Oktober 2026 menghadirkan kembali angka-angka pertumbuhan ekonomi Indonesia, posisi anggaran negara dan fiskal serta target-target pertumbuhan. Pemaparan diwakilkan oleh Kementerian Keuangan, KADIN Indonesia, dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Ketiganya menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai arah ekonomi Indonesia. Pemerintah menekankan optimisme dan kapasitas kebijakan fiskal; dunia usaha mengingatkan tantangan operasional dan kepercayaan investasi; sementara DEN memetakan tekanan eksternal yang perlu di antisipasi.
Di balik pembahasan mengenai nilai tukar, belanja negara, investasi, dan daya beli, terdapat pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Khususnya di bidang kesehatan: apakah obat tetap tersedia, bagaimana dengan obat-obat baru? Apakah pelayanan kesehatan dapat dijangkau oleh masyarakat dan terjangkau? Apakah perlindungan sosial bagi masyarakat sudah memadai? Apakah pembiayaannya dapat dipertahankan? Secara fundamental. Apakah keberlanjutan transformasi industri kesehatan dan keterjangkauan layanan harus ditempatkan dalam percakapan ekonomi yang sama?
Optimisme Fiskal Membutuhkan Jembatan
Kementerian Keuangan mengusung pendekatan pro growth, pro welfare, pro fiscal sustainability. APBN diposisikan sebagai peredam guncangan, penggerak pembangunan, sekaligus instrumen untuk menjaga kesinambungan fiskal.
Dalam arsitektur APBN 2027 yang ditampilkan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6%, dengan belanja negara Rp4.106,3 triliun dan defisit 2,40% terhadap PDB. Kesehatan menjadi salah satu dari delapan klaster prioritas nasional, dengan anggaran Rp244,9 triliun. Arah penggunaannya mencakup peningkatan akses dan kualitas layanan, efektivitas JKN, serta penguatan promotif dan preventif.
Ini merupakan sinyal penting untuk transformasi industri kesehatan. Namun, angka-angka anggaran itu baru membuka awal percakapan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana alokasi tersebut diterjemahkan menjadi layanan yang benar-benar diterima masyarakat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Berapa besar anggaran yang tersedia mendukung penguatan layanan primer? Bagaimana kesinambungan pembiayaan obat, vaksin, diagnostik, dan alat kesehatan? Apakah pelaksanaannya memberi kepastian bagi fasilitas pelayanan maupun pemasok?
Lalu bagaimana anggaran untuk kesehatan dapat diutilisasi dengan efektif dan efisien agar angka-angka indikator perbaikan kesehatan masyarakat dapat tercapai. Bagaimana industri di sisi yang lain memahami struktur anggaran ini dan menjadikannya sebagai suatu peluang untuk dapat bersinergi dengan pemerintah?
Pentingnya Kepastian dan Transparansi
Paparan KADIN yang disampaikan Dr. Aviliani memperlihatkan kondisi yang dihadapi pelaku usaha dalam menjalankannya. Pesannya cukup tegas: jarak antarkrisis semakin pendek, sementara perusahaan harus terus beradaptasi terhadap tekanan nilai tukar, biaya pendanaan, energi, dan perubahan permintaan.
KADIN menekankan kebutuhan akan kepastian serta konsistensi kebijakan, komunikasi pemerintah yang lebih jelas, dukungan terhadap sektor swasta, dan penyelesaian hambatan investasi.
Perbedaan proyeksi pertumbuhan juga perlu diperhatikan. Untuk 2027, KADIN menampilkan kisaran pertumbuhan 4,86%–5,17%, di bawah target pemerintah sebesar 6%. Dalam pandangannya, pencapaian target membutuhkan realisasi investasi yang cepat, keterlibatan sektor swasta, dan pemulihan konsumsi kelas menengah.
