Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bukan hal yang lazim bagi seorang pemimpin Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) mengeluarkan video pernyataan secara tiba-tiba seperti yang baru dilakukan Jerome Powell. Untuk pertama kalinya, Powell memberikan pernyataan secara eksplisit, yang menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya merebut kekuasaan bank sentral.

Ketua The Fed ini sebenarnya lebih banyak mengabaikan Trump yang sudah sering mengkritik kebijakannya terkait suku bunga bank sentral, sebuah upaya intervensi halus. Namun, Powell akhirnya memilih muncul melalui sebuah video pernyataan berdurasi satu menit usai  The Fed menerima surat panggilan pengadilan yang mengisyaratkan tuntutan pidana.

Dalam video yang dirilis Minggu (11/1), Powell menyatakan bahwa panggilan pengadilan itu terkait dengan  kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu. Kesaksian ini sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahunan untuk merenovasi gedung-gedung kantor The Federal Reserve yang bersejarah.

Meski menghormati supremasi hukum, Powell menilai tindakan hukum ini adalah bentuk ancaman dan tekanan berkelanjutan dari pemerintah.

"Ini hanyalah dalih. Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari penetapan suku bunga oleh The Federal Reserve yang menggunakan penilaian terbaik kami, bukan mengikuti preferensi Presiden," ujar Powell dalam video pernyataan yang dirilis melalui situs resmi The Fed.

Powell telah bertugas di Federal Reserve di bawah empat pemerintahan, baik Republikan maupun Demokrat. Ia dipilih pertama kali sebagai Ketua The Fed oleh Trump, kemudian dipilih kembali saat pemerintahan Presiden Joe Biden.

Powell pun memastikan, selama ini menjalankan tugas tanpa pilih kasih politik dan hanya berfokus pada mandat The Fed untuk stabilitas harga dan upaya mendorong lapangan kerja secara maksimal. Ia pun khawatir ancaman terbaru ini akan mempengaruhi langkah The Fed selanjutnya dalam menetapkan kebijakan suku bunga.

Drama baru ini terjadi menjelang penunjukkan Ketua The Fed yang baru. Masa jabatan Powell akan resmi berakhir pada Mei 2026. 

Powell sebenarnya masih dapat maju sebagai Ketua The Fed secara hukum. Ia memenuhi syarat lantaran masih memiliki hak untuk tetap berada di Dewan Gubernur The Fed hingga 2028. Ketua The Fed juga tidak memiliki batas dua periode.

Namun, kans tersebut tampaknya pupus sejak Trump terpilih lagi menjadi presiden. Untuk ditunjuk kembali menjadi Ketua The Fed, Powell harus dinominasikan oleh Presiden Amerika Serikat, yang kemudian dikonfirmasi oleh Senat.  

Powell: Dipilih, tapi Ingin Dipecat Trump

Powell sebenarnya adalah pilihan Trump. Ia dinominasikan sebagai Ketua The Fed oleh Trump di era pemerintahan pertamanya lantaran dianggap punya pengalaman panjang di pasar keuangan. Trump saat itu ingin kebijakan yang berkelanjutan dan reputasi pasar tetap stabil, terutama setelah krisis dan pandemi.

Namun, tak butuh waktu lama bagi Trump untuk menyesal telah memilih Powell. Di era kepemimpinan Powell, The Fed lebih memilih stabilitas jangka panjang dibandingkan memberikan dorongan ekonomi jangka pendek. Hal ini membuat Powell dipersepsikan terlalu kaku dan lamban merespons kebutuhan pertumbuhan ekonomi AS.

Tak heran, Trump mulai melancarkan kritikan atas kebijakan Powell pada tahun pertamanya menjabat sebagai Ketua The Fed. Saat baru memimpin The Fed, Powell menaikkan suku bunga secara bertahap sebagai langkah normalisasi kebijakan setelah era suku bunga rendah usai krisis keuangan.

Dampak kenaikan suku bunga yang dilakukan Powell saat itu menyebabkan pasar bergejolak dan membuat Trump kesal. "Saya tidak senang dengan kenaikan suku bunganya, tidak. Saya tidak senang," ujar Trump pada Agustus 2018. 

Trump  juga beberapa kali menyampaikan kritik hingga upaya intervensi terkait kebijakan suku bunga yang ditetapkan The Fed sepanjang periode pertamanya. Pada 2020, misalnya, ia mendorong Powell untuk menurunkan suku bunga lebih agresif. 

