Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan menarik investasi infrastruktur AI ketika Singapura dan Malaysia mempercepat pembangunan koridor digital Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ). Koridor ini menggabungkan keunggulan Singapura sebagai pusat konektivitas dan layanan digital, dengan ketersediaan lahan, listrik, dan kapasitas pembangunan di Johor, sehingga semakin menarik bagi investor hyperscale dan penyedia layanan AI.

Di sisi lain, Indonesia baru menyepakati studi bersama dengan Singapura untuk mengembangkan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) sebagai pusat digital dan data center. Sejumlah investasi memang telah berjalan di Batam, namun pelaku industri menilai dua hingga tiga tahun ke depan menjadi periode penentu apakah Indonesia mampu menjadi pilar ketiga dalam koridor digital Singapura-Johor-BBK atau hanya menjadi pasar bagi teknologi AI yang infrastrukturnya dibangun di negara lain.

Persaingan itu tidak lagi semata-mata soal membangun pusat data. Investor kini mempertimbangkan kesiapan seluruh ekosistem, mulai dari pasokan listrik berkapasitas besar, energi rendah karbon, konektivitas kabel bawah laut, kemudahan perizinan, hingga pengembangan semikonduktor dan talenta digital. Negara yang mampu menyediakan seluruh komponen itu lebih cepat akan menjadi tujuan utama investasi AI global.

Riset bertajuk Powering the Future: Advancing Green Data Centers in Indonesia (2026) menunjukkan kapasitas pusat data Indonesia sekitar 456 megawatt (MW), jauh di bawah Singapura 1,4 gigawatt (GW) lebih dan Malaysia 1,3 GW. 

Konsorsium yang mencakup Microsoft, Tata Communications, Singapore Telecommunications, juga tengah membangun kabel bawah laut I-2SEA sepanjang 3.600 km yang menghubungkan India dengan Malaysia dan Singapura untuk mendukung beban kerja AI, cloud, dan hyperscale. Kabel ini akan memiliki stasiun pendaratan di Machilipatnam, Pradesh, lokasi yang juga dipilih Meta dan induk Google untuk membangun pusat data, dan diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal keempat 2029.

Merujuk pada TeleGeography, Singapura memiliki jaringan kabel bawah laut internasional yang sangat padat dan terhubung langsung ke berbagai pusat data global di Asia, Amerika, dan Eropa:

Kabel bawah laut Singapura
 

Sementara Malaysia, khususnya Johor, menjadi lokasi pembangunan kapasitas komputasi berskala besar. Malaysia menyetujui sekitar RM 114,7 miliar investasi data center pada periode 2021–2023, termasuk Microsoft US$ 2,2 miliar, Google US$ 2 miliar, dan Oracle US$ 6,5 miliar.

Perbandingan pusat data
 

Menyikapi keunggulan kedua tetangga itu, Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma menilai posisi Indonesia saat ini adalah penantang dengan potensi besar, tetapi belum menjadi pilihan pertama dalam hal kecepatan pembangunan dan kemudahan eksekusi. "Windows of opportunity-nya sempit. Menurut saya, dua sampai tiga tahun ke depan akan sangat menentukan posisi regional Indonesia," katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (14/7).

Batam: Kartu Truf Indonesia

Batam menjadi aset yang paling dekat dengan garis depan persaingan JS-SEZ. Proyek DayOne bersama Indonesia Investment Authority di Batam memperoleh pembiayaan Rp 6,7 triliun untuk pembangunan tiga pusat data dengan kapasitas total 72 MW. Microsoft pun membuka region cloud Indonesia Central sebagai bagian dari komitmen investasi US$ 1,7 miliar.

Pada Pertemuan Tingkat Menteri Keenam Kelompok Kerja Sama Ekonomi Bilateral Indonesia-Singapura (Six Bilateral Economic Working Groups) tanggal 9 Juni 2026, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di sektor teknologi dan melakukan studi bersama pengembangan BBK sebagai pusat digital dan data center, dengan sorotan khusus pada proyek-proyek di Batam dan Bintan.

Pengelola Nongsa Digital Park di Batam pun merencanakan pengembangan hingga 13 fasilitas data center dengan pasokan daya sekitar 800 MW, meski angka ini masih berupa rencana pengembangan kawasan yang harus dibuktikan melalui realisasi proyek.

Kerja sama lintas-batas juga berjalan lewat jalur lain: Persidangan Sosek Malindo ke-22 di Batam pada 22-25 Juni mempertemukan pemangku kepentingan dari Kepulauan Riau, Riau, Johor, dan Melaka untuk membahas kerja sama pembangunan sosial-ekonomi kawasan perbatasan. Ini relevan dengan gagasan SIJORI (Singapura-Johor-Riau) yang pertama kali diteken pada 1994. Menurut Hendra, SIJORI perlu dihidupkan kembali dalam bentuk SIJORI 2.0:

Sijori
 

Model itu memungkinkan Indonesia tidak sekadar menjadi lokasi limpahan kapasitas dari Singapura, tetapi memperoleh porsi bernilai tinggi seperti AI compute, cloud services, cybersecurity, dan operasi jaringan. “Indonesia tidak harus mengalahkan Singapura atau Malaysia dengan meniru model mereka. Kita harus menawarkan fungsi yang tidak dapat mereka sediakan sendiri,” ujar Hendra.

Menurut laporan PT DCII, sektor data center Indonesia tumbuh rata-rata 33% per tahun selama 2020-2023. Pada 2024, nilai pasar diperkirakan mencapai US$ 3,7 miliar (Rp 57,7 triliun), didukung oleh total investasi sekitar US$ 634 juta (Rp 9,8 triliun).

