Tetapkan BI-Rate 4,75%, Upaya BI Menjaga Rupiah

Try Surya Anditya
Oleh Try Surya Anditya - Tim Publikasi Katadata
26 Januari 2026, 17:14

Bank Indonesia (BI) membuka 2026 dengan sikap moneter yang terukur. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75%.

Keputusan tersebut mencerminkan upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global, sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi domestik yang berkelanjutan.

Gubernur BI menegaskan, arah kebijakan moneter tetap difokuskan pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi, tanpa mengabaikan dukungan terhadap pemulihan dan ekspansi ekonomi. Tekanan eksternal masih membayangi, mulai dari dinamika kebijakan moneter global, volatilitas pasar keuangan internasional, hingga pergerakan arus modal asing yang cenderung fluktuatif.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI mengintensifkan berbagai instrumen intervensi. Di pasar offshore, BI aktif melakukan intervensi melalui Non-Deliverable Forward (NDF). Sementara di dalam negeri, langkah stabilisasi dilakukan melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan intervensi di pasar spot.

Selain itu, BI juga melanjutkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta memperkuat operasi moneter yang bersifat pro-market guna menjaga kecukupan likuiditas dan efektivitas transmisi kebijakan.

Langkah stabilisasi ini berjalan seiring dengan upaya membuka ruang pertumbuhan ekonomi. BI memprakirakan inflasi 2026–2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5% ±1%. Dengan inflasi yang rendah dan ekspektasi yang terjaga, peluang penurunan suku bunga kredit terbuka, sehingga dapat mendorong pembiayaan sektor riil dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Dari sisi nilai tukar, rupiah tercatat berada di level Rp16.945 per dolar AS pada 20 Januari 2026. Posisi ini melemah 1,53% secara point to point (ptp) dibandingkan akhir Desember 2025. Tekanan terhadap rupiah berasal dari ketidakpastian pasar keuangan global, aliran keluar modal asing, serta meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Kendati demikian, BI memandang prospek rupiah ke depan tetap terjaga. Nilai tukar diprakirakan stabil dan cenderung menguat, ditopang oleh imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi nasional yang positif. Dengan bauran kebijakan yang konsisten, BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan di tengah lanskap ekonomi global yang masih penuh tantangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Arif Hulwan

Cek juga data ini