Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menyatakan bahwa Pertamina siap mengambil alih blok migas yang telah habis masa kontrak diantaranya blok Mahakam dan Sangasanga yang memiliki cadangan besar

KATADATA ? Hingga 2025, masa production sharing contract 35 blok minyak dan gas (migas) akan berakhir. Kepala Unit Pengendalian Kinerja Kementerian ESDM Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan Pertamina akan mendapat prioritas untuk mengambil alih blok migas tersebut. Syaratnya, blok migas memiliki cadangan besar dan dikelola perusahaan milik asing.
 
Menurut Widhyawan hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 15 tahun 2015 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi yang Akan Berakhir Kontrak Kerja Samanya. Tujuannya untuk meningkatkan peran perusahaan migas nasional di sektor migas.
 
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menyatakan bahwa Pertamina siap mengambil alih ladang-ladang migas yang segera habis masa kontraknya. Saat ini, Pertamina hanya mengelola 24 persen ladang migas nasional, padahal perusahaan pelat merah di negara lain memiliki persentase pengelolaan jauh lebih besar. Contohnya seperti di Malaysia sebesar 35 persen, Norwegia (48%), China (85%), dan Arab Saudi (99%). Menurutnya besar porsi pengelolaan berpengaruh atas tingkat produksi migas Pertamina.
 
Ada tiga aspek yang menjadi pertimbangan Pertamina dalam mengambil alih blok migas. Pertama, dari jumlah cadangan migas terbukti maupun yang masih dalam prospek. Kedua, berdasar pola operasi migas blok tersebut memungkinkan untuk diintegrasikan dengan lapangan Pertamina sehingga pengelolaan lebih efektif dan efisien. Ketiga, berdasarkan aspek keuangan perusahaan, blok yang akan diambil alih diharapkan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Saat ini, sudah ada dua blok yang kontraknya segera berakhir dan diminati Pertamina untuk diambil alih, yaitu blok Mahakam (2017) dan blok Sanga-sanga (2018).

Leafy Anjangi
Artikel Terkait
Besaran bonus tanda tangan itu dinilai memberatkan karena kontraktor juga butuh dana investasi untuk menjaga produksi.