Menciptakan Energi dari Sampah Menumpuk

Tim Publikasi Katadata
12 Januari 2026, 15:02

Gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan di berbagai daerah mendorong pemerintah mempercepat terobosan pengelolaan berbasis teknologi. Dalam Retret Hambalang pada Selasa (6/1), pemerintah menegaskan akselerasi proyek waste to energy melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini ditempatkan sebagai bagian dari strategi hilirisasi sekaligus transisi energi nasional, terutama di wilayah dengan krisis sampah paling mendesak.

PSEL dirancang dalam skala nasional dengan target pembangunan di 34 kabupaten/kota. Fokus utama proyek ini adalah daerah yang memiliki timbunan sampah ekstrem, yakni mencapai atau melebihi 1.000 ton per hari. Sampah yang selama ini menjadi beban lingkungan diharapkan bertransformasi menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.

Secara garis besar, pemerintah menargetkan proses groundbreaking proyek PSEL berlangsung pada Januari hingga Maret 2026. Fase konstruksi kemudian berlanjut hingga fasilitas siap beroperasi penuh pada 2028. Dari sisi pembiayaan, setiap proyek diperkirakan membutuhkan investasi antara Rp2,5 triliun hingga Rp3,2 triliun.

Di samping memperbaiki tata kelola sampah, pembangunan PSEL juga diproyeksikan menyerap sekitar 2.000–3.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, di setiap lokasi proyek.

Teknologi PSEL memanfaatkan sampah non-daur ulang yang selama ini berakhir di tempat pembuangan terbuka. Melalui proses termal dan konversi energi, sampah tersebut dapat diolah menjadi listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Dengan pendekatan ini, ketergantungan pada energi fosil, khususnya batu bara dapat ditekan secara bertahap.

Dari sisi lingkungan, keberadaan PSEL diharapkan mampu mengurangi penumpukan sampah terbuka yang selama ini memicu pencemaran udara, tanah, dan air. Pengelolaan sampah yang lebih terkontrol juga berpotensi menekan risiko kesehatan masyarakat di sekitar tempat pembuangan akhir. Sementara dari perspektif energi, tambahan pasokan listrik dari sampah akan memperkuat bauran energi nasional sekaligus mendukung target kemandirian energi.

Dengan skema terintegrasi antara pengelolaan lingkungan dan penyediaan energi, PSEL diposisikan sebagai solusi ganda atas dua persoalan struktural. Yakni, krisis sampah perkotaan dan kebutuhan energi berkelanjutan. Pemerintah berharap proyek ini tidak hanya menjadi infrastruktur teknis, tetapi juga fondasi menuju ekonomi sirkular dan transisi energi yang lebih inklusif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini