KOMIK: Defisit Bengkak Akibat Krisis Selat Hormuz
Pengelolaan keuangan pemerintah dalam tekanan sejak krisis di Timur Tengah. Hingga kuartal I-2026, defisit APBN sudah mencapai Rp 240,1 triliun. Nilai ini jauh lebih tinggi dari Rp99,8 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
Pemerintah memutuskan untuk menahan harga BBM dan LPG subsidi meski harga global melonjak. Ini menjadi alasan utama bengkaknya defisit di awal 2026.
Meski begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan tarif atau menerapkan kebijakan pajak baru dalam waktu dekat. Hal ini dilakukan untuk memastikan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
“Fokus pemerintah adalah mengoptimalkan penerimaan melalui perbaikan administrasi dan pengawasan, sehingga potensi pajak yang belum tergarap dapat dimaksimalkan tanpa harus menaikkan tarif,” kata Purbaya pada Rabu, 29 April 2026.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, juga memaparkan bahwa penghematan tengah dilakukan salah satunya dengan meniadakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di hari Sabtu.
“Lima hari dalam seminggu, empat kali dalam sebulan itu bisa menghemat Rp 4 triliun. Setahun tentu saja lebih dari Rp 50 triliun kita bisa menghemat,” kata Juda 27 April lalu.
