Tujuan PepsiCo Sangat Jelas: Tidak Ada Deforestasi, Tidak Ada Konversi Lahan
PepsiCo mengirim sejumlah petani Indonesia untuk belajar dari Thailand, apa tujuannya?
Keripik Lays mungkin menjadi merek makanan terbesar di dunia dan sangat disukai konsumen. Rasanya, teksturnya, penampilannya. Budaya menggoreng kentang di rumah sudah ada sejak lama, kami hanya punya dapur lebih besar untuk membuatnya.
Tapi semuanya dimulai dari kentang. PepsiCo memiliki varietas genetiknya sendiri di banyak negara untuk memastikan kentang tersebut sempurna dari segi DNA, tetapi kita membutuhkan petani untuk menanamnya dengan cinta dan perhatian agar berkualitas. Ketika kami masuk ke negara baru, ada proses edukasi yang kami lakukan bersama petani negara tersebut untuk membantu mereka belajar cara menanam kentang Lays sebaik mungkin.
Tanah, air, dan jika memungkinkan genetika yang tepat untuk memaksimalkan hasilnya. Para petani belajar paling baik dari sesama petani. Saat mereka pergi melihatnya, mereka mencelupkan jari mereka ke ladang lain dan petani itu memberitahu mereka ‘inilah yang berhasil’, maka itu seperti sihir.
Itulah mengapa kami berusaha melakukan hal-hal seperti membawa petani ke Thailand untuk berbincang dengan petani lain yang telah berhasil menanam kentang selama bertahun-tahun.
Pelatihan ini membantu seluruh ekosistem pertanian di Indonesia dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Petani mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi, mereka menghasilkan lebih banyak uang, dan mereka mampu menekan biaya dengan menggunakan input dalam jumlah tepat. Bukan hanya untuk satu tahun, tetapi untuk jangka panjang.
Kami mengajak mereka untuk melihat langsung dan seiring waktu mereka menjadi petani yang lebih baik. Di banyak negara, kami memiliki apa yang kami sebut sebagai demo farms atau lahan percontohan. Pada suatu saat, saya yakin kami tidak akan membawa mereka ke Thailand, kami akan membawa mereka ke seorang petani Indonesia yang sukses menanam kentang beberapa tahun.
Pabrik PepsiCo di Indonesia, di Cikarang menggunakan energi bersih dalam operasinya. Saya ingin tahu energi bersih apa yang dimanfaatkan dan berapa besar implementasinya? Mungkin berapa persen dari total energi yang digunakan?
Ya, sekali lagi, pabrik kami dibangun saat kembalinya kami ke negara ini dengan nilai sekitar US$ 200 juta. Kami merancangnya sangat ramah lingkungan sejak dari awal. Sebab, ketika kami membangun pabrik baru, kami menyebutnya sangat ‘Sustainable from the Start’ (berkelanjutan sejak awal). Kami ingin membangunnya dengan cara yang dapat membantu tujuan kami pada 2030.
Jadi, itu telah 100% menggunakan listrik terbarukan. Itu dicapai melalui berbagai kombinasi dari sertifikat terbarukan, RECs (renewable energy certificate), dengan biomassa. Ada sebuah ketel uap (boiler) bertenaga biomassa, khususnya yang kami gunakan untuk membuat keripik Lays. Kami memiliki sejumlah perjanjian jual-beli listrik. Jadi kami memiliki portofolio penggunaan listrik terbarukan. Tapi sudah 100% hari ini.
Air juga menjadi topik yang penting, jadi kami memiliki manajemen air yang sangat kuat. Bagi kami, kami memiliki visi bahwa pada 2030 kami akan mencapai Net Water Positive. Artinya, jumlah air yang kami gunakan untuk membuat produk akan lebih rendah dari yang kami pulihkan ke daerah aliran sungai, ke area di mana air diperoleh.
Kami melakukannya dengan cara memastikan bahwa pabrik beroperasi sangat efisien. Jadi kami menerapkan praktik terbaik di pabrik sejak awal. Selain itu, kami juga memiliki proyek pemulihan cadangan air. Saya harus mengeceknya agar tidak salah menyebutkan, jadi kami proyek restorasi, pemulihan cadangan air di Sukabumi. Kami merestorasi 7.000 benih di area seluas 30 hektare. Ini adalah contoh proyek pemulihan cadangan air yang sudah dijalankan.