Apa artinya ini bagi industri kesehatan? Bagi industri kesehatan, perbedaan ini menjadi alasan untuk menyiapkan beberapa skenario usaha. Perusahaan perlu menguji ketahanan rencana investasi, kebutuhan modal kerja, serta kesinambungan pasokan apabila pertumbuhan permintaan atau realisasi belanja berjalan lebih lambat daripada harapan. Kepastian kebijakan memiliki arti yang sangat konkret dalam sektor ini.
Keterbukaan pemerintah terhadap investasi untuk bahan baku obat, investasi pembangunan rumah sakit oleh penanaman modal asing, revitalisasi layanan primer, penggunaan APBN/APBD yang mengutamakan pengadaan produk dalam negeri selayaknya disertai dengan transparansi dan konsistensi sesuai dengan komitmen pemerintah yang telah dituangkan di dalam kebijakan dan regulasi.
Investasi di industri kesehatan ini bukan industri yang singkat dan perlu proses yang berliku dan bertahun-tahun untuk para pelaku usaha mendapatkan modalnya kembali. Oleh karenanya sangat wajar bila dunia usaha membutuhkan tidak hanya insentif investasi tetapi juga konsistensi dan transparansi serta kepastian hukum dalam menjalankan roda perekonomian.
Pada akhirnya, iklim usaha yang kondusif akan melahirkan inovasi-inovasi dari industri untuk kebermanfaatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Masyarakat Sehat, Ekonomi Bertumbuh
Percakapan ekonomi untuk sektor kesehatan tidak bisa hanya terbatas kepada layanan untuk mereka yang sakit saja. Perspektif tentang kesehatan sendiri harus diperluas dengan menghadirkan ekosistem yang menyentuh lintas sektor, tidak hanya terbatas pada paradigma penyakit dan angka kematian.
Kesehatan seharusnya berorientasi pada kata sehat dan bukan sakit. Industri wellness merupakan ekosistem yang baru dan selayaknya dapat menjadi booster untuk pertumbuhan ekonomi tidak hanya di industri kesehatan tetapi lintas sektor secara keseluruhan.
Di tengah target pertumbuhan ekonomi 6%, industri wellness ini akan mempunyai dua peran sekaligus: berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan menjaga kemampuan masyarakat untuk hidup sehat serta produktif. Pertumbuhan ekonomi yang bermakna harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang-ruang untuk masyarakat dapat mengakses layanan untuk hidup lebih sehat dan produktif tersedia, bahkan sesederhana menyediakan ruang-ruang publik untuk bercengkrama atau ruang private sebagai safe space “bercerita”.
Fasilitas kesehatan tidak hanya mendesain ruangan dan layanannya untuk mereka yang sakit tetapi juga untuk menjaga kesehatan jiwa dan raganya. Kebijakan-kebijakan perkantoran juga didorong untuk memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk mendapatkan akses dan waktu untuk hidup sehat. Industri makanan dan minuman juga berorientasi untuk menyehatkan masyarakat.
Di samping itu, kebutuhan untuk pelayanan bagi mereka yang sakit juga tetap terjaga: obat tersedia ketika dibutuhkan, pelayanan yang dibutuhkan dapat dijangkau, para ahli dan tenaga kesehatan memadai, dan keluarga memperoleh perlindungan ketika menghadapi keluarganya yang sakit, tidak hanya pengobatan tetapi juga rasa tenang saat harus meninggalkan pekerjaan atau saat-saat tidak produktif.
Forum Katadata ini perlu diteruskan menjadi dialog lintas sektor yang melahirkan langkah nyata dengan dampak positif dan terukur. Angka-angka ekonomi perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang memperluas kesempatan masyarakat untuk hidup sehat dan produktif.
Karena itu, pemahaman tentang hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi dunia usaha, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat menjadi bekal penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk merumuskan kebijakan yang saling mendukung.
Di tengah kehidupan yang dirasakan semakin berat, masyarakat membutuhkan harapan yang dapat dirasakan dalam keseharian: kesempatan untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga, memperoleh pertolongan ketika sakit, serta menjalani hidup dengan lebih tenang dan bahagia. Di situlah pertumbuhan ekonomi menemukan maknanya bagi masyarakat Indonesia.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