Investasi data center
 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengatakan, Indonesia telah mengantongi rencana investasi pusat data dengan kapasitas mencapai 1,3 GW. “Kapasitas terpasang sekarang setara 580 MW. Yang in the pipeline untuk investasi setara 1,3 GW,” katanya, akhir pekan lalu (10/7).

Kabel Bawah Laut Jadi Penentu, Semikonduktor Mulai Dibangun

Indonesia harus bergerak lebih cepat membangun infrastruktur listrik, kabel bawah laut, pusat data dan kepastian investasi. Singapore EDB mencatat Nongsa Digital Park di Batam telah terhubung melalui 13 kabel serat optik internasional, dengan dua kabel bawah laut tambahan dalam pengembangan.

Sebaliknya, Singapura sudah lama menjadi submarine cable hub internasional dengan koneksi ke berbagai benua. Malaysia memanfaatkan kedekatan geografisnya dengan Singapura untuk memperoleh manfaat konektivitas.

Kabel bawah laut Singapura
 

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menegaskan persaingan telah bergeser. "Bukan lagi soal siapa yang memiliki lahan, tetapi siapa yang mampu menyediakan ekosistem investasi AI yang cepat, andal, dan kompetitif," katanya kepada Katadata.co.id.

Ia menilai Indonesia unggul dari sisi pasar digital terbesar di ASEAN, kebutuhan AI yang terus meningkat, serta potensi energi besar. Namun dibanding Singapura dan Malaysia, Indonesia masih tertinggal dalam kepastian regulasi, kecepatan perizinan, ketersediaan listrik, konektivitas kabel bawah laut, dan kesiapan kawasan industri digital.

Hendra menambahkan bahwa data center sangat boros energi, sehingga IDPRO berharap pasokan listriknya bisa berasal dari sumber terbarukan agar dampak lingkungannya lebih baik.

peluang dan tantangan
 

Menko Airlangga memahami bahwa kabel bawah laut menjadi modal penting untuk menarik investasi pusat data berskala besar. “AI itu kuncinya ekosistem digital, yakni green energy dan infrastruktur antarpulau yang sudah dipunya, yaitu fiber optik,” kata dia.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan meresmikan kerja sama landing point baru yang menghubungkan Batam dengan Singapura. Selain itu, Indonesia juga memiliki landing point di Bitung, Sulawesi Utara, yang terhubung ke Amerika Serikat.

Selain itu, BPI Danantara menjalin kerja sama dengan Arm Limited, perusahaan desain cip asal Inggris. Kerja sama ini mencakup desain cip, pengembangan talenta, riset, dan transfer teknologi sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem semikonduktor nasional.

Risiko Menjadi Sekadar Pasar

Bayangkan skenario ini: lima tahun dari sekarang, startup AI di Jakarta tetap harus menyewa komputasi dari data center di Johor atau Singapura, membayar dalam dolar, menanggung tambahan latensi, dan bergantung pada yurisdiksi asing untuk data penggunanya sendiri.

Heru menyebut taruhannya secara langsung: jika Indonesia terlambat bertindak, negara ini berisiko hanya menjadi pasar AI, sementara investasi, pusat data, dan nilai tambah ekonominya dinikmati negara lain. Baginya, dampaknya bukan sekadar kehilangan investasi, melainkan juga hilangnya peluang membuka lapangan kerja, mengembangkan talenta digital, dan membangun kedaulatan teknologi, mengingat AI diproyeksikan menjadi fondasi ekonomi masa depan.

Hendra memetakan risiko itu secara lebih berlapis. Berikut lima konsekuensi yang ia soroti bila pemerintah tidak segera bergerak:

Potensi dampak
 

Yang membuat kelima risiko ini terasa mendesak bukan sekadar besarnya, tetapi kombinasinya: begitu satu hyperscaler menjatuhkan pilihan pada Johor atau Singapura, efek berantai berjalan sekaligus, dan sulit dibalik. Oleh karena itu, Hendra menilai pemerintah perlu segera menyusun National Data Center and AI Infrastructure Roadmap yang memuat target kapasitas listrik dalam satuan megawatt atau gigawatt, jadwal penyambungan listrik, kontrak energi hijau, percepatan perizinan, pengembangan kabel bawah laut, program talenta, hingga standar efisiensi dan keamanan pusat data.

Ukuran keberhasilannya, kata dia, harus jelas: berapa megawatt yang benar-benar beroperasi, bukan berapa banyak rapat atau nota kesepahaman yang ditandatangani. Ia juga menyinggung proses kemudahan berusaha sebagai pekerjaan rumah lain yang belum tuntas dibenahi.

"Kita tidak dapat bergerak dengan kecepatan birokrasi ketika keputusan investasi data center berlangsung dalam hitungan kuartal," ujar Hendra. "Pasar kita sudah tersedia. Investor sudah melihat potensinya. Sekarang yang dibutuhkan adalah kepastian dan kecepatan eksekusi."

Di tengah derasnya investasi hyperscaler ke Malaysia dan kuatnya posisi Singapura sebagai pusat konektivitas digital, Indonesia masih memiliki modal berupa pasar digital terbesar di ASEAN, sumber energi yang beragam, serta posisi strategis Batam yang berhadapan langsung dengan Singapura. Namun modal itu hanya akan menjadi keunggulan jika diikuti eksekusi yang cepat.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia bisa menarik minat investor, minatnya sudah ada, dan pasar digitalnya sudah terbukti sebagai yang terbesar di ASEAN. Pertanyaannya: pada kuartal keempat 2029, ketika kabel bawah laut I-2SEA mulai beroperasi, apakah Batam sudah menjadi simpul dari jaringan komputasi kawasan itu, atau sekadar penonton di seberang selat, menyaksikan investasi dan nilai tambahnya mengalir ke tetangga.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati, Ade Rosman, Antara

Cek juga data ini