Ekonomi Tumbuh, Kredit Bertambah untuk Siapa?

Eric Wicaksono
Oleh Eric Wicaksono
7 November 2026, 08:00
Eric Wicaksono
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pada 5 November, dua lembaga merilis angka yang sebaiknya dibaca bersama. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi triwulan III-2026 tumbuh 5,47%. Pada hari yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kredit perbankan per September tumbuh 13,26%. Kredit korporasi naik 21,31%. Kredit usaha mikro, kecil, dan menengah naik 2,68%.

Angka terakhir itu mudah dibaca sebagai tanda bank pelit kepada usaha kecil. Bacaan itu terlalu sederhana. Letakkan kedua rilis berdampingan, dan polanya terlihat: kredit bergerak ke tempat pertumbuhan diciptakan, sementara sebagian besar UMKM belum tersambung ke sana. Dibaca bersama, kedua rilis menjawab dua pertanyaan sekaligus: dari mana pertumbuhan ini datang, dan mengapa kreditnya belum sampai ke usaha kecil.

Mulai dari sumber 5,47%. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh paling cepat, 8,95%. BPS mengaitkannya dengan belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN, serta belanja barang untuk program Makan Bergizi Gratis. Belanja modal APBN untuk konstruksi, menurut data Kemenkeu yang dikutip BPS, naik 63,65%. BPS mencatat sektor konstruksi didorong proyek infrastruktur pemerintah dan swasta.

Mesin kedua adalah hilirisasi. Industri logam dasar tumbuh 9,94%, ditopang ekspor katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Industri kimia tumbuh 8,10% karena produksi fatty acid methyl ester (FAME), bahan biodiesel, naik sejak mandatori B50 berlaku 1 Juli. Konsumsi rumah tangga, yang masih menyumbang 51,97% terhadap PDB, tumbuh 5,04%, di bawah laju ekonomi secara keseluruhan.

Rilis OJK menunjukkan arah yang sama. Menurut jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh paling tinggi, 23,20%, disusul kredit modal kerja 11,89%. Menurut kategori debitur, korporasi memimpin. Dalam paparan yang sama, BPS bahkan menyebut peningkatan kredit konstruksi dari bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) sebagai salah satu pendorong sektor konstruksi. Proyek infrastruktur, smelter, dan pabrik biodiesel butuh pembiayaan besar berjangka panjang, dan pembiayaan itu mengalir ke perusahaan yang memegang kontraknya.

Dua data yang bergerak searah belum membuktikan sebab akibat. Kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga tidak mundur: OJK mencatat lajunya naik dari 2,32% pada Agustus. Namun bagi pemilik usaha menengah, pesannya sudah cukup terang. Uang sedang mengikuti mesin pertumbuhan, dan mesin itu digerakkan kontrak besar.

Dari meja pendanaan korporasi, pertanyaan pertama pemberi dana selalu sama: dari mana uang untuk membayar kembali akan datang? Perusahaan pemegang kontrak proyek atau perjanjian pasokan jangka panjang bisa menunjukkan jawabannya di atas kertas. Usaha menengah yang menjual ke pasar umum harus meyakinkan bank dengan proyeksi. Di hadapan komite kredit, kedua posisi itu tidak setara.

Karena itu, jalan masuk ke pertumbuhan ini bukan permohonan pinjaman umum yang hanya bersandar pada pembukuan rapi. Pembukuan rapi adalah syarat dasar, bukan pembeda. Jalan masuknya adalah rantai pasok mesin-mesin tadi: menjadi pemasok kontraktor proyek pemerintah, vendor pabrik pengolahan, penyedia jasa bagi perusahaan hilir, atau pemasok bahan pangan bagi program makan bergizi.

Kontrak itu kemudian menjadi dasar pembiayaan. Dalam pembiayaan rantai pasok, pemberi dana menilai tagihan pemasok kepada pembeli besar, bukan hanya neraca pemasoknya. Dalam kredit berbasis kontrak, perjanjian kerja menjadi dasar menghitung plafon dan jadwal pembayaran. Keduanya tidak otomatis tersedia, dan syaratnya berbeda di setiap lembaga. Tetapi pemilik yang datang membawa kontrak dari pembeli kuat berbicara dalam bahasa yang sama dengan bank yang kredit korporasinya tumbuh 21% dalam setahun.

Jalan ini punya harganya. Bergantung pada satu pembeli besar memindahkan risiko usaha ke jadwal bayar pembeli itu. Proyek pemerintah mengikuti siklus anggaran, sedangkan permintaan produk hilir mengikuti harga komoditas dan kebijakan seperti B50. Pemilik yang masuk ke rantai pasok harus menghitung porsi penjualan yang aman diserahkan kepada satu pembeli, dan menyiapkan kas untuk menunggu pembayaran termin.

Langkah pertamanya sederhana. Petakan pembeli terbesar di sekitar usaha yang sedang menerima belanja negara atau berada di rantai hilirisasi. Tanyakan dua hal kepada mereka: apa syarat menjadi pemasok tetap, dan apakah bank mereka menyediakan fasilitas bagi pemasok. Jawaban kedua menentukan apakah kontrak itu bisa langsung dibawa ke meja kredit.

Pembuat kebijakan dapat membaca pola yang sama. Cara paling langsung memperluas kredit UMKM adalah menyambungkan UMKM ke proyek dan rantai industri yang sedang dibiayai, bukan hanya memperbesar plafon atau target penyaluran.

Pertumbuhan 5,47% sudah punya alamat. Usaha menengah yang ingin ikut tumbuh harus menjadi pemasok di alamat itu, lalu meminjam dengan kontraknya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Eric Wicaksono
Eric Wicaksono
Executive Partner, Principal of Investment & Strategy di Naiman Global

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...