Itu telah memulihkan kembali cadangan air dalam jumlah sangat besar. Ke depan, kami ingin melihat bagaimana cara mengurangi penggunaan air sekaligus memulihkan cadangan air tersebut untuk mencapai Net Water Positive.
Kami juga bekerja sama dengan perusahaan air minum dan ini sangat inovatif. Kami bekerja sama dengan mereka untuk menggunakan air daur ulang dari sistem mereka untuk hal-hal seperti mencuci kentang. Jadi, penggunaan air bersih benar-benar rendah dan sangat efisien.
Begitu juga soal limbah. Kami selalu mencari cara untuk menggunakan ulang limbah sebanyak mungkin, mengurangi limbah dan menggunakannya kembali sebanyak yang kami mampu. Anda benar, pabrik ini adalah salah satu contoh nyata di seluruh sistem kami di seluruh dunia perihal efisiensi, keberlanjutan, dan menjadi pengelola sumber daya yang baik.
Melanjutkan perihal sampah dari pabrik, itu akan menjadi limbah organik yang mungkin dapat digunakan untuk kompos dan lain sebagainya, apakah PepsiCo memiliki program untuk menjalankannya?
Kami memulainya dengan meminimalisasi limbah, karena dengan mengurangi, mengurangi, mengurangi, ini adalah pendekatan terbaik. Benar bahwa limbah keluar dari pabrik kami, dari kemasan, limbah air, dan semuanya. Jadi kami selalu berupaya mengurangi lalu kami berupaya menggunakan kembali di manapun kami bisa.
Jadi hal-hal seperti boiler bertenaga biomassa menggunakan limbah yang biasanya berasal dari lingkungan setempat. seperti limbah pertanian atau semacamnya.
Di pabrik kami di Inggris misalnya, kami mengumpulkan kulit-kulit kentang dan memasukannya dalam anaerobic digester (pengurai limbah tanpa oksigen), lalu mengubahnya menjadi pupuk yang kemudian disalurkan kepada petani untuk digunakan di ladang mereka untuk menanam kentang. Jadi ini adalah sistem sirkular yang sangat baik. Sekali lagi, apa yang kami lakukan tergantung pada lokasi kami, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah.
Sekali lagi, kemampuan untuk memanfaatkan air daur ulang dalam kegiatan seperti mencuci merupakan pendekatan yang sangat inovatif, yang dapat terwujud berkat kerja sama baik dengan perusahaan air minum setempat.
Mengetahui kerja Anda dan Tim PepsiCo, saya membayangkan itu pasti membutuhkan biaya lebih banyak, untuk membuatnya berkelanjutan. Ini ada biaya tambahan. Bagaimana untuk berkompromi dengan itu? Satu sisi harus ramah lingkungan dan di sisi lain produk tersebut harus terjangkau harganya
Keterjangkauan bagi konsumen di seluruh dunia, keterjangkauan adalah isu besar dan kami sangat menyadari pentingnya keterjangkauan dan apa yang perlu kami lakukan agar bisnis kami bisa sukses. Kami juga menyadari, untuk mencapai kesuksesan, bisnis kami harus berkelanjutan.
Jika para petani tidak bisa menanam produk yang kita butuhkan di Indonesia, seperti jagung, kelapa sawit, atau kentang, bisnis kita tidak akan berjalan. Jadi kita harus melakukannya keduanya. Tentu saja, produk kita harus terjangkau dan kita harus memastikan bahwa pertumbuhan kita berkelanjutan.
Kami berada di Indonesia untuk jangka panjang. Jadi bukan hanya dari pasokan, tetapi juga dari sudut pandang bisnis dan operasional, kami harus memastikan produk kami terjangkau, inovatif, dan berkualitas tinggi sehingga semua orang di ruangan ini membeli lebih banyak dan menikmatinya.
Kami harus melakukannya dengan cara berkelanjutan hingga ke seluruh rantai pasok kita. Baik itu air atau pertanian, harus berkelanjutan. Ini berlaku di seluruh dunia, jadi kita harus melakukan keduanya dan tidak memisahkannya. Itulah yang membedakan PepsiCo.
