INFOGRAFIK: Indonesia dalam Sorotan Lembaga Keuangan Global
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah bertemu untuk kedua kalinya dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 11 Februari 2026. Pertemuan ini membahas setidaknya tiga rencana perbaikan mekanisme BEI. Mulai dari membuka data pemegang saham di atas 1%, penyediaan data investor yang lebih baik, dan implementasi kenaikan saham publik dari 7,5% ke 15%.
“Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integritas pasar kita ke depan,” kata Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu, 11 Januari kemarin.
Perbaikan transparansi dan tata kelola bursa menjadi penting usai MSCI menunda rebalancing indeks untuk bursa Indonesia karena alasan transparansi data kepemilikan saham. Bahkan, MSCI menyebutkan adanya potensi reklasifikasi indeks bursa Indonesia dari emerging market ke frontier market.
Penilaian MSCI ini berbuntut pada banyaknya lembaga keuangan lain yang memberikan evaluasi untuk bursa Indonesia. Mulai dari Nomura Inc. dan UBS yang menurunkan peringkat saham Indonesia dari overweight ke netral.
Moody’s juga mengevaluasi outlook ekonomi Indonesia dari stabil ke negatif, meski peringkat kreditnya masih tetap berada di level Baa2. Evaluasi Moody’s ini dilakukan karena kondisi ekonomi Indonesia yang tinggi ketidakpastian kebijakan, risiko fiskal dan tata kelola regulasi yang bermasalah.
Program makan bergizi gratis dapat sorotan negatif karena dinilai memperburuk ruang fiskal, ini juga berlaku untuk belanja publik lainnya. Moody’s juga menilai variabel seperti pendirian Danantara juga memicu ketidakpastian investasi. Menurut Moody’s, komunikasi kebijakan yang buruk dan serba mengagetkan dari pemerintah juga membuat volatilitas harga saham dan rupiah meningkat.
Setelah IHSG kocar-kacir akibat banyaknya negatif sorotan itu, data makro ekonomi Indonesia justru tampilkan kondisi sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11%, kemiskinan turun menjadi 8,57%, inflasi 2,92% yang masih dalam batas wajar, serta turunnya persentase pengangguran ke angka 7,47%.
