Rekosistem Ingin Bantu Produsen Turunkan Sampah 30% di 2029

Hari Widowati
5 Februari 2024, 14:25
Ernest C. Layman
Katadata/Bintan Insani
Ernest C.Layman, CEO dan Co-founder Rekosistem

Indonesia menjadi salah satu negara produsen sampah yang jumlahnya sangat besar. Bahkan, data yang dirilis oleh University of Georgia menyebut Indonesia menjadi produsen sampah terbesar nomor dua di dunia sejak 2015. Volume sampah plastik Indonesia mencapai 187,2 juta ton.

Sementara itu, data lain dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan Indonesia menghasilkan 35,83 juta ton timbulan sampah pada 2022, tertinggi selama periode 2019-2022. Dari volume timbulan sampah tersebut, sebanyak 7,2 juta ton belum terkelola dengan baik. 

Advertisement

Saat ini sudah ada beberapa startup digital yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, salah satunya adalah Rekosistem. Katadata Green mewawancarai Ernest Christian Layman, CEO dan Co-founder Rekosistem untuk membahas lebih lanjut tentang upaya pengelolaan sampah di Indonesia. Berikut ini cuplikannya. 

Bagaimana cerita awalnya Rekosistem ini berdiri?

Kami meluncurkan Rekosistem pada 2021 dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Sebelumnya, kami tidak ingin hanya melakukan kampanye saja untuk meningkatkan kesadaran. Kami ingin memberikan solusi konkret, kemudian hadirlah Rekosistem yang solusinya bisa terus berkesinambungan dan berkelanjutan sejauh organisasi ini tumbuh. Tapi, sebenarnya perjalanan Rekosistem itu sudah dimulai oleh saya dan Mas Joshua (Joshua Valentino, COO dan Co-founder Rekosistem) itu sejak awal 2018. 

Bermula dari keresahan kami terhadap masalah lingkungan dan perkembangan bisnis yang hanya memikirkan aspek ekonominya saja. Kami percaya dengan model bisnis berkelanjutan di mana bottomline itu tidak hanya aspek profitability tetapi kita percaya dengan model three p's atau triple bottomline yakni planet, people, dan profit.

Oleh karena itu, kami mencari model-model yang sesuai dan ketemu dengan model bisnis pengelolaan sampah yang sesuai dan sejalan dengan visi kami untuk membuat bisnis yang etis, bisnis yang berkelanjutan.

Sejak 2018 kami mendapatkan banyak pelajaran. Saya dan Mas Joshua pernah jadi pemulung sampah, jadi driver untuk truk sampah yang kami kumpulkan. Kantor dan rumah tempat tinggal jadi satu, itu kami sewa bersama-sama untuk melakukan riset-riset, merogoh 100% kocek yang kita miliki untuk mendapatkan riset yang sesuai. Ketika diluncurkan pada 2021, jadilah konsep Rekosistem yang seperti sekarang.

Apa target Rekosistem di bidang ESG dan apakah ada target juga untuk mencapai net zero emission, misalnya?

Target pertama, sampai 2029 kami ingin mendukung perusahaan-perusahaan produsen di Indonesia untuk mencapai Extended  Producer Responsibility (EPR). Berdasarkan Permen KLHK Nomor 75 Tahun 2019, setiap produsen itu harus bertanggung jawab terhadap 30% dari sampah produknya, kita ingin bisa mendukung itu. Dengan demikian, di 2030-2040 itu targetnya semakin tinggi, dimulai dari 2029 untuk menurunkan 30% sampah.

Kedua, sama halnya dengan pengelolaan sampah di ekosistem kawasan-kawasan. Berdasarkan Perpres Nomor 97 Tahun 2017 terkait dengan Jakstranas (Kebijakan Strategi Nasional), kami punya target Indonesia itu mengurangi sampah 30% yang masuk ke TPA (tempat pembuangan akhir) dan melakukan penanganan 70% sampah.

Rekosistem juga punya target, jadi kita tidak hanya melihat untuk target net zero emission pada 2060 sebagaimana target pemerintah. Pasti kami ingin mendukung ke arah sana. Kalau dirinci lagi, kami ingin membantu area kawasan mandiri untuk menurunkan sampah pada 2025. Kami juga ingin membantu produsen untuk mengurangi sampah 30% sehingga karbon emisinya lebih rendah. Jadi, target mereka masing-masing bisa tercapai dan target secara kolektif untuk NZE Indonesia bisa tercapai di 2060.

Ernest Layman
Ernest Layman (Katadata/Hufaz Muhammad)



Sekarang sudah punya berapa waste station untuk Rekosistem?

Ini mungkin tercampur bukan hanya Reko Waste Station saja tetapi juga ada drop box dan collection points system, kita hampir 50 titik. Kami beroperasi di Jakarta dan sekitarnya, di Tangerang, di Bandung Barat dan Kota Bandung, kemudian di Surabaya dan sekitarnya.

Belum lama ini Rekosistem meresmikan Reko Hub di Gresik, apa bedanya Reko Hub dengan Waste Station?

Kalau dalam bahasanya itu waste station lebih berinteraksi dengan konsumen, dengan masyarakat, untuk memberikan akses kepada orang-orang untuk memilah sampah, dan mendaur ulang sampah hasil pilahannya. Bentuknya lebih kecil, buat pemrosesannya kapasitasnya lebih terbatas.