Sekali lagi, PepsiCo Positive bukanlah CSR yang terpisah dari bisnis. Kami melihat dewan direksi kami, CEO kami, memahami pentingnya membangun bisnis berkelanjutan. Untuk melakukannya, Anda harus memastikan seluruh rantai pasok dan semua orang di dalamnya juga berkelanjutan.
PepsiCo banyak menggunakan plastik dan sebagainya, bagaimana PepsiCo mengelola produk pascapakai atau limbah plastiknya? Bagaimana upaya pengumpulannya berjalan?
Kami memiliki visi bahwa kemasan tidak akan pernah menjadi limbah. Setidaknya itu aspirasi kami di seluruh dunia. Namun tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian, butuh kerja sama. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), perusahaan, dan konsumen harus berperan membantu menciptakan ekonomi sirkular untuk kemasan. Oleh karena itu, kami bekerja sangat erat dengan organisasi di Indonesia di seluruh rantai nilai.
Kami bekerja sama erat dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) untuk program pengumpulan (kemasan pasca pakai) dalam rangka EPR (extended producers responsibility) dan Bali Waste Cycle, itu adalah organisasi yang bekerja sangat erat karena kami butuh mitra.
Semua langkah itu harus dijalankan untuk mewujudkan ekonomi sirkular. Jika salah satunya terlewatkan atau tidak terlaksana, maka sistemnya akan runtuh.
Tapi di level global, pada 2024 yang merupakan data terbaru, kami telah mengurangi penggunaan plastik baru dalam lingkup kami sebesar lima persen secara tahunan. Jadi kami memiliki sekitar 15% kandungan daur ulang dalam lingkup kami.
Kami sedang berupaya mengurangi, kami berupaya menggunakan lebih banyak kandungan bahan daur ulang, dan bekerja sama dengan lembaga seperti Ellen MacArthur Foundation secara global, serta Bali Waste Cycle dan IPRO secara lokal agar dapat bekerja sama untuk menciptakan ekonomi sirkular.
Dukungan pemerintah seperti apa yang menurut Anda diperlukan untuk mendukung penggunaan bahan daur ulang dalam kemasan?
Pemerintah memainkan peran sangat penting dalam menetapkan kerangka kebijakan untuk ekonomi sirkular terkait kemasan. Apakah Anda memiliki infrastruktur untuk mengumpulkan kemasan? Apakah Anda memiliki sistem EPR yang dirancang dengan baik dan berfungsi? Apakah anda memiliki persyaratan kandungan daur ulang? Apakah Anda berpikir secara luas atau hanya berpikir sempit perihal bahan?
Jadi, ada serangkaian hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk membantu menetapkan kerangka kebijakan yang kemudian membantu memobilisasi seluruh ekosistem. Sekali lagi, tidak ada perusahaan yang bisa melakukannya sendirian.
Tahun 2030 hanya empat tahun dari sekarang, Anda menyebutkan sejumlah target tapi apakah anda mengevaluasi visi tersebut dan apakah anda telah memiliki catatan, mungkin secara tidak resmi, melampaui 2030?
Kami melaporkan perkembangan setiap tahun dalam mencapai setiap tujuan yang telah ditetapkan. Anda dapat menemukan laporkan terakhir di situs kami, kami melaporkannya setiap tahun. Versi terbaru baru akan keluar beberapa bulan yang mana akan merangkum semua data dari 2025.
Sebagian telah dirilis, sebagian lagi masih dalam proses. Kami telah mencapai beberapa target air kami lebih awal. Meskipun demikian, kita akan menghadapi tantangan 2030 dan kita akan memantau kemajuan kita. Jadi kita sangat transparan. Orang-orang dapat melihat dimana kami, apa yang kami kerjakan, apa yang menjadi tantangan-tantangan.
Terkait rencana setelah 2030, kami masih fokus pada target 2030. Ketika sudah lebih dekat tentu kami akan mulai memikirkannya. Kami belum memulai untuk setelah 2030. Seperti yang Anda katakan, itu masih panjang, 4,5 tahun lagi.