"The Fed seharusnya lebih pintar dan menurunkan suku bunga lebih rendah, hampit tidak ada inflasi saat ini," kata Trump pada Januari 2020.

Dendam Trump ke Powell pun tak berakhir di periode pertama. Sejak masih mencalonkan diri sebagai presiden AS untuk periode keduanya pada 2024, Trump telah menegaskan, tak akan menominasikan lagi Powell menjadi Ketua The Fed pada Mei 2026.

Pada November 2025, Trump bahkan menyatakan ingin memecat Jerome Powell saat mengkritik kebijakan suku bunga The Fed.  “Dia sangat tidak kompeten. Jika masalah suku bunga ini tidak diperbaiki, orang yang bertanggung jawab akan saya pecat," kata Trump.

Independensi The Fed dan Dampaknya ke Ekonomi Dunia

Independensi The Federal Reserve adalah jangkar stabilitas di seluruh pasar global. The Fed memegang peran sentral dalam sistem keuangan internasional karena dolar AS menjadi mata uang cadangan utama dunia. Setiap keputusan suku bunga dan likuiditas The Fed berdampak langsung pada arus modal, nilai tukar, harga komoditas, hingga stabilitas pasar negara berkembang.

Powell berulang kali menyatakan bahwa jika kebijakan moneter dipersepsikan tunduk pada tekanan politik, kepercayaan pasar global terhadap dolar dan aset AS akan terkikis. Hal ini dapat berdampak pada volatilitas di pasar keuangan global, termasuk tekanan pada mata uang dan pasar negara berkembang hingga krisis lintas negara. 

Mengutip situs World Economic Forum, pasar negara berkembang pada masa lalu telah menunjukkan bahaya dari membiarkan kebijakan moneter dipolitisasi. Bank sentral independen yang mampu menjalankan kebijakan moneter sebagian besar bebas dari campur tangan politik secara historis telah menunjukkan kemampuan yang kuat untuk mengelola inflasi.

WEF pun menekan bahwa dolar AS dan pasar keuangan AS merupakan landasan sistem keuangan global. Hilangnya kepercayaan secara tiba-tiba terhadap keduanya akan menimbulkan gejolak ekonomi dan keuangan yang parah di seluruh dunia.

Kebijakan suku bunga The Fed pun tak hanya memengaruhi ekonomi Amerika Serikat. Dampaknya terasa, termasuk ke Indonesia, terutama dari sisi arus modal, seperti terlihat pada data di bawah ini:

 

Solidaritas Bank Sentral Global

Dukungan pun mengalir untuk Powell, antara lain dari bank sentral global. Sebaliknya, Trump kini dihujani kritik. 

Bank Sentral Eropa dan Bank of England menyatakan bahwa mereka "berdiri dalam solidaritas penuh" dengan Fed dan Powell. “Kemandirian bank sentral adalah landasan stabilitas harga, keuangan, dan ekonomi demi kepentingan warga negara yang kami layani,” kata para bankir bank sentral pada Selasa (13/1) dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Bloomberg.

Respons terkoordinasi ini menggarisbawahi kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa otonomi moneter di dalam bank sentral terpenting di dunia ini sedang diotak-atik. Tindakan kolektif semacam itu biasanya dikhususkan untuk keadaan darurat global seperti krisis tahun 2008 dan pandemi, bukan untuk membela seorang pejabat di bank sentral tertentu.

Bahkan sebelum muncul video pernyataan Powell, ancaman terhadap The Fed dan dolar AS sebagai jangkar sistem keuangan global telah mendorong beberapa pihak untuk memberikan komentar.

Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem menyatakan dukungan penuh kepada Powell. Ia menyebut Powell selalu melakukan pekerjaan yang sangat baik saat membimbing The Fed mengambil kebijakan moneter berdasarkan bukti, bukan politik.

Para kepala bank sentral lainnya, termasuk Presiden ECB Christine Lagarde telah berulang kali menyoroti pentingnya independensi kebijakan moneter dan membela serta memuji Powell.

Presiden Bundesbank Joachim Nagel juga  menyebut independensi bank sentral sebagai "prasyarat untuk stabilitas harga dan aset yang berharga."

"Dengan latar belakang ini, perkembangan terbaru di AS terkait Ketua Fed menimbulkan kekhawatiran," katanya.

 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Reza Pahlevi

Cek juga data ini