Reko Hub itu bisa dibilang apa yang ada di belakang. Setiap sampah-sampah yang dikelola oleh Rekosistem itu akan berakhir di Reko Hub. Tujuannya, Reko Hub ini untuk memastikan semua sampah ini bisa terpilah, dan disalurkan ke industri daur ulang sesuai dengan jenisnya dan permintaannya serta kapasitas yang dibutuhkan.

Makanya di sini aktivitasnya bukan mengedukasi atau campaign ke masyarakat tetapi membuatkan lingkungan kerja yang produktif buat para pekerja di sektor pengelolaan sampah. Memberikan lingkungan kerja yang aman, nyaman, beserta penerapan teknologi karena di Reko Hub kita ada beberapa otomasi dan dilengkapi dengan platform internet of things-nya Rekosistem yang sudah terdigitalisasi di sana, pengupahannya fair (adil) buat para pekerjanya hingga hasil pemulihan sampah yang baik untuk bisa diterima di industri daur ulang.

Apakah Rekosistem bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk bikin Reko Hub atau Waste Station ini?

Pasti kita selalu dalam beroperasi di wilayah kita di manapun pasti kita akan memastikan bahwa itu sejalan dengan target pemerintah kota atau pemerintah provinsi. Salah satu cara untuk memfilternya kita melakukan komunikasi secara reguler dengan dinas lingkungan hidup di pemerintah kota atau pemerintah provinsi setempat.

Pada waktu kita meresmikan Reko Hub di Surabaya, kita juga mengundang Pemerintah Kota Surabaya, Pemkot Gresik, dan Mojokerto. Itu area yang tertarik untuk bisa memiliki Reko Hub lainnya ataupun mengelola sampah secara bertanggung jawab bersama Rekosistem.

Itu lahan untuk Reko Hub disediakan oleh pemda atau bagaimana?

Oke, ada dua jenis. Mayoritas menggunakan lahan swasta, apakah milik Rekosistem atau bekerja sama dengan pemilik lahan. Sekarang kami juga sudah ada kerja sama di mana lahan disediakan oleh pemkot atau pemkab masing-masing. Jadi, tidak 100% dari pemkot dan pemkab, masih sebagian besar swasta.

Perlahan-lahan kami sudah bisa bersinergi dengan pemkot, pemkab, pemprov, dan pemda masing-masing untuk bisa mengelola TPS mereka. Reko-Hub itu kurang lebih seperti TPS. Cuma lebih advance, ada teknologi yang dipakai di situ. Kalau TPS kan biasanya hanya tempat penampungan sampah sementara.

Kalau kita menyebutnya sebagai tempat pemulihan material. Jadi, dari TPS kita ubah menjadi TPM atau material recovery facility (MRF) yang gunanya untuk memisahkan sampah-sampah yang tercampur untuk bisa diterima di industri material.

Setelah beroperasi di Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, apakah ada rencana untuk memperluas operasi sampai ke Luar Jawa, karena di Pulau Jawa mungkin sudah banyak startup climate tech yang beroperasi tapi kalau di luar Jawa mungkin masih banyak tantangannya?

Pastinya ada. Tahun lalu kami mulai mengelola sampah untuk proyek yang ada di luar Jawa, program pengelolaan sampah di Bali hingga ke Labuan Bajo tetapi itu belum menjadi day to day operasional kita. Untuk semester kedua tahun ini, kita berharap bisa menjalankan operasional yang day to day di luar Jawa.

Apakah pulaunya sudah bisa kita sampaikan sekarang, mohon maaf belum, masih rahasia. Tapi, memang kita ada rencana untuk beroperasi di luar Pulau Jawa. Bagaimana caranya berkoordinasi untuk yang di luar Jawa, pastinya strateginya sama. Kami akan mengelola sampah di kawasan atau bekerja sama dengan pemkab atau pemkot atau pemda yang ada di luar Jawa.

Dari sampah yang dikelola Rekosistem, apakah sudah ada penampungnya dan model kerja samanya seperti apa?

Dari 100% sampah yang kami kumpulkan itu sudah ada penampungnya saat ini. Jadi, kalau kami mau menciptakan ekosistem di mana semua sampahnya bisa tersalurkan, kami sudah memiliki mitra.

Kerja sama bisnis lebih ke supply dan demand. Ketika Rekosistem bisa menyuplai sampah sesuai dengan kategori yang dibutuhkan kita mendapatkan bayaran. Ketika Rekosistem membutuhkan tempat pengolahan untuk sampah-sampah yang nonekonomis itu, Rekosistem yang membayar. Jadi, tergantung jenis sampahnya, tonasenya berapa banyak dan siapa mitranya. Tidak semua sampah itu jadi cuan, ada yang sudah tidak ada nilai ekonomisnya dan mengolahnya itu butuh biaya, Rekosistem yang bayar.

Siapa yang mensubsidi? Ya, gedung, rumah-rumah ataupun permukiman yang harus membayar retribusi sampah. Dalam prinsipnya, mengelola sampah itu adalah biaya. Tapi, dalam 100% biaya ada beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, botol, kardus, kertas, minyak jelantah, kaleng, logam, itu memiliki nilai ekonomis. Jadi, kami mendapatkan cuannya itu dari situ. Masyarakat bisa mendapatkan reward poinnya pun dari situ.

Apakah tetap ada biaya? Ada untuk mengelola sampah residu yang sudah tercampur, atau mengelola sampah organik sekarang butuh effort lebih karena nilai ekonominya masih rendah. Meskipun ada metodologi-metodologi yang bisa kami lakukan. Sampah organik itu sekarang bisa kita ubah menjadi kompos kalau secara mandiri walaupun industri kompos rumah tangga sekarang belum ada.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement