Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan pokok kebijakan fiskal untuk RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR di Jakarta.
Kondisi fiskal Indonesia menunjukkan peringatan dini dengan defisit APBN yang membengkak dan defisit keseimbangan primer yang melampaui target tahunan hanya dalam tiga bulan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% di kuartal I-2026 disokong konsumsi dan investasi, namun peran kebijakan fiskal pemerintah menjadi faktor kunci di balik angka tersebut.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% di kuartal I-2026, tertinggi dalam 13 tahun, didorong oleh ketahanan APBN di tengah ketidakpastian global yang berat.
Potensi kekurangan atau shortfall penerimaan pajak tahun ini yang diproyeksi mencapai Rp 171 triliun - Rp 484 triliun akan menyebabkan ruang manuver fiskal yang dimiliki pemerintah semakin sempit.
Pemerintah bentuk 80.081 Koperasi Desa Merah Putih sebagai episentrum pertumbuhan, namun analisis menyoroti risiko fiskal dan tantangan manajerial yang harus dihadapi.
Indonesia mendapat peringatan fiskal dari Moody’s dan Fitch Ratings yang merevisi outlook utang menjadi negatif, menyoroti risiko tata kelola fiskal di tengah target pertumbuhan ekonomi.
Eskalasi perang di Timur Tengah dorong harga minyak dan ancam stabilitas fiskal Indonesia dengan potensi defisit APBN melampaui batas aman 3% dari PDB.
Airlangga menegaskan posisi Indonesia masih berada pada level investment grade, yang menunjukkan perekonomian nasional masih dinilai memiliki fundamental yang kuat oleh lembaga pemeringkat global.