Solusi Krisis Pangan, Urban Farming di Kota

Oleh Andrea Lidwina, 14/5/2020, 16.26 WIB

Urban farming dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbuka, seperti halaman rumah dan kebun komunitas.

Unduh Infografik
Share

Di tengah ancaman krisis pangan, pemerintah menganjurkan masyarakat kota untuk berkebun (urban farming). Kegiatan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbuka, seperti halaman rumah dan kebun komunitas, melalui beberapa metode.

(Baca: Krisis Pangan Akibat Covid-19)

Pertama, penanaman secara vertikal atau bertingkat yang disebut vertikultur. Metode ini hanya membutuhkan botol atau pipa untuk menanam sayuran daun, seperti bayam, sawi, dan seledri. Kedua, akuaponik yang mengintegrasikan dengan budidaya hewan air. Tanaman yang cocok dengan metode ini di antaranya selada, kangkung, dan pakcoy.

(Baca: Krisis Pangan Dunia Menghantui Indonesia)

Ketiga, penanaman tanpa tanah atau hidroponik. Tanaman, seperti timun, melon, dan rempah-rempah, hanya membutuhkan air dan unsur hara. Keempat, wall gardening. Metode ini serupa dengan vertikultur, tetapi menggunakan dinding sebagai media tanamnya. Tomat, cabai, umbi-umbian, dan tanaman hias cocok ditanam dengan metode ini.

(Baca: Luhut Tegaskan Tak Ada Ancaman Krisis Pangan dalam Waktu Dekat)

Urban farming memberikan manfaat bagi pelakunya dan lingkungan, antara lain menghasilkan bahan pangan sehat untuk konsumsi rumah tangga, menambah pendapatan dalam skala mikro, mengurangi polusi udara di lingkungan tempat tinggal, dan mengurangi sampah rumah tangga.